Buah pelengkap rujak ini bermanfaat untuk kesehatan. Selain menghilangkan rasa kantuk, rasa asam yang dimiliki kedondong juga bermanfaat untuk ibu hamil dan para atlet. Sesehat apa kedondong ini?
Bagi Anda yang lahir di akhir tahun 1980-an dan awal 1990-an, mungkin pernah mendengar tebak-tebakan berikut ini, “Buah apa yang luarnya surga dalamnya neraka?” dan “Buah apa yang dalamnya surga, luarnya neraka?” Jika pertanyaan pertama, jawabannya, adalah Kedondong maka jawaban pertanyaan kedua adalah Durian. Kedua buah tersebut memang bertolak belakang.
Jika durian memiliki tekstur kulit yang cenderung lancip dan tajam serta daging yang lembut, maka kedondong kebalikannya. Meski memiliki tekstur buah yang keras dan rata di bagian daging dan kulit luarnya tapi kedondong memiliki biji dengan ‘tentakel’ yang tajam. Pemilik nama Latin, Spondias dulcis forst ini memiliki rasa yang asam. Namun bagi penikmat rujak, kehadiran kedondong merupakan suatu keharusan karena sensasi rasa asamnya. Tekstur dagingnya yang padat menambah nikmat santapan rujak.
Buah kedondong memliki bentuk bulat lonjong dengan kulit berwarna hijau. Pohon kedondong biasa berbunga pada bulan Juni-Agustus dan berbuah pada Januari hingga April. Kedondong sendiri baru akan berbuah apabila umur pohon sudah mencapai 3 tahun. Kandungan buah kedondong juga menarik perhatian. Setiap 100 gram buah kedondong mengandung 60-85 gram air; 0.85-3,6 gram serat; 8-10 gram sukros; serta 0,3-1,8 gram protein. Tidak hanya itu, buah tropis ini juga mengandung 540 mg kalsium, 82 mg fosfor, serta 6,2 mg zat besi. Tidak ketinggalan, kedondong mengandung sejumlah vitamin yang baik untuk tubuh. Sebut saja, vitamin A sebesar 2900 mg; vitamin C sebesar 29 mg dan vitamin B1.
Bahkan, pada kedondong yang belum matang, ada kandungan asam pectin 10% yang bermanfaat untuk membunuh bakteri dalam tubuh. Kedondong memiliki beragam nama sesuai dengan tempat tumbuh asalnya. Misalnya, di Filipina, kedondong dikenal dengan sebuta Hevi. Sedangkan di Laos dikenal dengan nama Kook Kvan, Mokah di Kamboja, dan Gway di Myanmar. Di Indonesia, tempat pembudidayaan terbesar ada di kawasan Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah.
Ada sejumlah manfaat kesehatan yang diberikan Allah SWT melalui buah kedondong seperti kedondong sebagai obat diare. Kedondong juga bermanfaat untuk menghilangkan rasa kantuk karena rasa asam yang dimilikinya ‘menjernihkan mata’. Getah dari kulit kedondong juga bermanfaat untuk mengobati luka bakar. Selain itu, kandungan vitamin A dan C pada buah ini juga bermanfaat untuk regenerasi sel kulit yang rusak akibat luka bakar. Kandungan antioksidan yang terdapat pada kedondong dapat melindungi tubuh dari radikal bebas penyebab kanker dan penyakit kronis lainnya.
Bahkan, laman sehatbersamamakki.com menganjurkan setiap masyarakat untuk mengonsumsi kedondong paling tidak 1-3 tiga buah setiap harinya sebagai upaya melindungi tubuh dari polusi udara atau zat kimia berbahaya lainnya. Kandungan zat besi 30 mg pada kedondong juga bermanfaat untuk mereka yang menderita penyakit anemia atau kekurangan sel darah merah. Selain itu, kanjungan vitami B1 pada kedondong juga memperlancar peredaran dan oksigen ke seluruh tubuh. Kedondong juga mengandung fosfor yang amat baik untuk kesehatan gigi dan tulang.
Tak hanya itu, fosfor juga berfungsi sebagai pembentuk jaringan tulang yang disokong oleh zat besi yang melapisi jaringan tersebut. Seperti halnya timun, kedondong merupakan buah yang antikolesterol. Jika timun menetralisir kolesterol setelah makan, kedondong mengubah kolesterol jahat dalam pankreas menjadi asam empedu. Kolesterol jahat di pankreas berperan dalam pembentukan batu empedu yang berbahaya karena menghambat produksi hormon insulin.
Bagi ibu hamil, kedondong juga buah yang bermanfaat. Kedondong memberikan nutrisi dan kalori bagi ibu hamil. Pun demikian dengan atlet yang sangat membutuhkan zat asam untuk energi. Kedondong bisa dijadikan sebagai pemasok energi yang dibutuhkan oleh tubuh. [Mohamad Deny Irawan]




















