4. Anjuran berinisiatif
Ajaran Islam menggalakkan pemeluknya untuk berinisiatif, merintis jalan yang belum ditempuh, mengadakan dan menciptakan hal-hal baru yang belum ada sebelumnya yang dapat memberi manfaat keduniaan bagi kehidupan umat manusia. Nabi SAW bersabda yang artinya:
“Barangsiapa yang memulai sesuatu hal (keduniaan) yang baik, baginya pahala sebanyak pahala orang yang mengerjakan hal itu, sampai hari kiamat.”
5. Memperhatikan hak keduniaan
Ajaran Islam menyuruh umatnya mencari ridha Allah dengan semua nikmat yang telah diterimanya, dan juga menyuruh mereka untuk mempergunakan hak-haknya atas dunia, sesuai dengan bimbingan agama. Allah berfirman (artinya):
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS 28:77)
6. Dorongan melakukan akulturasi
Islam gemar terhadap para pemeluknya yang pergi meninggalkan kampung halaman, menuju negeri lain untuk menyambung tali persaudaraan dan bertukar pikiran dan pengetahuan. Allah SWT berfirman yang artinya:
“Maka apakah mereka tidak berjalan di bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (QS 22:46)
Ajaran-ajaran Islam semacam di atas telah mampu melahirkan dorongan yang kuat di kalangan umat Islam untuk mewujudkan kebudayaan yang maju. Sejarah kebudayaan Islam pernah mencatat kegemilangan yang dicapai oleh umat Islam di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Tercatat nama-nama besar ahli sains Muslim yang berjasa dalam mengembangkan iptek, bukan saja bagi dunia Islam, tetapi bagi umat manusia secara keseluruhan. Mereka antara lain: Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi (780-847), Jabir ibn Hayyan, Abu Bakar Muhammad ibn Zakaria al-Razi (865-925), Abu Ali Husain ibn Abdillah ibn Hasan ibn Ali Sina (980-1037), Abu Raihan Muhammad ibn Ahmad al-Biruni (973-1048), dan Abu Ali al-Hasan ibn al-Haitam (965-1039). Mereka tercatat sebagai ilmuwan-ilmuwan yang sangat berjasa dalam mengembangkan sains dan teknologi di bidang fisika, kimia, kedokteran, matematika, astronomi, geologi, zoologi, botani, dan bidang ilmu lainnya. []





















