Jakarta, Gontornews β Masyarakat Indonesia menyerukan pembatasan kepada pemerintah setelah kasus COVID-19 meningkat 500 persen dalam satu bulan.
Arabnews.com merilis, penghitungan harian infeksi COVID-19 baru naik dari 2.385 pada 15 Mei menjadi 12.624 pada 17 Juni, menurut data resmi. Lonjakan itu diperkirakan terjadi, terutama setelah liburan Idul Fitri ketika jutaan orang melakukan perjalanan antarkota di Pulau Jawa, meskipun larangan perjalanan diberlakukan pada akhir Ramadhan.
Para ahli mengatakan varian Delta dari virus COVID-19, yang pertama kali terdeteksi di India dan lebih ganas, dapat menambah masalah.
Pada hari Sabtu, Indonesia melaporkan 12.906 infeksi baru, meningkatkan jumlah total menjadi 1.976.172 kasus.
Ibukota, Jakarta, mencatat 4.737 kasus pada hari Jumat, yang oleh gubernur Anies Baswedan digambarkan sebagai βjumlah tertinggi yang pernah tercatat selama pandemi.β
Namun, pada hari Sabtu, Jakarta mencatat rekor baru dengan 4.895 kasus baru.
βLonjakan kasus terkonfirmasi COVID-19 terjadi secara bertahap selama sepuluh pekan terakhir, meskipun awalnya lonjakannya bertahap,β kata Masdalina Pane, pakar kebijakan kesehatan dan ahli epidemiologi di Ikatan Ahli Epidemiologi Indonesia dikutip Arabnews.com.
βKami sudah mengeluarkan peringatan sejak awal, tetapi tidak didengar karena kenaikannya tidak signifikan,β tambahnya.
Pane mengatakan, masalah bermula setelah pemerintah mengurangi karantina mandiri wajib untuk kedatangan internasional – dan mereka yang berhubungan dekat dengan seseorang yang terinfeksi virus corona – dari 14 hari menjadi lima hari dari awal tahun ini.
Pada akhir April, Indonesia melarang kedatangan dari India selama dua pekan.
βKita bisa mencegah masuknya varian baru ke Indonesia dengan menjalankan karantina 14 hari untuk kedatangan internasional,β katanya.
βKami memanen hasil dari kebijakan yang mengabaikan prinsip-prinsip dasar pengendalian penyakit,β tambahnya.
Pada hari Jumat, asosiasi medis mengeluarkan seruan bersama kepada pemerintah pusat untuk memberlakukan pembatasan skala luas pada aktivitas publik di seluruh Jawa.
Dokter mengatakan bahwa rumah sakit di kota-kota di Pulau Jawa kehabisan ruang tidur. Sistem perawatan kesehatan bisa runtuh kecuali pemerintah turun tangan untuk mengekang penyebaran penyakit.
βJangan sampai kita menjadi India kedua,β kata Erlina Burhan dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dalam konferensi pers virtual.
Sementara itu Aman Pulungan, ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), juga meminta anak-anak untuk membatasi kegiatan di luar ruangan pada saat pemerintah akan membuka kembali sekolah di tahun ajaran baru.
βData nasional kasus COVID-19 menunjukkan bahwa 12,5 persen kasus terjadi pada anak-anak; artinya satu dari delapan pasien adalah anak-anak,β kata Pulungan.
Ia menambahkan bahwa data asosiasi menunjukkan tingkat kematian anak di Indonesia yang terinfeksi virus corona mencapai 5 persen atau βtertinggi di dunia.β
Sementara itu, ribuan warga telah menandatangani petisi online kepada Presiden Joko Widodo yang mendesaknya untuk meningkatkan respons pemerintah terhadap krisis kesehatan.
βKami mengumpulkan hampir 2.000 tanda tangan sejak kami membagikan surat pada Jumat sore. Kami ingin menarik perhatian Presiden terhadap lonjakan kasus dan sedikitnya ketersediaan tempat tidur untuk merawat pasien COVID-19 dan bagi mereka yang perlu mengisolasi diri,β kata Irma Hidayana, konsultan kesehatan masyarakat dan pendiri gerakan komunitas Lapor COVID-19 yang memprakarsai surat itu. []





















