Depok, Gontornews — Akhlak mulia Rasulullah SAW memang sudah diakui semua orang. Rasulullah SAW selalu menjaga ukhuwah islamiyah antarsesama dengan tidak mengabaikan hal kecil seperti mengucapkan salam.
“Bahkan kepada orang yang belum dikenalnya sekalipun,” tambah Budi Ashari Lc, lulusan terbaik dengan predikat cumlaude dari Fakultas Hadits dan Studi Islam di Universitas Islam Madinah, kepada Gontornews.com.
Meski ia adalah seorang pemimpin umat Islam, namun Rasulullah SAW tidak pernah angkuh dan selalu menjadi orang yang pertama kali memberi salam kepada kerabat, sahabat, dan orang di sekitarnya. Dari Abdullah bin Al Harits bin Jaz`i RA dia berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang paling banyak senyumannya selain Rasulullah SAW.” (HR Tirmidzi).
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, “Kamu tidak dapat memasuki surga kecuali bila kamu beriman. Imanmu belumlah lengkap sebelum kamu berkasih sayang satu sama lain. Maukah ku beritahukan kepadamu sesuatu yang, jika kamu kerjakan, kamu akan menanamkan dan memperkuat kasih sayang diantara kamu sekalian? Tebarkanlah ucapan salam satu sama lain, baik kepada yang kamu kenal maupun yang belum kamu kenal.” HR Muslim.
Tidak hanya itu, saat sedang berbincang dengan orang lain, Rasulullah SAW tidak pernah sedikitpun memalingkan pandangannya, apalagi membelakangi orang yang mengajaknya bicara. Rasul SAW selalu menatap wajah sahabatnya dengan penuh perhatian. Hingga banyak dari mereka yang justru sampai tidak percaya diri saat ditatap tajam olehnya.
Artinya, untuk mencapai derajat kehormatan yang tinggi, seseorang juga harus memulainya dengan menghormati orang lain terlebih dahulu. Tanpa membedakan suku, agama, dan status sosialnya di masyarakat.
Sama halnya saat berinteraksi dengan saudara non Muslim. Rasulullah SAW tetap memerintahkan kita untuk terus menjaga silaturahim dengan kerabat tak seiman.
Sebagaimana dikisahkan dalam Surat Mumtahanah, tentang Asma binti Abu Bakar yang dikunjungi ibunya Qatilah, seorang penyembah berhala. Kala itu, Qatilah yang sudah bercerai dengan Abu Bakar pada masa jahiliyah ingin mengunjungi putrinya Asma dengan membawa oleh-oleh.
Namun, Asma tidak mengizinkan Qatilah masuk ke dalam rumah karena Qatilah masih menyembah berhala. Kemudian Asma meminta bantuan seseorang untuk menemui Rasulullah SAW. Orang tersebut diminta untuk bertanya kepada Rasulullah SAW tentang boleh tidaknya Asma menerima kunjungan ibunya yang musyrik.
Setelah beberapa waktu, Asma memperoleh jawaban dari Rasulullah SAW. Rasulullah SAW mengatakan bahwa Asma harus memperlakukan ibunya dengan baik, sekalipun ibunya seorang yang kafir.
Kisah di atas menunjukkan bentuk kehati-hatian para sahabat karena takut dirinya melakukan hal yang bertentangan dengan syariat. Namun, Rasulullah SAW kembali menerangkan akan arti penting menyambung tali silaturahim, terutama dengan orangtua. “Sesungguhnya Allah SWT tidak melarang seorang Muslim berhubungan dengan orang yang tidak memeranginya atau mengusir dari negerinya,” tambah Budi.
Nabi SAW juga pernah mengatakan tetangga itu ada tiga kelompok. Pertama, ada tetangga saudara seagama. Kedua, tetangga dan saudara tapi beda agama. Ketiga, bukan tetangga bukan saudara beda agama.
Kepada ketiga kelompok tersebut, kita tetap harus baik karena Islam mengajarkan kebaikan dan menghormati mereka semua sebagai manusia. Tidak boleh hanya karena bukan Muslim kita perlakukan dengan tidak baik. “Bukan mengakui kebaikan agamanya. Tapi menghargai dia sebagai manusia,” jelas Prof Didin, anggota Dewan Guru Besar IPB kepada Gontornews.com. <Edithya Miranti>



















