Berlin, Gontornews — Pemerintah Jerman dikabarkan telah menerima puluhan pasien COVID-19 asal Italia, Selasa (25/3). Sebagaimana diketahui, sistem pelayanan kesehatan di Italia kewalahan dalam menangani COVID-19 sehingga menyebabkan warganya terbunuh lebih banyak daripada negara manapun.
Otoritas Jerman telah mempersiapkan segala kebutuhan untuk menyambut kedatangan sebagian besar pasien asal Italia. Untuk gelombang pertama, enam pasien asal Italia akan tiba di bandara Leipzig, Selasa (24/3) pagi. Sementara negara bagian Rhine-Westphalia Utara mengumumkan rencananya mendatangkan 10 pasien Italia dalam beberapa hari setelahnya.
“Kami membutuhkan solidaritas lintas batas di Eropa,” kata Perdana Menteri Rhine-Westphalia, Armin Laschet.
“Kami ingin menjaga semangat Eropa,” imbuhnya sebagaimana dilansir Reuters.
Menurut Perdana Menteri Saxony, Micahel Kretscmer, Pemerintah Italia telah meminta bantuan penanganan pasien korona kepada Jerman. Sebagaimana diketahui, COVID-19 telah menular ke lebih 64.000 orang dan menewaskan lebih dari 6.000 orang di Italia. Jerman menjadi negara pertama di Eropa yang menerima pasien asal Italia.
Bagi Jerman, kedatangan pasien Italia diharapkan membawakan pengalaman positif bagi pihak rumah sakit saat merawat pasien COVID-19 sebelum jumlah korban di wilayah tersebut melonjak.
Jerman memiliki 27.000 kasus COVID-19 tapi sejauh ini mengonfirmasi 114 kematian atau hanya memiliki rata-rata kematian di bawah 1 Persen. Mereka berharap kedatangan pasien COVID-19 asal Italia dapat memperkuat kapasitas perawatan intensifnya.
Pemerintah Jerman sendiri siap menggelontorkan dana besar untuk mempercepat pengadan kapasitas kesehatan saat ini. Rencananya, 28.000 tempat tidur pasien telah disediakan untuk menangani COVID-19.
Berbeda dengan negara lain di Uni Eropa, Jerman menjadi negara yang lebih teliti dalam melakukan tes COVID-19. Selain pasien dari Italia, Jerman juga menerima pasien COVID-19 asal Prancis di hari yang sama.
“Kami masih memiliki tiga, lima hingga tujuh hari sebelum kami kedatangan gelombang (yang lebih besar),” ungkap juru bicara klinik universitas di Freiburg, Hartmt Bueckle.
“Kami ingin menggunakan waktu ini untuk menawarkan tetangga kami, Prancis, yang masih memiliki kemungkinan yang sama seperti yang kami miliki saat ini,” pungkasnya. [Mohamad Deny Irawan]
























