Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash RA beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: ‘Sesungguhnya Allah tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama, manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai panutan. Mereka (orang-orang bodoh) itu ditanya, lalu berfatwa tanpa ilmu. Maka orang-orang bodoh sesat dan menyesatkan’.” (Muttafaq alaihi)
Takhrij Hadis
Hadis di atas diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab (Bab Besar) al-Ilmi, bab Kaifa Yuqbath al-ilmu (Bagaimana Ilmu dicabut) dan Muslim dalam Kitab (Bab Besar) al-Ilmi, bab Raf’u al-ilmi wa Qabdhihi wa Dhuhur al-Jahl wa al-Fitan fi Akhir al-Zaman (Diangkat dan dicabutnya ilmu dan fitnah di akhir zaman). Selain mereka, beberapa muhaddis yang lain juga meriwayatkan, di antaranya: Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Darimy dan Ahmad bin Hanbal.
Syarh Hadis
Siapa saja yang merenungi hadis di atas dengan melihat realitas yang ada, akan mendapati apa yang disabdakan Nabi di atas perlahanan-lahan mulai terbukti. Jauh sebelum Pandemi Covid 19 melanda berbagai penjuru dunia, satu persatu ulama dipanggil menghadap Sang Pencipta. Fenonema ini tidak hanya terjadi di dalam negeri, tapi juga di berbagai belahan negeri Muslim. Selama pandemi, angka kematian naik drastis, termasuk kematian ulama. Di dalam negeri sendiri, sebagaimana dilansir CNN Indonesia (03/08-2021), MUI mencatat sekitar 900 ulama meninggal selama wabah ini.
Meninggalnya ulama yang merupakan pewaris Nabi jelas musibah yang tak tergantikan, sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal, padamnya lentera yang menerangi jalan umat. Semasa ulama hidup, manusia dapat mencari ilmu kepada mereka, memetik hikmah, mengambil keteladanan dan sebagainya. Sebaliknya, ketika ulama wafat, maka hilanglah semua nikmat itu. Sebagai Muslim, tentu merasa kehilangan dan bersedih atas wafatnya ulama. Hanya orang munafik saja yang tidak bersedih atas wafatnya pewaris Nabi.
Di tengah berkurangnya ulama, ada fenomena yang lebih memilukan yaitu munculnya ‘ulama’ yang berbicara tanpa ilmu atau menyalagunakan keilmuannya untuk kepentingan duniawi seperti materi dan poluralitas. Mereka pandai beretorika dan bersilat lidah bahkan tidak segan-segan memutilasi dan memelintir dalil-dalil agama untuk meyakinkan audiensnya. Makanya, tidak sedikit orang awam yang terseret dengan arus logikanya. Terhadap ‘ulama’ model ini, Rasulullah SAW memperingatkan umatnya. “Pada akhir zaman akan datang kepada umatku orang-orang yang menceramahi kalian (wahai umatku) sesuatu yang belum pernah kalian dan orang tuan kalian dengarkan. Waspadalah dan berhati-hatilah terhadap mereka” (HR Muslim).
Disadari atau tidak, munculnya ‘ulama’ seperti di atas adalah by design agar umat Islam menjadi gaduh dan terpecah belah. Dalam laporannya yang berjudul “Civil Democratic Islam: Patners, Resources and Strategies” (2003) Cheryl Benard dari Rand Coorporation, sebuah lembaga think-tank yang banyak mempengaruhi kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat, mengategorikan umat Islam menjadi empat. Pertama, fundamentalis yaitu kelompok yang menolak nilai-nilai demokrasi dan kebudayaan Barat serta menginginkan formalisasi penerapan syariat Islam. Kedua, tradisonalis, kelompok yang mencurigai modernitas, inovasi dan perubahan.
Mereka berpegang pada substansi ajaran Islam tanpa peduli kepada formalisasinya. Ketiga, modernis, kelompok yang menginginkan reformasi Islam agar sesuai dengan tuntutan zaman. Keempat, sekularis, kelompok yang menjadikan Islam sebagai urusan privasi dan dipisah dari urusan umat dan negara.
Setelah dilakukan pengelompokan atas umat Islam, langkah berikutnya adalah politik ‘belah bambu’, dengan mendukung satu kelompok dan menjatuhkan serta menginjak kelompok lain. Caranya:
- Mengonfrontir dan menentang serta memojokkan kaum fundamentalis
- Mendorong kaum tradisionalis untuk melawan fundamentalis
- Mendukung kaum modernis dan sekularis sepenuhnya dengan berbagai fasilitas.
Perlu ditegaskan di sini bahwa definisi Islam moderat versi Rand Corporation berbeda dengan konsep Islam tentang washatiyyah. Bagi mereka, Islam moderat adalah Islam yang ramah dan toleran serta kompatibel dengan nilai-nilai modernitas, meskipun terhadap hal-hal yang bertentangan dengan ajaran-ajaran yang prinsip dalam Islam. Dalam hal ini, realitaslah yang harus mengikuti (ajaran) Islam, bukan Islamnya yang direduksi atau direinterpretasi agar sesuai dengan realitas.
Di sinilah peran penting ulama, sebagai pewaris Nabi, dalam menjaga dan mengawal kemurnian ajaran pIslam. Jika peran ini diganti oleh kaum libera maupun sekular, maka Islam tidak akan pernah tampil memimpin peradaban di dunia ini. Kondisi inilah yang diinginkan oleh Barat pasca kemenagannya terhadap Uni Soviet dalam perang dinginnya (Cold War). The Clash of Civilizations antara Barat dan Islam, sebagaimana yang dipresiksikan oleh Samuel P. Huntington.
Maka dirancangkah politik de vide at impera antarumat Islam sehingga kekuatan Islam itu melemah. Pada akhirnya, setiap Muslim akan mempertanggungjawabkan peran yang diambilnya di hadapan Sang Khaliq Azza wa Jalla. Last but not least, segala upaya untuk meredupkan cahaya Islam pasti akan sia-sia. Selalu ada pertentangan terhadap usaha-usaha tersebut meski pelakunya tidak banyak. Hal itu sebagaimana yang disabdakan Nabi SAW: “Selalu ada golongan dari umatku yang menyerukan kebenaran hingga datang perkara Allah (Hari Kiamat). Celaan dan hinaan orang lain sama sekali tidak membahayakan mereka. Mereka akan tetap istiqamah dalam (menyuarakan) kebenaran tersebut.” (HR Muslim). []






















