Berkata kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair, dan Ali bin Muhammad, keduanya mengatakan: berkata kepada kami Muhammad bin Fudail, berkata: Berkata kepada kami Laits bin Abu Sulaim, dari Yahya bin ‘Abbad Abu Hurairah Al-Anshari, dari ayahnya, dari Zaid bin Tsabit, berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Semoga Allah mencerahkan (wajah) orang yang mendengar hadits dariku, lalu dia menyampaikannya (kepada orang lain), terkadang orang yang membawa ilmu agama tidak memahaminya, dan terkadang dia menyampaikannya kepada orang yang lebih paham darinya.” (HR. Ibnu Majah)
Kualitas dan Validitas Hadis
Hadis di atas hadis shahih dan mutawatir karena diriwayatkan lebih dari dua puluh orang sahabat RA dari Rasulullah SAW, dan diriwayatkan dari berbagai jalur yang banyak sekali. (Abdul Muhsin Al-‘Abbad, Kutubu wa Rasail, 3/315).
Hadits di atas diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab Sunannya, bab Man Ballagha ‘Ilman, nomor hadis 230, sehingga validitas hadis ini tidak boleh diragukan dan bisa dijadikan hujjah (dalil pijakan/argumentasi).
Hadis semisal juga diriwayatkan imam Abu Daud dalam Sunannya (no. 3660), At-Tirmidzi dalam Sunannya (no. 2656), An-Nasa’i dalam Sunannya (no. 5816), Ibnu Hibban dalam Shahihnya (no. 66), Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Ash-Shagirnya (no. 300), Ad-Darimi dalam Musnadnya (no. 237), Ahmad dalam Musnadnya (no. 4157), Imam Asy-Syafi’i dalam Musnadnya (no. 1806), dan imam-imam lainnya.
Penjelasan Hadis
Hadis di atas menjelaskan kepada kita betapa besarnya keutamaan dan kemuliaan orang yang mempelajari, memahami, kemudian menyampaikan petunjuk Rasulullah SAW (Hadis-hadis) kepada umat manusia, sampai-sampai Rasulullah SAW mendoakan kebaikan untuknya.
Hal ini menunjukkan secara tersirat pentingnya menyampaikan ilmu yang didapatkan kepada orang lain, agar manfaat ilmu semakin besar dan meluas. Inilah semangat yang menjadikan lahirnya suatu lembaga pendidikan Islam, karena tanggung jawab orang yang berilmu menyampaikannya kepada orang lain, dan tentunya dibarengi dengan usaha untuk mengamalkan ilmunya.
Seseorang untuk bisa memahami agama (Tafaqquh Fi Ad-Diin), diperintahkan untuk mencari ilmu tentang agama (Thalab Al-’Ilmi), sehingga kita temukan banyak sekali ayat Alquran (QS. Al-‘Alaq ayat 1-5, dll), dan hadits Nabi yang menjelaskan tentang kewajiban mencari ilmu (HR. Ibnu Majah, no. 224).
Perintah untuk mencari ilmu ini mengisyaratkan perlunya sumber ilmu. Hakikatnya sumber ilmu itu Allah, yang kemudian disampaikan kepada manusia melalui para Nabi dan Rasul-Nya. Sehingga ketika kita berbicara tentang lembaga pendidikan Islam, maka tidak akan lepas dari bagaimana peran Rasulullah SAW (sebagai delegasi Allah) dalam menyampaikan wahyu-Nya kepada para sahabatnya, yang kemudian dilanjutkan oleh mereka kepada para Tabi’in, kemudian Tabi’ At-Tabi’in, sehingga pada zaman sekarang.
Tradisi mencari ilmu dan menyampaikannya ini dalam sejarah peradaban Islam melahirkan pusat lembaga keilmuan Islam. Mulai dari kota Madinah, yang merupakan pusat pemerintahan Islam, lalu muncul juga di Mekkah, Baghdad, Basra, Kufah dan Kairo Mesir.
Maka lembaga pendidikan Islam sebenarnya sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW. Walaupun terbilang sederhana dan belum terlembaga dengan sistem dan strukturnya, tetapi Rasulullah telah memberikan contoh bagaimana ilmu itu harus disampaikan. Para sahabat pun semangat untuk belajar dan berguru kepada beliau. Hubungan antara para pencari ilmu dengan orang yang berilmu inilah yang menjadikan lahirnya pusat-pusat ilmu, atau lembaga pendidikan.
Urgensi Lembaga Pendidikan Islam
Keberadaan lembaga pendidikan Islam menjadi sebuah keniscayaan, selain karena mencari ilmu dan mengajarkan ilmu sebagai sebuah kewajiban agama, ia juga menjadi tuntutan umat dalam menghadapi kehidupan yang terus berkembang dan berubah.
Lembaga pendidikan pertama pada masa Rasulullah SAW adalah Dar Al-Arqam (rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam al-Makhzumi) yang merupakan tempat pertama berkumpulnya para sahabat untuk belajar Islam. Pendidik pertama dan utama saat itu yaitu Rasulullah SAW sendiri. Beliau mengajarkan wahyu yang diterimanya kepada para sahabatnya. Beliau membimbing sahabatnya untuk menghafal, menghayati dan mengamalkannya. Di antara murid beliau yaitu Khadijah binti Khuwailid (istri Nabi), Ali bin Abi Thalib (anak paman Nabi), Zaid bin Haritsah (budak Nabi yang kemudian menjadi anak angkatnya), Abu Bakar As-Shidiq (sahabat dekat Nabi), dll. [] (Bersambung)





















