يَٰٓأَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ(١) قُمْ فَأَنذِرْ(٢) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ(٣) وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ(٤)
وَٱلرُّجْزَ فَاهْجُرْ(٥) وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ(٦) وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ(٧)
Artinya: 1. Hai orang yang berselimut, 2. Bangunlah, lalu berilah peringatan! 3. Dan Tuhanmu agungkanlah! 4. Dan pakaianmu bersihkanlah, 5. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah, 6. Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. 7. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah. (QS. Al-Muddatstsir: 1-7 )
Asbabunnuzul
Dalam kitab Fathul Qadir, para ulama menyebutkan tentang asbabunnuzul (sebab turunnya) surah Al-Muddatstsir. Dari Jabir bin Abdillah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Aku berdiam diri di gua Hira. Setelah selesai, aku pun beranjak keluar dan menelusuri lembah, tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggilku, maka aku pun menoleh ke sebelah kananku namun aku tidak melihat siapa-siapa, aku menoleh ke sebelah kiri, juga aku tidak melihat siapa-siapa, kuarahkan pandanganku ke belakang namun aku juga tidak melihat siapa-siapa. Ketika aku melihat ke atas, ternyata terdapat Malaikat yang sebelumnya mendatangiku di gua Hira tengah duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Aku merasa ketakutan hingga aku jatuh tersungkur ke tanah. Lalu aku pun segera pulang menemui keluargaku seraya berkata, ‘Selimutilah aku’. Maka keluargaku pun segera menyelimutiku.’’ (HR. Bukhari dan Muslim)
Interpretasi mufasir
Dalam Tafsir al-Munir, Wahbah Az-Zuhaili mengatakan bahwa kata Al-Muddatstsir artinya orang yang membungkus diri dengan pakaiannya ketika turun wahyu kepadanya. Asalnya para ulama sepakat bahwa Al-Muddatstsir adalah Rasulullah SAW. Rasulullah memakai selimut, yaitu pakaian yang tampak yang dipakai di atas pakaian dalam yang menempel di tubuh.
Kemudian dalam Tafsir Tahlili dikatakan bahwa perkataan “qum” (bangunlah) menunjukkan bahwa seorang Rasul harus rajin, ulet, dan tidak mengenal putus asa karena ejekan orang yang tidak senang menerima seruannya. Sepanjang hidupnya diisi dengan berbagai macam kegiatan yang berguna bagi kepentingan umat dan penyiaran agama Islam.
Menurut Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir bahwa kata fakabbir artinya agungkanlah. Perintah takbir (mengagungkan) hendaknya hanya diperuntukkan bagi-Nya semata-mata, tidak terhadap sesuatu selain-Nya. Mengagungkan Tuhan dapat berbentuk ucapan, perbuatan, atau keadaan.
Dalam Tafsir Tahlili disebutkan bahwa Allah memerintahkan Nabi Muhammad supaya membersihkan pakaian. Makna membersihkan pakaian menurut sebagian ahli tafsir yaitu: Membersihkan pakaian dari segala najis dan kotoran, atau bisa juga berarti membersihkan ruhani dari segala watak dan sifat yang tercela.
Dalam Tafsir Tahlili disebutkan bahwa kata ٱلرُّجْزَ yang terdapat dalam ayat ini berarti siksaan, dan dalam hal ini yang dimaksudkan ialah perintah menjauhkan segala sebab yang mendatangkan siksaan, yakni perbuatan maksiat. Termasuk yang dilarang oleh ayat ini ialah mengerjakan segala macam perbuatan yang menyebabkan perbuatan maksiat.
Kemudian kata وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ dalam Tafsir Munir artinya ialah janganlah kalian memberikan sesuatu kemudian menuntut yang lebih banyak dari itu. Atau janganlah kamu memberi kepada Allah dengan ibadah-ibadahmu dengan maksud menganggap banyaknya ibadah. Atau menyampaikan dakwah dengan maksud meminta upah yang banyak dari dakwah itu.
Kata fasbir dalam Tafsir Munir artinya ialah diperintahkan untuk bersabar dalam menjalankan kewajiban-kewajiban, ibadah-ibadah, dan bersabar dari gangguan orang karena menyampaikan dakwah agama.
