Batang, Gontornews – Pimpinan Pondok Modern (PM) Tazakka, Batang, Jawa Tengah, KH Anang Rikza, menilai musim ujian sekolah belum berakhir. Sebab, ujian untuk belajar. Bukan belajar untuk ujian.
“Musim ujian ini ada yang belajar hingga larut malam. Sebelum Shubuh sudah bangun lalu belajar lagi, ini pemandangan indah. Ini namanya belajar kesungguhan untuk mengejar cita-cita,†terang KH Anang Rikza ketika memberikan sambutan pengarahan pimpinan pada upacara pembukaan ujian tulis di PM Tazakka, Batang, Jumat (13/5).
Menurut alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor, 1996, itu setiap orang harus siap diuji. Mereka yang tidak siap diuji, lebih baik mati dan tidak pernah hidup.
“Ujian ini menguji kesungguhanmu, menguji kedekatanmu pada Allah SWT,†katanya di hadapan para guru dan santri PM Tazakka.
Bahkan, lanjut Anang, kehidupan dan kematian juga bagian dari ujian. Menurutnya, tujuan dari pelaksanaan ujian adalah untuk melihat siapa yang paling baik amal perbuatanya, siapa yang paling banyak ibadahnya dan siapa yang usahanya maksimal.
“Bukan saja yang paling baik nilainya,†tegasnya.
Bagi Anang, pelaksanaan ujian di pesantren tidak seperti pelaksanaan ujian di tempat lainnya. Di pesantren, tambahnya, ujian tidak hanya dilaksanakan untuk para santri atau murid saja tetapi segala elemen pondok merasa diuji termasuk para orangtua di rumah.
“Orangtuamu di rumah juga diuji. Memondokkan kalian di sini itu ujian bagi orangtua: ujian kesabaran, ujian keikhlasan dan ujian kesungguhan dalam mencari rezeki,†ungkapnya.
“Saya dan pimpinan pondok yang lain juga diuji. Apa yang ada di pondok semuanya ini adalah ujian bagi kami,†tambahnya melengkapi.
Anang menjelaskan, ujian adalah momentum melihat nilai seseorang apakah layak untuk dimuliakan atau dihinakan. Yang menarik, Anang menyebut istilah lulus hanya layak disematkan kepada mereka yang lulus secara akademik, akhlak, dan fisik.
“Sebaliknya, kalau ujian ini ada yang tidak sungguh-sungguh, tidak jujur, mencontek dan melakukan tindakan kecurangan lainnya, maka kalian tidak lulus dan akan dihinakan,†pungkasnya. [Mohamad Deny Irawan/Rus]





















