Ponorogo, Gontornews — Universitas Islam Darussalam (UNIDA) Gontor mengadakan pembekalan untuk menyambut liburan akhir tahun bagi mahasiswanya. Pembekalan disampaikan oleh Al-Ustadz Dr Setiawan Bin Lahuri MA, Wakil Rektor II UNIDA Gontor dan Al Ustadz Dr Abdul Hafidz Zaid MA, Wakil Rektor III UNIDA Gontor. Acara yang berlangsung di Masjid Jami’ UNIDA Gontor ini dihadiri oleh seluruh mahasiswa UNIDA Gontor kampus pusat Siman Ponorogo.
“Etiket santri Gontor harus berdasarkan pada akhlaq al-karimah yang bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah, maka jika kita ragu-ragu dalam melangkah atau bersikap, kita dapat kembali kepada nilai-nilai basis etiket kita, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah,” papar Al-Ustadz Setiawan Bin Lahuri.

Berikut beberapa poin yangdisampaikan dalam pesan pembekalan:
- Jika ada orang yang lebih muda daripada kita, maka kita harus menyayanginya. Dan jika ada orang yang lebih tua daripada kita, maka kita harus menghormatinya;
- Jika berkendara sepeda motor dengan orang tua, sebaiknya kita yang menyupir di depan dan orangtua kita di belakang;
- Jika berkendara mobil dengan orang tua dan kebetulan kita belum bisa menyupir, maka sebaiknya kita berada di sampingnya bukan duduk di kursi belakang. Dan akan lebih baik lagi jika kita yang menyupir mobil tersebut;
- Jika berjalan dengan orang tua, jangan di depannya. Akan tetapi di belakangnya sedikit;
- Jika ada seseorang bertamu ke rumah kita, maka kita harus pandai-pandai mengajaknya bicara. Menanyakan keadaannya, kesehatannya, keluarganya, dll (pertanyaan-pertanyaan umum);
- Jangan berkerumun pada tempat-tempat yang mempunyai risiko tinggi akan adanya penyakit;
- Hidupkan dan ramaikan masjid (dengan tadarus, shalat jamaah, mengaji, dll).
Selanjutnya, dalam kesempatan tersebut, Al Ustadz Abdul Hafidz Zaid juga menyampaikan beberapa poin penting. Di antaranya;
- Ar-rohatu fii tabaaduli al-a’maal. Kiai Hasan Abdullah Sahal selalu mengatakan bahwa tidak ada kata liburan di Gontor. Yang ada adalah melakukan pergantian antara satu pekerjaan ke pekerjaan yang lainnya;
- Orang yang mempunyai waktu yang kosong, maka fikirannya akan kosong, jika fikiran kosong maka yang akan mengisi kekosongan itu adalah setan;
- Sudah banyak fenomena seorang anak yang luntur rasa hormatnya kepada orang tua. Maka kita harus menjadi anak yang selalu menyenangkan orang tua dengan perbuatan-perbuatan kita yang berakhlaq;
- Almarhum Ustadz Nasrullah pernah mengatakan “Namanya orang tua itu maunya cerita hal-hal itu saja, kewajiban seorang anak itu hanya mendengar, apapun yang orangtua katakan. Itu merupakan momen berharga”.
- Assumtu hikmatun wa qolilun faa’iluhu. Jika kita tidak banyak mengetahui tentang sesuatu hal, maka lebih baik kita diam. Karena di luar sana banyak orang yang lebih paham, lebih mengetahui, dan lebih berhak untuk memberi jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut.
Dengan adanya penjelasan tentang etiket ini, diharapkan para mahasiswa dapat membawa diri dengan baik selama liburan di daerah mereka masing-masing. [Zukhrufi Izza/Hafidh]





















