Tokyo, Gontornews — Pemerintah Jepang, Kamis (22/12/2022), telah menyetujui penggunaan alat tes darah untuk mendiagnosis penyakit Alzheimer. Perusahaan pembuat alat uji Alzheimer, Sysmex Corporation, menjelaskan bahwa alat ini bekerja dengan mengukur akumulasi protein dalam darah.
Selama ini, metode pendeteksi penyakit Alzheimer tergolong mahal dan mengganggu secara medis karena membutuhkan pemindaian otak atau sumsum tulang belakang.
“Sysmex telah mengembangkan teknologi untuk lebih cepat dan mudah dalam mengidentifikasi akumulasi (amyloid beta) di otak untuk memecahkan masalah dalam mendiagnosis penyakit Alzheimer,” kata perusahaan dalam rilisnya kepada AFP.
“Tidak seperti metode pengujian konvensional, alat ini memungkinkan pengujian melalui darah sehingga mengurangi beban fisik, emosional dan keuangan pasien,” sambungnya sebagaimana dilansir Channel News Asia.
Asosiasi Alzheimer di Amerika Serikat mengatakan dunia membutuhkan alat diagnostik yang sederhana dan murah untuk mendeteksi penyakit Alzheimer secara dini. “Ada kebutuhan mendesak untuk alat diagnostik yang sederhana, murah, non-invasif dan mudah tersedia seperti tes darah untuk mendiagnosis penyakit,” kata Asosiasi Alzheimer.
“Di masa depan, mereka sangat mungkin merevolusi proses diagnosis Alzheimer dan semua demensia lainnya,” sambung kelompok tersebut.
Bulan lalu, sebuah data menunjukkan obat baru bernama Lecanemab yang memperlambat penurunan kognitif pada pasien Alzheimer sebesar 27 persen selama periode 18 bulan. Namun, data tersebut juga mengungkap efek samping berupa pendarahan otak dan pembengkakan. Sekalipun demikian, obat ini mendapat pujian besar karena menawarkan pilihan pengobatan bagi mereka yang memiliki penyakit kognitif degeneratif semisal Alzheimer.
Pada penyakit Alzheimer, ada dua protein utama yakni Tahu dan Beta Amiloid yang menumpuk menjadi kusut dan plak. Akibat kemunculan dua protein tersebut banyak sel otak yang mati dan menyebabkan penyusutan otak. [Mohamad Deny Irawan]
























