Latar belakang perbedaan sejarah pribadi, referensi bacaan, fenomena dan romantika kehidupan, besar pengaruhnya dalam proses membaca dan menuliskan sejarah. Dalam kapasitas ini, derajat, tingkat, pangkat, tidaklah dapat dijadikan jaminan. Lihat betapa berat proses periwayatan Hadis, peliputan berita di media, dan kerasnya politik ambisi dan ambisi politik yang menghiasi berbagai belahan dunia.
Karunia kesatuan rasa dan karsa pada suatu bangsa merupakan aset yang mahal. Tak boleh dengan mudah atau murah disingkirkan, apalagi diremehkan, seakan tak berharga karena datangnya sesuatu yang baru. Padahal hal-hal baru itu berhiaskan aneka kepalsuan dan penipuan. Ingatlah perjalanan panjang bangsa ini mencari jatidiri, yang selalu terhambat oleh buruknya kultur lama penjajahan, keterpurukan rakyat, dan kesimpangsiuran sejarah yang menyedihkan. Beluam lagi ditambah lemahnya sumberdaya manusia (SDM) buah ”pendidikan” penjajahan.
Padahal, bangsa ini memiliki modal mental tersendiri untuk menjadi bangsa yang cerdas, kritis, militan, dan golongan paling dibenci dan ditakuti penjajah beserta kaki tangannya. Walau keadaan kita kini kian kuat, tapi kekuatan ini harus terus diuji. Keterbukaan dan kepeloporan harus diteladankan para kiai/pemimpin umat agar masyarakat dapat menghargai sejarah dan potensi bangsa ini.
Menghargai sejarah, seperti menghargai seseorang. Bukan karena keagungan kemanusiaan, ketokohan, atau kesakralan keturunannya. Tapi karena nilai-nilai positif dan ajaran-ajarannya yang mampu mewaspadai masuknya nilai-nilai penjajah dan menghapus segala bentuk penjajahan di bidang atau jalur mana pun. Jangan terjebak dengan rapinya tebaran bunga-bunga istilah ilmiah yang “mencengangkan”, berlabel “teruji, disepakati” para ilmuwan mulut penjajah. Harus disadari, kita sedang dijajah, bukan akan dijajah.
Biasanya, orang terjepit nasib, sakit, miskin, bodoh, dan mundur, akan mengambil jalan pintas untuk mengaduh dan mengeluh minta petunjuk dari penjajah, yang katanya “sehat, kaya, pandai, dan maju”. Mereka tak sadar, tak mungkin ada penjajah yang memproklamirkan diri sebagai penjajah. Mereka pasti bilang, merakalah “penyelamat” bangsa.
Karena posisi terjepit, solusi dan pelariannya bukan lagi kerja keras, kesungguhan, kejujuran, ataupun ikhlas berkorban ala para pendahulu. Tapi jalan pintasnya mengemis petunjuk kepada si kaya, penguasa, orang pintar, punya ilmu pertuyulan, jin dan sebagainya. Padahal, bangsa yang besar percaya bahwa hanya Allah SWT Yang Maha Besar, Akbar. Dan bangsa yang kerdil ialah yang menyekutukan-Nya.
Di balik keindahan, pasti ada cobaan kepahitan. Kenaikan pangkat untuk menjadi kekasih Allah, selalu akan diuji dengan “bara” amanah risalah tauhid dan aneka masalah yang tiada henti. Sungguh menggelikan kiranya jika ada menteri takut di-reshuffle, pejabat takut dipecat, konglomerat takut tersaingi dan bangkrut, selebriti takut tak “di-booking” lagi, cendekiawan takut digaji minim, ustadz takut tak diundang kenduri, kiai ditinggalkan santrinya. Sungguh palsu! Pedagang juga takut kehilangan langganan, penjual takut kesepian pembeli, majikan takut didemo karyawan, kuasa hukum kehabisan perkara, legislatif takut di–recall. Dan seterusnya.
Lalu, apakah sejarah sudah tidak berharga? Karena semua orang sepertinya bebas membuat sejarah. Padahal, kebebasan membuat sejarah ada aturannya. Seperti bebasnya orang membuat jalan, tetap ada aturannya. Meski di tanah sendiri atau sudah bersertifikat. Apalagi untuk membuat parit. []






















