Jakarta, Gontornews — Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi terjadinya cuaca ekstrem seiring Indonesia memasuki musim pancaroba yang terjadi pada bulan Agustus-September.
Menurut Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, puncak musim hujan terjadi pada bulan Januari-Februari 2019. Sedangkan untuk 78 ZOM (Zona Musim) di wilayah Sumatera, sebagian besar Jawa, NTT, dan sebagian Sulawesi akan terjadi pada bulan Oktober 2018.
Dwikorita menggarisbawahi tentang terdapatnya aktivitas masa udara basah (Madden Julian Oscillation/MJO) dan fenomena gelombang atmosfer yang terjadi di Indonesia.
“Kondisi ini menyebabkan terjadinya potensi pertumbuhan awan hujan semakin meningkat. Dalam sepekan terakhir, tercatat telah terjadi hujan lebat di wilayah Riau, Bengkulu, Kepulauan Riau, Jabodetabek, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Maluku dan Papua,” kata Dwikorita dalam siaran pers BMKG.
Selain potensi hujan deras, BMKG juga memperingati masyarakat pesisir dan nelayan akan potensi gelombang setinggi 2,5 – 4 meter dalam 7 hari mendatang di Perairan Bengkulu hingga Barat Lampung, Perairan Selatan Banten, Samudera Hindia Barat Barat Bengkulu hingga Lampung dan Samudera Hindia selatan Banten.
Sementara itu, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sapto Purwo Nugroho mengonfirmasi kebakaran padang savana Taman Nasional Gunung Bromo (TNGB). Kebakaran itu terkonfirmasi telah terjadi selama 3 hari yaitu sejak 1-3 September 2018.
“Bukit Teletubbies terbakar di Gunung Bromo. Padang savana Taman Nasional Gunung Bromo terbakar sejak 1/9/2018 – 3/9/2018. Api menjalar ke Bukit Teletubbies. Kondisi rumput kering, angin kencang dan berbukit sehingga menyebabkan api sulit dipadamkan. BPBD, MA BBTNBTS (Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) dan relawan terus memadamkan,” kata Sampto melalui akun twitternya @Sapto_PN.
Kepala BBTNBTS, Jhon Kennedy menduga bahwa kebakaran di padang savana TNGB disebabkan ulah manusia dan cuaca panas yang menyebabkan sejumlah tumbuhan seperti adasia dan pohon akasia cepat mengering sehingga mudah terbakar.
“Kami menduga ada aktivitas masyarakat di sekitar kawasan itu hingga menyebabkan kebakaran,” kata Jhon sebagaimana dilansir liputan6.com.
John menambahkan bahwa akibat kebakaran tersebut, dua satwa langka Indonesia yitu macan tutul dan elang jawa terancam. Alhamdulillah, semua itu tidak terjadi karena api tidak merambat ke wilayah yang menjadi habitat endemik taman nasional itu.
“Andaikan api kemarin sampai merambat, kami tak bisa membayangkan bahaya untuk satwa langka,” ujar jhon. [Mohamad Deny Irawan]






















