Jakarta, Gontornews — Di Indonesia penggunaan asbes sebagai atap rumah masih sangat masif. Namun rupanya penggunaan asbes memiliki dampak negatif, terutama bagi kesehatan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebenarnya sendiri telah memperingatkan dampak buruk dari penggunaan asbes di negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia.
Asbes putih merupakan karsinogen yang dapat menyebabkan berbagai kanker termasuk mesothelioma dan penyakit lainnya. Terlebih Indonesia adalah wilayah rawan gempa dan banjir, sehingga asbes dapat dengan mudah menjadi puing-puing.
penelitian medis telah lama membuktikan bahwa chrysotile dapat menyebabkan penyakit yang berhubungan dengan paparan asbes.
Berbagai penelitian internasional menunjukkan bahwa dalam setiap 20 ton asbes yang digunakan, ada satu orang yang akan mati.
Dengan tolok ukur seperti, diperkirakan hampir 6.000 orang Indonesia setahun kini berpotensi mengidap kanker yang berhubungan dengan asbes.
Tapi informasi dan pendidikan publik mengenai hal ini masih sangat minim.
Salah satu korban dari bahaya asbes adalah Sriyono (46), seorang pekerja yang telah bekerja selama 25 tahun di sebuah pabrik asbes.
Sriyono kini menderita kanker paru-paru stadium akhir. Dia tak bisa lagi bekerja karena penyakitnya tersebut.
Penyakit kankernya telah menggerogoti berat badan dan kekuatan tubuhnya. Beratnya kini hanya 37 kilogram, kurus, tinggal tulang-belulang.
“Dadaku terasa sangat sesak. Saya tak bisa bernapas dengan baik. Ketika saya mencoba melakukan sesuatu, saya gampang lelah,” katanya.
Sriyono adalah satu-satunya orang Indonesia yang menerima kompensasi untuk penyakit yang berhubungan dengan asbes. Namun baginya, gantirugi sekitar Rp 70 juta rupiah itu bukannya menghibur.
“Saya begitu sangat marah,” ujarnya.
Menurutnya, sampai ia berhenti bekerja, perusahaan tempat ia belerja tidak peduli. Tidak ada peralatan keselamatan kerja yang memenuhi standar. [Devi Lusianawati/BBC News]























