Fukushima, Gontornews – Gempa 7,4 Skala Richter yang disertai gelombang tsunami di bibir pantai barat Jepang, Selasa (22/11) meninggalkan cerita penting. Di Fukushima berdiri pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Pemerintah Jepang mulai mempertanyakan apakah gempa sebesar itu berdampak pada PLTN tersebut?
Sebelum terjadi gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter di Fukushima, peneliti menjabarkan kejadian gempa yang pernah terjadi di wilayah tersebut. Pada 11 Maret 2011, misalnya, di wilayah tersebut pernah terjadi gempa berkekuatan 9.0 Skala Richter yang disertai dengan tsunami setinggi 14 meter.
Setelah gempa, empat dari enam reaktor nuklir dikabarkan rusak parah dengan tiga reaktor mengalami kebocoran. Beruntungnya, empat reaktor tersebut berada 11 km di sebelah selatan dan sistem keamanan yang dibuat Pemerintah Jepang masih memadai untuk menutup dan mendinginkan reaktor.
Tidak lama setelah gempa pertama, gempa kedua berkekuatan 6,9 Skala Richter terjadi dan menyebabkan tsunami setinggi hampir satu meter dan tidak menyebabkan PLTN Fukhusima banjir.
Meski demikian, gempa tersebut menyebabkan pompa sirkulasi dan pendingin bahan bakar yang digunakan reaktor Fukhusima Daini 3 ditutup. Setelah memeriksa sistem, baru diketahui jika reaktor itu berada dalam kondisi aman dan tidak mengalami kerusakan vital.
Science Alert menjelaskan, sebelum kebocoran tahun 2011, Jepang memiliki 54 reaktor nuklir yang beroperasi. Pasca gempa 2011, 42 reaktor dimodifikasi sedangkan 24 lainnya secara perlahan mulai diaktifkan kembali.
Modifikasi reaktor ini dikerjakan oleh Chubu Elcetric Power Company untuk mengurangi risiko kerusakan PLTN akibat tsunami. Hingga tahun 2016, Chubu diklaim telah menghabiskan dana sekitar 400 miliar Yen untuk membangun tembok laut setinggi 22 meter dan panjang 1,6 km di Shizuoka.
Setelah TEPCO, penanggung jawab terhadap reaktor nuklir di Fukushima, mengalami pemadaman aktivitas reaktor selama 4 jam akibat gempa Selasa (22/11), Pemerintah Jepang mulai berpikir untuk mengalihkan tugas pengelolaan dan tanggung jawab ke Chubu.
Dalam hal reaktor nuklir, Jepang tidak mau mengambil risiko yang mungkin berdampak bagi masyarakat Jepang. [Mohamad Deny Irawan/Rus]






















