Memasuki September 2016, virus zika mewabah di kawasan Asia Tenggara. Mula-mula muncul di Singapura, kemudian merambat ke negara tetangganya. Mulai Thailand, Filipina, Indonesia, Malaysia, dan Vietnam. ASEAN mendekati darurat zika.
Wabah zika merebak di Singapura pasca perhelatan Olimiade 2016 di Rio de Janerio, Brazil. Dalam satu bulan terakhir virus ini telah meinfeksi 333 warga di Singapura, 41 di antaranya melalui transmisi lokal. Pemerintah Singapura mulai khawatir dan menyerukan kerjasama regional ASEAN untuk menanganinya secara bersama.
‘’Nyamu Aedes banyak berkeliaran di wilayah kita. Zika bisa menjadi wabah besar seperti demam berdarah. Mari kita bersatu dalam kejasama memerangi virus zika,’’ ajak PM Singapura Lee Hsien Loong dalam KTT ke-28 ASEAN di Laos, seperti dkutip Straits Times.
Wabah zika kemudian bergerak ke Thailand. Sedikitnya 100 kasus dilaporkan otoritas kesehatan di Bangkok. Kasus serupa telah menimpa sejumlah warga di Filipina, Indonesia, Vietnam, dan Malaysia. Menteri Kesehatan Malaysia, S Subramaniam, mengkonfirmasi kasus zika pertama menyerang wanita hamil di Johor.
Di Indonesia, virus zika ditemukan pertama kali tahun 1977 di Klaten, Jawa Tengah. Temuan berdasarkan observasi kasus 1977-1978, kata Dirga Sakti Rambe, peneliti vaksin UI. Kauss zika berikutnya ditemukan peneliti Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Jakarta tahun 2014/2015 di Jambi. Yang terbaru, menurut Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, Jane Soepardi, kasus jika menimpa warga Batam, Riau.
Meski kasus baru belum banyak dilaporkan, Jane berpendapat potensi Indonesia terjangkit zika sangat besar. Apalagi bila berkaca pada Singapura, yang berhasil mengendalikan populasi nyamuk, saja dapat terpapar wabah zika.
Potensi Wabah
Menurut kajiam tim dari London School of Hygiene and Tropical Medicine, Oxford University dan University of Toronto, Kanada, sekitar dua juta orang Asia dan Afrika terancam terinfeksi zika. Kepada The Lancet Infectious Diseases, mereka menyebut warga di India, Indonesia, dan Nigeria paling rentan tertular. ‘’Sebagian besar penduduk tiga negara ini tinggal di lingkungan yang sulit untuk melakukan deteksi, pencegahan dan merespon virus,’’ tulisnya.
Tim melihat sejumlah faktor, seperti banyak orang bepergian ke wilayah wabah, keberadaan nyamuk inang virus dan cuaca lingkungan berisiko tinggi. Mereka juga menilai Filipina, Vietnam, Pakistan dan Bangladesh cukup rentan karena sumber daya medisnya terbatas. “Imbasnya tergantung pada kemampuan negara untuk mendiagnosa dan merespon kemungkinan wabah,” kata Kamran Khan dari St Michael Hospital Toronto.
Menurut WHO, hingga kini, zika telah menyebar ke sedikitnya 72 negara. Dari jumlah itu, 55 negara –antara lain Brazil, AS, dan Singapura– termasuk katagori rawan wabah; 4 negara (Indonesia, Thailand, Filipina dan Vietnam) temasuk wilayah endemik penularan zika; dan 13 negara (Chili, Kamboja, Laos, Gabon, Malaysia) termasuk kawasan terdampak. ‘’Suhu hangat selama musim panas juga menguntungkan nyamuk hidup lebih lama,’’ kata peneliti Oliver Brady.
Profesor virologi molekular, Jonathan Ball, mengatakan aktivitas perjalanan dan perdagangan akan menyebarkan viza ke seluruh dunia. “Ini adalah virus yang menyebar selama bertahun-tahun di Afrika, Asia dan lainnya, banyak orang sudah tertular,” tegasnya.
Menurut David Heymann, Kepala Komitee Darurat Zika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penularan virus zika tergolong cepat menyebar. Tujuh bulan lalu, ketika otoritas kesehatan dunia itu pertama kali membentuk Komite Darurat Zika, negara terdampak baru 21 negara. Kala itu, para ahli pun memperkirakan baru sekitar 1-1,5 juta kasus Zika di dunia.
Pemicu Mikrosefalus
Awalnya, virus zika hanya dianggap mikroba biasa. Paling banter menimbulkan gatal-gatal dan demam ringan pada sebagian komunitas di Afrika. Belakangan, ia menyerang ibu hamil dan janin di berbagai negara. Virus Zika terindikasi kuat sebagai pemicu mikrosefalus.