Ada beberapa bentuk sabar yang ditafsirkan dari ayat di atas, di antaranya: 1) Sabar dalam melaksanakan perbuatan taat, sehingga tidak dihinggapi kebosanan, 2) Sabar menjauhkan diri dari perbuatan maksiat dan menghadapi musuh, 3) Sabar ketika menghadapi cobaan dan ketetapan Allah, 4) Sabar ketika menghadapi cobaan dan ketetapan Allah.
Nilai-nilai pendidikan
QS. Al-Muddatstsir: 1-7 di atas mengandung nilai-nilai pendidikan. Di antaranya, pertama, mendidik kita agar senantiasa ikhlas dalam mengerjakan kebajikan dan berdakwah. Kedua, mendidik kita agar senantiasa menjaga kebersihan lahiriyah dan batiniyah dari berbagai kotoran dan dosa maksiat. Ketiga, mendidik kita agar senantiasa berdzikir mengagungkan Allah dalam berbagai situasi yang dihadapi. Keempat, mendidik kita agar saling mengingatkan dalam kebaikan dan bersabar atas apa yang dihadapi serta tidak berputus asa.
Makna guru
Guru identik dengan pahlawan tanpa tanda jasa, karena jasa seorang guru melahirkan berbagai macam profesi dan menjadikan manusia mulia dan terhormat serta berakhlak mulia. Guru termasuk manusia yang berjiwa besar di dunia ini. Dia berusaha menyiapkan generasi penerus yang berkualitas, mentransfer ilmu pengetahuan dan juga memiliki posisi sebagai pewaris Nabi. Oleh karena itu, Islam memberikan penghargaan sangat tinggi terhadap guru. Ia salah satu pemilik ilmu pengetahuan.
Tingginya kedudukan guru dalam Islam tak bisa dilepaskan dari pandangan bahwa semua ilmu pengetahuan bersumber pada Allah, sebagaimana disebutkan dalam surah al-Baqarah ayat 32:
قَالُوْا سُبْحٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۗاِنَّكَ اَنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ
Mereka menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (QS. Al-Baqarah: 32)
Guru sebagai jembatan mendidik akhlak. Tujuan dari pendidikan akhlak dalam Islam yaitu membentuk orang-orang yang bermoral baik, keras kemauan, sopan dalam bicara dan perbuatan, mulia dalam tingkah laku dan perangai. Karena itu seorang guru harus memiliki adab. Menurut Imam al-Ghazali dalam Majmu’ah Rasail al-Imam al-Ghazali, seorang guru harus dimiliki adab seperti: tidak berhenti menuntut ilmu, bertindak dengan ilmu, senantiasa bersikap tenang, tidak takabur dalam memerintah atau memanggil seseorang, bersikap lembut terhadap murid, tidak membanggakan diri, menjawab pertanyaan yang diajukan oleh murid secara ringkas dan dapat dipahami, menghindari sikap yang tak wajar, mendengar dan menerima argumentasi dari orang lain meskipun ia seorang lawan.
Sedangkan adab murid terhadap guru, menurut Imam al-Ghazali dalam Majmu’ah Rasail al-Imam al-Ghazali, di antaranya: mendahului beruluk salam, tidak banyak berbicara di depan guru, berdiri ketika guru berdiri, tidak mengatakan kepada guru “Pendapat fulan berbeda dengan pendapat Anda”, tidak bertanya-tanya kepada teman duduknya ketika guru ada dalam majelis, tidak mengumbar senyum ketika berbicara kepada guru, tidak menunjukkan secara terang-terangan karena perbedaan pendapat dengan guru, tidak menarik pakaian guru ketika berdiri, tidak menanyakan suatu masalah di tengah perjalanan hingga guru sampai di rumah, tidak banyak mengajukan pertanyaan kepada guru ketika ia sedang lelah.
Imam Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’lim Al-Muta’allim menyebutkan kepribadian yang harus dimiliki oleh seorang guru, yaitu: ikhlas, tawadhu’, takwa, ‘alim, wara’, lebih tua atau dewasa, berwibawa, lembut, penyabar, bersungguh-sungguh, kasih sayang, pemberi nasihat, tidak iri/dengki. Sedangkan menurut Muhammad Athiyah Al-Abrasyi, seorang tokoh pendidikan modern, seorang guru harus memiliki tujuh karakter, yaitu: pertama, zuhud. Kedua, ikhlas. Ketiga, pemaaf. Keempat, memiliki jiwa yang bersih dari sifat dan akhlak yang buruk. Kelima, mampu menempatkan diri sebagai orangtua yang memikirkan masa depan anak didiknya . Keenam, mengetahui bakat dan minat anak didiknya. Ketujuh, menguasai bidang studi atau materi yang diajarkan.
