Jakarta, Gontornews — Angkatan 2005 Pondok Modern Darussalam Gontor Putri kembali memanfaatkan momentum bulan suci Ramadhan untuk memperbanyak ilmu dan bersilaturahmi ke para guru. Tepat pada Rabu (11/3/2026), panitia Nahyazeefa D’Mayla sukses menghadirkan narasumber Kajian Ramadhan yakni Ustadz Muhammad Nur SThI yang dulu pernah mengajar di Gontor Putri 3, Karangbanyu, Ngawi, Jawa Timur.
Dengan penuh semangat dan ilmu yang mumpuni, Ustadz M Nur pun menarik antusias para peserta untuk tenggelam dalam renungan kehebatan al-Qur’an dan keberkahannya. Mengangkat tema Nuzulul Qur’an; Al-Qur’an dalam Kesendirian, acara ini dimoderatori oleh Ustadzah Chindya Pratisti Lc MAHk dan dimulai sekitar pukul 20.30 WIB.
Dalam penjelasannya, Ustadz M Nur mengatakan bahwa Ramadhan ibarat istana, ketika kita diundang langsung oleh Allah memasuki bulan Ramadhan, maka kita tidak hanya masuk di pelataran istananya saja, tapi kita juga ingin sekali menjelajahi dalamnya istana Ramadhan.
Al-Qur’an proses turunnya begitu sulit. Meski demikian, masih banyak manusia yang tidak memahami akan fungsi kehadiran al-Qur’an untuk manusia. Manusia pun hingga kini masih banyak yang menjauhinya dan al-Qur’an masih terus mendekati manusia.
Sebab itu, momentum Nuzulul Qur’an ini harus mendekatkan kita kepada al-Qur’an. “Semoga Allah berkenan memberi kesempatan kita bersentuhan dengan al-Qur’an yang merasa sendirian, dijauhi oleh manusia,” tambah sang ustadz kepada Gontornews.com.
Al-Qur’an menyentuh melalui dimensi estetika, intelektual, emosional, dan spiritual. Al-Qur’an tidak sebatas hukum normatif saja, tapi jadikanlah al-Qur’an sebagai teman duduk. “Jadikan al-Qur’an itu suatu kebutuhan,” tekannya.
Pada kajian tersebut, Ustadz M Nur juga memaparkan bahwa sesungguhnya Allah telah mudahkan al-Qur’an untuk kita membacanya, memahaminya, juga menghafalnya sekalipun, tanpa ada batasan usia. Maka, proses itu sangat perlu dan yakinlah bahwa setiap proses kita bernilai pahala.
Pada penghujung kajian, sang guru menerangkan bahwa Lailatul Qadr bukan hanya malam keberkahan atau malam ampunan, tapi juga malam Allah tetapkan takdir kita. Maka, mintalah takdir terbaik kita.
Lailatul Qadr itu malam yang sempit karena para malaikat memenuhi ruang. Mereka turun ke muka bumi, hanya dalam satu malam untuk mencari orang-orang yang menengadahkan tangannya untuk berdoa. Karena itu, di akhir Ramadhan ini tidak hanya meminta ampunan, tapi mintalah semua kebutuhan. “Bersihkanlah hati dan jadikan al-Qur’an sebagai kebutuhan,” pungkas Ustadz M Nur. [Edithya Miranti]





