Virus zika dapat memicu gejala penyusutan otak pada janin sehingga menyebabkan kerusakan otak, bahkan kematian janin dan bayi baru lahir. Mikroba ini telah menyebar kemana-mana dan menimbulkan kepanikan di sejumlah negara Amerika Latin. Khususnya, Brasil, tempat ribuan bayi pengidap mirosefalus. Misa Korva dalam The New England Journal of Medicine (10/2/2016) memperkirakan ada sekitar 440.000-1.300.000 kasus Zika di Negeri Samba.
Perkembangan wabah Zika memaksa WHO bertindak taktis dengan membentuk satuan tugas khusus. Lembaga ini khawatir, virus in “meledak” menjadi pandemi global, sebagaimana wabah ebola di Afrika Barat yang menewaskan lebih dari 11.000 orang.
Zika disebut-sebut bertanggung jawab terhadap sekitar 4.000 bayi di Brasil yang mengidap gejala mikrosefalus. Dirjen WHO, Dr Margaret Chan, berpandangan ancaman zika ‘telah berkembang dari tingkat menengah ke tingkat yang mengkhawatirkan. ‘Dampak dari virus ini sangat serius,’’ tegasnya.
Menurut Chan, zika telah mengancam 3-4 juta balita di seluruh dunia. Sekitar dua juta di antaranya ada di Karibia dan Amerika Latin. Brasil pertama kali melaporkannya secara terbuka pada Mei 2015. WHO memperkirakan 1,5 juta orang di negara tersebut terkena virus zika.
Penyebaran Virus Zika
Merupakan sejenis virus dari keluarga Flaviviridae dan genus Flavivirus, mikroba ini ditemukan pertama kali 1947 pada monyet-monyet di Hutan Zika, Uganda. Kasus pertama menyerang manusia terjadi di Nigeria pada 1954. Kala itu, tidak menimbukan ancaman besar terhadap manusia sehingga diabaikan oleh komunitas ilmuwan, tulis Daniel R Lucey dan Lawrence O Gostin dalam Journal of the American Medical Association (Februari 2016).
Penyebarnya adalah Aedes aegypti. Masih satu famili dengan virus penyebab demam berdarah, penyakit kuning, dan penyakit cikungunya, virus ini dapat menyebabkan sakit ringan atau demam zika. Penyakit ini juga dilaporkan menyerang warga Uganda dan daerah khatulistiwa Afrika dan Asia. Gejalanya mirip demam dengue ringan yang bisa hilang setelah istirahat atau dirawat beberapa hari.
Seiring perjalanan waktu, zika menyebar ke wilayah lain. Kasus pertama di luar Afrika terjadi di Yap Island di kawasan Pasifik Mikronesia 2007. Sejak itu, kasusnya beberapa kali muncul di Pasifik. Pada 2014, ia menyebar ke timur melintasi Samudra Pasifik, Polinesia Perancis, kemudian Pulau Paskah. Dan, pada 2015, ia menyebar ke Amerika Tengah, Karibia, dan mewabah di Amerika Selatan, termasuk Brazil.
Menurut Dr Herawati Sudoyo, dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Jakarta, beberapa riset mengembangkan kecurigaan adanya kemungkinan penyebaran virus ini di luar media nyamuk, seperti melalui proses tranfusi darah dan hubungan seks. Meski dugaan ini belum bisa dibuktikan kebenarannya.
Vaksin Zika
Tim University of Texas Medical Branch tengah tengah intensif menganalisa perilaku zika. di Galveston, Texas. Dengan sampel kasus Pulau Yap, Mikronesia, Pasifik (2007), mereka berupaya menemukan formula vaksin zika.
“Risiko infeksi Flavivirus sangat signifikan. Jika terjadi pada janin dapat menghambat perkembangan otak. Kadang menyebabkan bayi mengalami gangguan mental seumur hidup,” kata Prof Scott Weaver, Direktur Institute for Human Infections and Immunity(IHII) seperti dikutip BBC.
Menurut Weaver, gejala infeksinya mirip demam berdarah, termasuk flu, radang mata, sakit pada persendian, dan bintik merah kulit. Dalam beberapa kasus, ada komplikasi, seperti sindrom Guillain-Barre, yang menyebabkan kelumpuhan saraf otak.
Lucey dan Gostin, ahli virus dari Georgetown University School of Medicine di Washington DC, memperkirakan vaksin zika baru siap diujicoba dalam dua tahun mendatang. ‘’Sedang untuk dapat izin beredar ke masyarakat luas, mungkin perlu waktu 10 tahun lagi,’’ pungkas Gostin. [Dedi Junaedi]



















