Kamboja dihuni kurang lebih 16 juta penduduk: 93 persen beragama Budha, hanya sekitar lima persen yang beragama Islam. Mayoritas Muslim Kamboja berasal dari bangsa Melayu Champa, yang tersebar di semua provinsi.
Secara historis, bangsa Melayu Champa dikenal sebagai penduduk asli Kerajaan Champa, sekarang berada di Vietnam Tengah. Kamboja merdeka pada 9 November 1953, saat ini dipimpin Raja Norodom Sihamoni sejak 29 Oktober 2004, sedangkan pemerintahannya dikepalai Perdana Menteri Hun Sen yang memimpin Kamboja sejak 14 Januari 1985.
Perdana Menteri Hun Sen ini disebut-sebut memiliki kedekatan dengan umat Islam Kamboja. Ketika tertembak di bagian mata, ada seorang Muslim yang membantu dan ayahanda PM Hun Sen banyak berkawan dengan orang Islam karena kampungnya dulu dekat perkampungan komunitas Muslim
Ketika keadaan negara kacau saat rezim Pol Pot berkuasa, ayahanda PM Hun Sen banyak menghabiskan waktu di perkampungan Muslim tersebut. “Itu yang menarik hati PM Hun Sen. Tentu, tidak hanya kepada umat Muslim, beliau juga memperhatikan semua rakyat Kamboja,” ujar Menteri Urusan Islam Negara Kamboja, Oknha Datuk Dr Othsman Hassan.
Selama Pol Pot memerintah melalui rezim Khmer Merah tahun 1970-an, rakyat Kamboja merasa terjajah oleh bangsa sendiri dan hampir tiga juta orang meninggal, termasuk di dalamnya orang Muslim. Setelah masa suram tersebut, PM Hun Sen pada masa kepemimpinannya kemudian mengeluarkan kebijakan khusus bagi umat Muslim.
Sejak tahun 2015, guru agama Islam diberi gaji dan perempuan Muslim diberikan izin untuk mengenakan hijab ke sekolah. Bukan hanya itu, Pemerintah Kamboja juga mendukung pengembangan industri halal yang salah satunya diwujudkan dengan membangun Badan Halal untuk sertifikasi produk halal.
Agar standarisasi halal Kamboja diakui negara lain, Kamboja berinisiatif menjalin kerja sama dengan negara-negara lain, termasuk Indonesia. “Kami bekerja sama dengan Universitas AI-Azhar Indonesia dan negara lain untuk meyakinkan orang mengenai kehalalan produk Kamboja,β ujar Othsman dalam bahasa Melayu dalam kunjungan ke UAI Jakarta (31/10).
Terkait hal tersebut, Rektor UAI, Prof Asep Saefuddin mengungkapkan bahwa kerja sama yang akan dijajaki UAI dengan Pemerintah Kamboja salah satunya adalah riset terkait sertifikasi halal. “Kami akan kerja sama riset halal dengan Kamboja,β ungkap Rektor UAI, Prof Asep Saefuddin seperti dikutip antaranews.com (31/9/2019).
Selain riset juga ada kerja sama pendidikan. Asep mengatakan, untuk kerja sama pendidikan, Universitas Al-Azhar akan memberikan kesempatan bagi pelajar Kamboja untuk melanjutkan studi di UAI. “Saya minta Kamboja setiap tahun setidaknya ada 20 mahasiswa bisa kuliah di Universitas Al-Azhar Indonesia,” katanya.
UAI akan membantu Kamboja untuk hal-hal yang bersifat teknis agar pelajar Kamboja bisa melanjutkan studi di UAI. Salah satunya melalui beasiswa. Ada beberapa beasiswa yang akan disediakan, seperti beasiswa dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), beasiswa Ikatan Cendekiawan Muslim ASEAN, dan IDB (Islamic Development Bank). βIntinya siapkan saja mahasiswanya, teknisnya kami yang akan mengatur,β tandasnya. [Muhammad Khaerul Muttaqien]





















