Bojonegoro, Gontornews — Musim kemarau membuat beberapa wilayah di Bojonegoro, Jawa Timur, mengalami kekeringan. Kondisi ini semakin menyulitkan warga mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Kepada Gontornews.com pegiat Filantropi Islam Nurul Hayat Bojonegoro, Ahmad Muhajir, menjelaskan, “Tahun ini kekeringan lebih parah dari tahun sebelumnya.” Beberapa wilayah yang menjadi langganan kekeringan, lanjutnya, mulai membutuhkan distribusi bantuan air bersih.
Oleh karenanya, Nurul Hayat mengajak semua pihak bersama-sama membantu distribusi air bersih Rp100,00/liter, termasuk program pipanisasi dan sumur bor dalam program Surga Desa yaitu Sumur Untuk Warga Desa.
“Alhamdulillah Nurul Hayat sudah menyalurkan 31 ribu liter air bersih di Desa Luwihaji Sumberjo menggunakan truk tangki. Semoga bermanfaat untuk warga yang mengalami krisis air bersih,” ujarnya Selasa (5/9/2023). In syaa Allah, sambung Muhajir, pekan depan eksekusi program pipanisasi air dari jarak 0,6 kilometer ke tengah pemukiman warga.
Batituud Koramil Sumberjo Peltu Sutondo mengapresiasi Laznas Nurul Hayat sudah ikut membantu warga terdampak kekeringan di wilayahnya. “Kami ucapkan terima kasih Nurul Hayat, pengiriman air bersih ini sangat dinanti warga yang membutuhkan, terutama di daerah dataran tinggi,” ujarnya.
Penanganan krisis air bersih, sambungnya, butuh dukungan sinergi semua pihak, baik pemerintah, warga masyarakat, termasuk wakil rakyat, juga lembaga seperti Nurul Hayat. “Masyarakat perlu segera mendapatkan uluran tangan untuk air bersih, termasuk edukasi penanganan air bersih dan menjaga alam,” ucap Sutondo.
Kebutuhan air bersih di wilayah kekeringan Bojonegoro sangat mendesak. Tahun lalu, ada korban warga meninggal dunia saat membuat sumur gali. “Orang yang menggali sumur tertimbun di dalam tanah. Akhirnya tidak jadi mendapat air bersih. Sumurnya ditimbun lagi,” ujar Tasmin, salah seorang warga.
Tasmin mengaku senang mendapatkan kiriman air bersih, meskipun harus beberapa kali mengangkat ember dari titik droping air ke rumahnya. “Sejak Juli, Agustus dan September, sumur di rumah saya sudah kering. Terima kasih Nurul Hayat dan donatur sudah membantu air bersih untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” pungkasnya. [Edithya Miranti]

























