Oleh Nurizal Ismail, Pemerhati Sejarah Islam, Dosen STEI Tazkia
Seluruh dunia baru saja menyambut tahun baru 2019 Masehi dengan meriahnya. Padahal seharusnya, kita memperingati hari berkabung dunia karena 5 Abad yang lalu, umat Islam mendapatkan sejarah pahit dalam goresan pahit tinta sejarah dunia bahwa Dinasti Islam di Eropa jatuh setelah pasukan Kristen Eropa menaklukkan sejarah Kota Granada tepat pada pada tanggal 2 Januari 1492.
Setelah menguasai Andulusia, Bangsa Spanyol relatif tidak menghadapi perlawanan berarti saat mengekspansi ke negara-negara Muslim kecil di Afrika Utara yaitu dinasti lokal yang berpusat di Fez (sekarang Maroko), Tlemcen (Al-Jazair), dan Tunisia. Alhasil, mereka pun tunduk dan diharuskan membayar upeti kepada kerajaan Spanyol.
Akan tetapi, kekuasaan kerajaan Spanyol di Afrika Utara tidak berjalan dengan mulus seiring dengan munculnya pelaut lokal yang berani melawan kaum penjajah bernama Khairuddin. Mulanya, Khairuddin dan kakaknya ‘Aruj hanyalah seorang pelaut biasa yang biasa yang kapalnya diserang oleh kapal militer St John of Jerusalem atau biasa disebut sebagai Knight of Rhodes. Akan tetapi, serangan kapal tersebut menyebabkan adik bungsunya terbunuh.
Sejak saat itu, Aruj dan Khairuddin melakukan aksi bajak laut kepada semua kapal-kapal militer Kristen. Aksi bajak laut yang sangat menggemparkan dan sangat ditakuti militer Kristen ini kemudian dikenal dengan aksi bajak laut Barbarossa Brothers karena keduanya berjanggut merah. Sampai saat ini jika anda menonton film-film bajak laut karya produser Barat, seperti Pirates of Carribean, maka tokoh Kapten Barbossa selalu digambarkan dengan sosok bajak laut berjenggot merah.
‘Aruj menciptakan kerajaan kecil merdeka di pelabuhan kecil bernama Jijilli. Pelabuhan Jijilli sendiri berada di sebelah timur Aljir yang membentang dari pantai Aljazair hingga Tlemcen di Barat. Wilayah ini termasuk wilayah yang berhasil ditaklukan pada tahun 1517. Akan tetapi, di tahun yang sama, Kerajaan Mamluk jatuh ke tangan Turki Utsmani oleh Salem.
Setelah ‘Aruj terbunuh oleh tentara Spanyol dan keinginan untuk mempertahankan Tlemcen dari kerajaan Spanyol, Khairuddin sadar bahwa ia dan pasukannya tidak mungkin melawan kerajaaan Spanyol sehingga ia memutuskan untuk ‘berkoalisi’ dengan Khilafah Utsmaniyah dan bersekutu untuk berjihad melawan tentara Kristen di Laut.
Khairuddin lahir di Lesbos pada tahun 1478 Masehi. Ayah Khairuddin, Yaqub merupakan seorang kristen Yunani yang kemudian masuk Islam. Khairuddin Barbarossa lebih dikenal dibandingkan saudaranya, ‘Aruj, karena memiliki talenta dan kemampuan hebat dalam dalam merancang strategi angkatan laut yang membuat musuh-musuh Islam di lautan Mediterania ketakutan.
Pada tahun 1519, Khairuddin mengirim utusan ke Turki Utsmaniyah seraya membawa hadiah dan petisi rakyat Aljir untuk meminta perlindungan kepada Sultan Selim, seorang Sultan dari Khilafah Turki Utsmaniyah. Khairuddin pun menawarkan diri untuk menjadi bawahannya dan di tahun yang sama ia diangkat menjadi Gubernur di Algeria.
Beberapa aksinya di lautan Mediterania membuat Kerajaan Spanyol tidak dapat tidur dengan tenang. Pada tahun 1520, ia berhasil merebut Kapal Eropa yang membawa gandum yang kemudian untuk diberikan kepada orang-orang yang tinggal ditepian pantai Aljazair, yang saat itu menderita kekurangan pangan akibat kekeringan.
Banyak kerugian yang ditanggung Kerajaan Spanyol seperti ditenggalamkannya galley Spanyol, dibebaskannya budak Muslim, para bangsawan yang ditahan untuk mendapatkan tebusan tinggi, dan rakyat jelata dijual sebagai budak. Sehingga, Kaisar Charles V menunjuk Komandan Andrea Doria (1466-1560) untuk memimpin armada laut Spanyol melawan Khairuddin.
Pertemuan pertama di tahun 1529-1530, pasukan Khairuddin berhasil merebut benteng Spanyol di teluk Aljir. Pada tahun 1535 gabungan sekutu Charles V dan Andrea Doria yang berubah nama menjadi Knight of Malta berhasil menguasai Tunisia dengan membawa 500 kapal yang berisi 25.000 lebih pasukan untuk melawan Khairuddin dan armadanya. Pada Tahun 1541, pasukan Spanyol mengerahkan armada lautnya dengan sangat besar terdiri dari 65 galley, 400 lebih kapal pengangkut dan 36.000 tentara. Sedangkan Khairuddin hanya memiliki 1.500 Yeniceri, 6.000 moriscos dan beberapa ratus tentara liar saja.
Jika dilihat dari sisi jumlah, Khairuddin mungkin saja akan kalah. Terlebih, seorang perwira armada Khairuddin telah mengatakan bahwa armada Kristen sangat banyak. Akan tetapi Khairuddin berujar dan meminta kepada pasukannya untuk tidak lupa dengan bantuan Allah swt berikan kepada pasukan Muslim kala melawan musuh agamanya.
Doa Khairuddin lantas diijabah dengan berubahnya cuaca secara tiba-tiba di malam itu. Badai ganas lantas melontarkan armada Spanyol ke pantai berbatu. Akibatnya, sekitar 150 kapal dan 12.000 tentara Spanyol tewas dan berhasil tertangkap oleh pasukan Khairuddin. Kerajaan Spanyol, pada saat itu, menganggapnya sebagai kekalahan terbesar yang pernah menimpa armada Spanyol. Di sisi lain, Khairuddin dan Pemerintah Utsmaniyah selalu merayakan kemenangan pasukannya atas Kerajaan Spanyil di Aljir setiap tahunnya.
Khairuddin Barbarossa meninggal dunia pada tahun 1546 di usia 80 tahun. Di masa pemerintahannya, Khairuddin telah membantu Khilafah Utsmaniyah menguasai pantai Afrika Utara di masa pemerintahan Sultan Sulaiman I. Jasanya terhadap Turki Utsmani tidak pernah dilupakan sebagai laksamana laut yang paling ditakuti oleh Barat masa itu.
Meski Barat menjuluki Khairuddin sebagai bajak laut, namun bagi seorang muslim, Khairuddin adalah pahlawan sekaligus laksamana Islam yang mampu melawan penjajahan Bangsa Spanyol dan membebaskan Afrika Utara.





















