Dua dekade lalu, Cordelia Selomulya pergi ke Australia untuk menimba ilmu di Universitas New South Wales, Sydney. Kini dia kembali ke Indonesia untuk berbagi ilmu dan pengalaman. Alumni SMAK 1 Penabur itu telah menjadi profesor teknik kimia di Monash University (MU), Melbourne.
Prof Cordelia Selomulya PhD datang ke Indonesia untuk menjadi narasumber Monash Doctoral Program Information Day di Jakarta, 24-25 September. “Saya mewakili Fakultas Teknik MU,’’ ucapnya kepada Majalah Sains Indonesia.
Selama ‘pulang kampung’, Cordelia juga mengunjungi beberapa universitas dan perusahaan di Jakarta dan Bandung untuk membicarakan kemungkinan kerjasama dengan Monash University. “Indonesia begitu dekat dan penting bagi Australia. Maka, wajar bila kedua negara bekerja sama lebih erat di bidang riset dan pengembangan. Ini menguntungkann keduanya,’’ tambah pemilik 150 karya ilmiah berskala internasional dan penemu dua paten bidang vaksin nanoteknologi ini
Universitas Prasetya Mulya termasuk yang dikunjungi Cordelia. Bersama Prof Nicolas Georges PhD, di sini dia tampil sebagai narasumber seminar Insightful Talk on Food Business: Recent Advances in Food Technology Di forum ilmiah yang dihadiri puluhan praktisi industri pangan dan ratusan dosen dan mahasiswa, kedua pakar MU itu berbicara tentang trend mutakhir riset bidang pangan dan kesehatan.
Cordelia memaparkan, seiring bertambahnya populasi manusia, ketersedian pangan dan bahan kesehatan menjadi persoalan rumt dan pelik di masa depan. “Hadirnya nanoteknologi menjadi angin segar dan dapat diharapkan menjadi solusi atas berbagai masalah obat dan pangan di masa depan,” ungkap profesor teknik kimia pertama dan wanita asal Indonesia di MU.
Peneliti pascadoktoral Australian Research Council (ARC) itu menjelaskan, teknik spray drying telah cukup mapan dipakai dalam pengembangan industri pangan, terutama yang berbasis susu (dairy food). Dengan pendekatan baru metode nano, emulsi susu sapi bisa dibuat lebih homogen dan halus. Ukuran droplet bisa menjadi lebih kecil sampai dimensi nano.
Peraih The University Medal in Chemical Engineering (1998) menambahkan, penggunaan nanoteknologi dalam dunia medis dan farmasi sudah mulai biasa digunakan. Salah satunya mengembangkan vaksin yang dikemas dalam nanokapsul sehingga mudah diserap dan terdistribusi dalam sistem faal tubuh. teknik nanokapsul juga dapat diterapan untuk pembuatan sediaan obat. Buah risetnya dalam mengembangkan sistem pengirim vaksin ke dalam tubuh menggunakan partikel nano berpotensi meningkatkan dan memperpanjang respon kekebalan tubuh manusia, dan karenanya melindungi kita dari beberapa penyakit tertentu. ”Dengan nanoteknologi, vaksin atau bahan bioaktif akan lebih efektif dan efisien berfungsi dalam tubuh. Dengan demikian lebih hemat juga,” tegasnya.
Bagaimana prospek nanoteknologi untuk pangan? Peluangnya tentu tak jauh beda dengan sediaan farmasi dan medis. Hanya saja, tambah Cordelia, ”kita perlu lebih berhati-hati, Bukan apa, apa karena persoalan persepsi saja.”
Belajar dari kasus pro-kontra masalah pangan transgenik (GMO), pemilik ratusan paper ilmiah dan dua paten nanoteknologi itu tak ingin ada persepsi yang salah dengan penggunaan nanoteknologi pada pangan. Subtansi dan nutrisi pangan hasil pengembangan nano akan tetap alamiah. Hanya saja karakteristik biofisiknya disesuaikan dengan standar kebutuhan industri.
Ke depan, Cordelia malah melihat ada kecenderungan industri baru yang membuat komoditas gabungan antara pangan dan herbal, Atau antara produk pangan dan produk kesehatan. Jadi fungsi pangan dan kesehatan melekat secara bersama-sama dalam satu produk nanoteknologi, tegasnya.
Dimoderatori Prof Dr Janson Naiborhu, Dekan Fakultas Sains, Teknologi, Engineering dan Matematika (STEM) Universitas Prasetya Mulya, seminar juga menghadirkan Prof Nicolas Georges, Direktur Food Innovation Center Monash University. Dia memaparkan antara lain trend pengembangan teknologi dan bisnis pangan masa depan. Kolaborasi dan inovasi sangat dibutuhkan untuk pengembangan produk-produk pangan baru yang mempunyai keunggulan nutrisi, aman dikonsumsi dan mudah diakses masyarakat.
Monash University beserta perangkat riset dan SDM di dalamnya punya kemampuan dan pengalaman untuk melakukan riset kolaborasi lintas disiplin ilmu dan lintas negara. Di dunia, MU masuk peringkat Top 50, beberapa program studi bahkan punya peringkat 4-39. “Australia dan Cina telah memiliki proyek riset bersama. Kami juga terbuka untuk kerjasama atau berkolaborasi dengan Indonesia,” pungkas Nicolas.
Resmi diangkat gurubesar teknik kimia di Fakultas Teknik MU awal 2016, Cordelia dahulu sekolah di SMA Kristen 1 Penabur di Jakarta. Dia melanjutkan studi teknik kimia pada Universitas New South Wales di Sydney. Dan lulus menjadi alumnus terbaik tahun 1998. Dia juga meraih prestasi tinggi ketika lulus S3 Teknik Kimia di UNSW.
Salah satu anak bimbing Prof Rose Amal ini sekarang menjadi sedikit akademisi asal Indonesia yang menjadi peneliti dan tenaga pengajar di Australia. Cordelia sekarang mengajar di Fakultas Teknik Kimia Monash University. Selain mengajar, dia aktif menjadi peneliti. Setidaknya ada 17 proyek riset yang telah dan sedang digelutinya. Cordelia juga memimpin penelitian bersama Australia-China Mengenai Masa Depan Manufaktur di Bidang Susu (Dairy), yang didukung oleh Departemen Industri, Inobasi, dan Sains (DIIS) Australia lewat Dana Penelitian dan Sains Australia-China. Pusat ini membantu perusahaan-perusahaan susu di Australia lewat penelitian dan pengembangan (R&D), dan juga akan memfasilitasi hubungan dengan China, yang merupakan pasar ekspor penting bagi Australia.
Belasan anugrah dan penghargaan telah diraihnya selama berkarir di Australia. Antara lain ARC Future Fellowship, Monash Research Accelerator, Australia-China Young Researcher Exchange Program Fellowship, Japan East Asia Network (JENESYS) Programme for Future Business Counterparts from Australia, Chemical Engineering Science Most Cited Article Award, American Filtration Society/American Institute of Chemical Engineers Conference and Expo, Young Researcher Australian Academy of Technological Sciences and Engineering, University Medal in Chemical Engineering. Selain itu, The Shell Prize, Simon Carves Australia Prize, BHP Engineering Prize, Goodman Fielder Ingredients Prize, Western Mining Corporation Limited Prize, Dorr-Oliver Prize, Dow Corning Prize, Abbott Laboratories Pty Limited Prize, dan Wattyl Australia/ James Hardie Prize.
Dedi Junaedi




















