Ketika umat Islam bersatu, tidak ada hal yang mustahil. Ahok saja bisa dikalahkan hanya dengan demo-demo. Karena itu, Aksi Bela Islam dan Reuni 212 perlu terus dimunculkan untuk membangkitkan kesadaran umat.
Indonesia memang negara demokrasi. Siapa pun boleh mencalonkan diri menjadi pemimpin. Konstitusi Indonesia juga membolehkan non-Muslim menjadi pemimpin. Namun, ini rawan kalau non-Muslim bisa memimpin umat Islam.
βBuktinya di beberapa daerah mayoritas Muslim begitu. Karena itu, umat Islam harus diedukasi dengan al-Maidah 51 agar umat memilih pemimpin yang Muslim dan berkualitas,β ujar Ketua Umum MUI KH Maβruf Amin kepada Majalah Gontor beberapa waktu lalu.
Seiring berjalannya waktu, gairah persatuan umat Islam di Indonesia semakin tinggi, terutama pasca-Aksi Bela Islam III, 2 Desember 2016.
Sekretaris Koperasi 212 Dr Irfan Syauqi Beik menyampaikan bahwa Aksi 212 merupakan momen di mana muncul kesadaran umat secara massif untuk kembali ke jalan Allah yang lurus dan benar.
Memang awalnya karena kasus penistaan agama yang sama-sama kita ketahui. Meski demikian, Aksi 212 ini telah menumbuhkan gairah umat Islam dalam berbagai lini.
βIni yang saya kira menjadi salah satu poin penting. Kita bersyukur lewat Aksi 212 menyuruh umat untuk bangkit dari semua sisi,β ujarnya.
Dari segi politik, efeknya adalah Pilkada Jakarta. Setiap elemen umat, tanpa dikomando bergerak dengan kesadaran masing-masing menjadi tim sukses Anis-Sandi dan terbukti berhasil. Bisa dibilang, Jakarta adalah barometer perpolitikan di Indonesia. Ini menjadi awal yang baik bagi politik Islam di Indonesia.
βJika dirupiahkan ini tidak terhitung nilainya karena setiap komponen terdorong secara sadar dan sukarela menjadi tim sukses. Mereka melakukan apapun untuk mencegah agar pemimpin kafir tidak memimpin Jakarta. Itu ekspresi luar biasa. Soliditas yang luar biasa,β ujarnya kepada Majalah Gontor.
Di samping itu, lewat spirit 212 muncul kesadaran umat untuk membuat ekonomi lebih proporsional dan adil. Lewat 212 muncul Koperasi 212, Kita Mart, gerakan ritel, tower 212 dan sebagainya.
βSekarang umat menyadari bahwa ada ketidakadilan dalam bidang ekonomi dan efek dari Aksi 212 ini memunculkan kembali ghirah umat yang harus terus kita jaga, jangan sampai hilang,β tandasnya.
Menurut Direktur Pusat Studi Islam dan Pancasila FISIP UMJ Dr Maβmun Murod al-Barbasy, berbicara tentang apa yang pernah terjadi di Jakarta juga bicara tentang kepentingan politik umat Islam. Ketika umat Islam bersatu, tidak ada sesuatu yang mustahil terjadi. Itulah pelajaran yang bisa kita petik dari Aksi 212.
Ayat waβtashimu bihabhillahi jamiβan wa la tafarraqu telah terbukti untuk Jakarta. Karena itu, jangan anggap sepele ketika umat Islam bersatu. Ahok saja bisa dikalahkan hanya dengan demo- demo. Karena itu, Aksi Bela Islam dan Reuni 212 perlu terus dimunculkan.
βSupaya masyarakat sadar tentang pentingnya politik,β ujarnya kepada Majalah Gontor. [Muhammad Khaerul Muttaqien]





















