Jakarta, Gontornews — Indonesia adalah negara demokrasi. Begitupun dengan kepemimpinannya siapa pun boleh jadi pemimpin. Namun di negara yang demokrasi ini, umat Islam juga harus berusaha secara fair dan kompetitif untuk bisa menampilkan pemimpin-pemimpin yang Islami, yang benar-benar memiliki kemampuan dan keterampilan. Demikian kata Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin dalam pidato pembukaan Muktamar Al-Ittihadiyah yang ke 19 di Bogor 28/11/2016.
Hal itu dikatakannya karena jika memilih pemimpin yang tidak baik yang tidak utama, dianggap berkhianat kepada Allah, Rasulullah, umat Islam dan masyarakat. “Kalau kita memilih pemimpin yang tidak baik, yang tidak utama, itu kita sendiri mengkhianati,” tandas Rais Am PBNU itu.
Kiai Ma’ruf kemudian mengutip sebuah hadis yang berbunyi: man istamala amilan alal muslimin, wa huwa ya’lamu anna ghairahu afdhalu minhu wa qad khanallaha warosulahu wal mu’minin. Barangsiapa yang mengangkat pemimpin publik di tengah masyarakat Muslim, padahal ada yang lain, yang lebih utama daripada dia, maka kita dianggap berkhianat kepada Allah, berkhianat kepada Rasulullah, dan kepada umat, kepada masyarakat.
“Oleh karena itu kita harus mencarikan, menyiapkan pemimpin yang Islami. Karena itu pesan Al-Maidah 51. Tetapi juga sekaligus menjadi pemimpin yang berkualitas. Jadi dua-duanya harus kita penuhi,” ungkapnya. [M Khaerul Muttaqien/Rus]






















