Metaverse jadi bahan pembicaraan banyak orang. Banyak kalangan milenial tergoda untuk mencoba produk dunia maya ini. Padahal, metaverse memiliki sesuatu yang unik dan risiko bahaya yang muncul dari dunia maya. Benarkah?
Setelah facebook ‘hijrah’ menjadi meta, istilah metaverse membumbung tinggi dan muncul menjadi perdebatan publik tentang bagaimana perkembangan teknologi masa depan. Jika di era 2000-an, kita sibuk berdebat melalui tulisan atau foto dan pada era 2010-an, teknologi interaksi antar manusia lebih banyak menggunakan video, maka di masa depan, tempat tinggal pun berpindah ke dunia maya.
Beberapa ‘produk’ teknologi metaverse seperti non-fungible token (NFT), bertransaksi menggunakan cryptocurrency, dan jual-beli tanah lewat sandbox mulai ramai dibicarakan publik. Keuntungan masif dan interaksi jual-beli global tentunya menarik banyak minat, yang utamanya digandrungi oleh kalangan milenial. Pertanyaannya adalah, apa itu metaverse? Apa keunikannya?
Guru besar ilmu komputer Universitas Nottingham Inggris, Steve Benford, menjelaskan bahwa ide Metaverse sebenarnya bukan hal yang baru. Istilah ini muncul pertama kali di novel fiksi berjudul ”Snow Crash” karya Neal Stephenson pada tahun 1992. Saat itu, Stephenson membayangkan sebuah dunia virtual 3D yang dapat membuat orang berinteraksi satu sama lain dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intellegent. Media asal Inggris tersebut lantas menjelaskan lima hal yang berkaitan dengan Metaverse
Pertama, Metaverse sangat identik dengan dunia virtual. Anda dapat menjelajahi metaverse dengan menggunakan komputer, konsol game, ponsel, teknologi penyedia grafis dan suara 3D. “Idenya adalah bahwa (teknologi) ini membuat Anda merasa lebih hadir di metaverse dan mungkin kurang hadir di dunia sehari-hari,” kata Benford dalam tulisannya berjudul Welcome to the metaverse: Five things you need to know yang dirilis oleh media Inggris, Independent.
Kedua, realitas maya. Untuk memaksimalkan metaverse, Anda mungkin memerlukan perangkat seperti headset. Perangkat tersebut memungkinkan Anda terasa lebih hadir di dunia metaverse. Ketiga, keterlibatan orang lain dalam realita sosial di metaverse.
“Ada banyak orang lain di metaverse, yang muncul dalam bentuk avatar (virtual). Beberapa avatar mungkin adalah bot, agen virtual atau manifestasi kecerdasan buatan lainnya. Anda dapat bergaul dengan orang lain atau bahkan melakukan sesuatu secara bersamaan. Aspek sosial kemungkinan menjadi pusat dari metaverse dari facebook, mengingat sejarahnya sebagai sebuah jejaring sosial bertaraf global,” papar Benford.
Para penggemar dan beberapa peneliti, kata Benford, percaya bahwa komunikasi di metaverse mungkin lebih alami sekedar sebuah konferensi di video. Pada tahap ini, pengguna dapat menggunakan tatapan mata untuk menunjukkan siapa yang Anda tuju
“Avatar Anda juga bisa berjalan dan duduk di sebelah avatar orang lain untuk memulai percakapan,” ucapnya.
Keempat, kegigihan. Metaverse sebagaimana dunia maya akan selalu tersedia kapanpun selama Anda memiliki koneksi internet, karena itu, Anda pun bisa kapanpun mengunjunginya. Anda, bahkan dapat mengubahnya dengan menambahkan bangunan virtual baru atau objek lain. “Yang terpenting, perubahan akan tetap ada saat Anda berkunjung lagi nanti,”
“Metaverse akan bergantung pada konten buatan pengguna Anda, kreasi digital dan kisah pribadi Anda, dengan cara yang sama seperti yang Anda lakukan di media sosial hari ini,” ujarnya.
Catatan Benford yang kelima mengemukakan bahwa koneksi metaverse ke dalam dunia nyata. Beberapa visi metaverse, sejatinya, mewakili hal-hal di dunia nyata. Jika Anda bisa menerbangkan drone di dunia nyata, artinya Anda juga bisa menerbangkan drone itu di dunia metaverse. “Karena itu, banyak orang yang mengatakan bahwa dunia nyata dan dunia virtual merupakan ‘kembar digital’.
Terakhir, Benford menjelaskan, meski, visi asli metaverse sangat menarik, banyak kemungkinan bahaya yang berisiko muncul dari dunia maya maupun nyata seperti kecanduan, kriminalitas hingga erosi institusi demokrasi.
“Menariknya, metaverse ala Stephenson sebagian besar dimiliki oleh perusahaan besar. Sementara pemerintah, hanya menjadi pos-pos kecil yang sebagian besar tidak memiliki peran yang signifikan,”
“Mengingat ketegangan saat ini, antara teknologi besar dan pemerintah di seluruh dunia, terkait dengan privasi, kebebasan berbicara dan bahaya dari dunia online, kita harus serius mempertimbangkan jenis metaverse apa yang kita buat dan siapa yang membuat, memiliki dan mengaturnya,” tutup Benford. [Mohamad Deny Irawan]





