Tuntunan Alquran
Banyak ayat Alquran yang bisa dijadikan tuntunan oleh seorang guru dalam membimbing akhlak dan mencerdaskan anak didik, di antaranya, pertama, guru harus menjadi sosok penyabar. Allah SWT berfirman:
اِلَّا الَّذِيْنَ صَبَرُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ كَبِيْرٌ
“Kecuali orang-orang yang sabar, dan mengerjakan kebajikan, mereka memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Hud: 11)
Kedua, senantiasa menasihati dalam kebenaran. Allah Ta’ala berfirman:
وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 3)
Ketiga, memberikan pelajaran dan hikmah. Allah SWT berfirman:
اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ يَعْلَمُ اللّٰهُ مَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ فَاَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَّهُمْ فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ قَوْلًا ۢ بَلِيْغًا
“Mereka itulah orang-orang yang (sesungguhnya) Allah mengetahui apa yang ada di dalam hatinya. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka nasihat, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang membekas pada jiwanya. (QS. An-Nisa’: 63)
Keempat, memiliki rasa kasih sayang. Allah berfirman:
وَّحَنَانًا مِّنْ لَّدُنَّا وَزَكٰوةً ۗ وَكَانَ تَقِيًّا ۙ
“Dan (Kami jadikan) rasa kasih sayang (kepada sesama) dari Kami dan bersih (dari dosa). Dan dia pun seorang yang bertakwa.” (QS. Maryam: 13)
Kelima, senantiasa menyeru amar ma’ruf nahi munkar. Allah SWT berfirman:
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran : 104)
Imam Ali Ashabuni dalam Shafwatut Tafasir menjelaskan surat Ali Imran ayat 104, “Hendaklah ada di antara umat Islam sekelompok orang yang berdakwah menuju Allah, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.”
Sejalan dengan maksud ayat ini, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa di antara kamu melihat kemunkaran, maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu ubahlah dengan ucapannya, jika tidak mampu ubahlah dengan hatinya. Dan mengubah dengan hati itu merupakan cerminan dari iman yang lemah.” [HR. Muslim No. 49]
Secara tekstual, ayat dan hadis tersebut memberikan landasan strategis dalam menghadapi maraknya perilaku yang mengabaikan nilai etika, yakni seorang guru mesti berdakwah dengan cara melakukan internalisasi, transmisi, difusi, transformasi, dan aktualisasi syariat Islam sesuai dengan metode dan media yang ada, baik media cetak, media elektronika, maupun media digital.
Keenam, senantiasa mendoakan anak didiknya. Allah berfirman:
وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهِيْمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ اٰمِنًا وَّاجْنُبْنِيْ وَبَنِيَّ اَنْ نَّعْبُدَ الْاَصْنَامَ ۗ
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhan, jadikanlah negeri ini (Mekkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala’.” (QS. Ibrahim: 35)
Ketujuh, memberikan suri teladan. Allah berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Ayat tersebut menegaskan kepada kita bahwa sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kita.
Makna uswatun hasanah dalam ayat itu, menurut Imam Ali Ash-Shabuni dalam Shafwatut Tafasir, bahwa Rasulullah merupakan figur yang luhur, yang wajib kita ikuti seluruh perbuatan dan perkataannnya. Sedangkan makna uswatun hasanah menurut Imam Musthafa Al-Maraghi dalam Tafsir Al-Maraghi, bahwa Rasulullah merupakan contoh terbaik dalam semua perkataan, perbuatan, dan seluruh aspek kehidupannya.
Dalam menjalankan tugasnya, seorang guru terkadang mengalami kendala dan kesulitan. Lalu bagaimana Islam mengajarkan cara menghadapi kesulitan itu? Pertama, meminta pertolongan kepada Allah SWT. Allah berfirman:
وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ثُمَّ اِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَاِلَيْهِ تَجْـَٔرُوْنَۚ
Artinya: “Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan. (QS. An-Nahl: 53)
Kedua, jangan mudah lemah dan bersedih hati. Allah berfirman:
وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
Artinya: “Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman.” (QS. Ali ‘Imran: 139)
اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً، وَرِزْقاً طَيِّباً، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
“Ya Allâh! Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amalan yang diterima.” (HR. Ibnu Majah) []






















