Pendidikan merupakan kunci kemajuan suatu bangsa. Pendidikan yang kurang bermutu akan menyebabkan generasi penerus menjadi lemah. Karenanya antusiasme masyarakat untuk terus menjalani pendidikan harus terus digaungkan. Salah satunya pendidikan formal hingga tingkat doktoral.
Jika dibanding dengan negara tetangga, Indonesia tergolong negeri yang sedikit mencetak gelar doktor. Dari setiap satu juta penduduk di Indonesia hanya terdapat 143 doktor. Berbeda dengan Malaysia, rasionya 509 doktor dari setiap satu juta penduduknya.
Untuk mengetahui sejauhmana program doktoral penting untuk negeri ini, wartawan Majalah Gontor Fathurroji mewawancarai salah satu alumnus Pondok Modern Gontor yang meraih dua gelar doktor dari Malaysia dan Jerman, Syamsuddin Arif MA PhD. Berikut petikan wawancara dengan dosen pascasarjana Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor dan peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) itu.
Bagaimana Anda melihat program doktor di Indonesia?
Secara kuantitas jumlah kampus maupun pilihan program yang tersedia sekarang ini meningkat pesat. Pada 2012, jumlah penyandang gelar doktor di Indonesia baru sekitar 25.000 orang. Dua tahun kemudian (2014) angka itu naik tiga kali lipat menjadi 75.000 orang. Yakni, 143 doktor per 1 juta penduduk. Untuk meningkatkan jumlah doktor ini, pemerintah melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) mengalokasikan dana yang saat ini mencapai Rp 20,6 triliun untuk beasiswa bagi para mahasiswa yang memiliki prestasi akademis tinggi.
Apakah jumlah penyandang doktor itu sudah bisa dikatakan banyak?
Jumlah ini masih terbilang rendah jika kita bandingkan dengan negeri jiran Malaysia yang memiliki 509 doktor per 1 juta penduduknya. Begitu juga dengan Cina yang memiliki tak kurang dari 500.000 doktor. Namun begitu, secara kualitas juga mungkin masih perlu di-upgrade khususnya produktivitas ilmiah di level internasional. Kita patut mengapresiasi jumlah yang ada ini. Ke depan pemerintah harus terus berupaya memperbaiki mutu lewat sistem akreditasi dan dana hibah penelitian.
Mengapa Anda mengejar gelar dua doktor? Apakah satu gelar doktor kurang?
Sebenarnya satu gelar doktor pun cukup. Itu kata profesor pembimbing ketika saya baru saja lulus viva voce di ISTAC IIUM Malaysia. Tetapi karena waktu berangkat ke Frankfurt itu dengan ijazah S2, maka saya diterima sebagai mahasiswa doktoral di sana. Beasiswa dari Pemerintah Jerman melalui DAAD. Prinsip saya, belajar terus selagi ada peluang, because opportunity rarely comes twice, kesempatan jarang datang dua kali.
Bagaimana perjuangan meraih gelar doktor di luar negeri?
Kuliah S3 jelas tidak mudah. Apalagi di luar negeri. Di samping masalah bahasa, mahasiswa pasti menghadapi persoalan biaya. Waktu itu kan belum ada LPDP. Jadi hanya orang berada (orangtuanya kaya), cerdas (berprestasi) bisa kuliah sampai S3 di luar negeri. Dan saya bukan dua-duanya. Saya cuma beruntung, mungkin karena sering didoakan oleh orangtua, sehingga lolos seleksi dan tes wawancara. Sampai ke Jerman itu pun tidak menyangka dan tidak terbayang karena kondisi keuangan yang pas-pasan. Gara-gara kelas bahasa Prancis sudah penuh, saya tergiring masuk kelas bahasa Jerman yang pesertanya cuma beberapa orang.
Mengapa peminat program doktor lemah di Indonesia?
Ada beberapa sebab. Pertama, karena jumlah lulusan S2 masih sedikit dibanding lulusan S1. Otomatis, peminat program magister lebih banyak daripada program doktor. Kedua, karena masalah finansial. Biaya program doktor di universitas swasta saja sampai selesai tak kurang dari 80 hingga 100 juta rupiah. Itu yang dibayarkan ke kampus saja. Belum termasuk akomodasi, transportasi, makan-minum, dan lain sebagainya. Ketiga, karena alasan pragmatis. Buat apa sekolah lagi sampai doktor segala kalau dengan S1 saja sudah bisa kerja, gaji lumayan dan hidup nyaman? Apalagi kalau mesti mengorbankan pekerjaan, menunda karir, dan hidup susah.
Lain halnya di negara-negara maju. Banyak orang yang kuliah lagi untuk meningkatkan intelektualitas. To gain more knowledge and deeper understanding. Karena ingin menambah ilmu dan mempertajam akal. Mereka tidak puas dengan technical knowledge. Supaya meningkat dari ilmu praktis, ilmu teoritis dan ilmu hikmah.
Sebaiknya mengambil program doktor atau kerja?
Sebenarnya di negara maju itu pendidikan ada dua, pendidikan vokasional dan pendidikan keilmuan. Untuk pendidikan kejuruan atau vokasional tidak perlu gelar doktor. Menristekdikti sudah menggagas, untuk mengurangi angka pengangguran, lulusan SMA memilih jalur kejuruan sepeti program diploma, yang nanti langsung diserap industri. Sebenarnya itu disesuaikan dengan kebutuhan orangnya. Bekerja itu di sektor apa, misalnya di bank tidak sampai ke doktoral. Kita tahu manajer di perusahaan swasta gajinya hampir sama dengan seorang profesor. Tapi kalau karirnya di dunia pendidikan, program doktor mutlak diperlukan untuk menunjang skill-nya. Bahkan menempuh doktor sudah menjadi kewajiban.
Bagaimana permintaan terhadap lulusan doktor?
Saat ini kampus bertambah terus, mahasiswanya juga bertambah terus, jadi ada kebutuhan tenaga profesional di bidang pendidik yang bergelar doktor.
Khusus untuk alumni Pondok Modern Gontor, sebaiknya alumninya ke mana?
Perlu ada penyebaran. Artinya alumni pesantren menyebar ke sektor pemerintah dan swasta. Misalnya ada alumni yang melanjutkan ke bidang hukum, dan sekarang menjadi pengacara langka karena ia menguasai bahasa Arab dan Inggris. Punya wawasan keumatan dan memperjuangkan kebenaran, bisa jadi ustadz. Secara profesional dia kompeten di bidangnya.
Kebanyakan alumni Gontor arahnya ke bidang apa?
Banyak yang lulusan UIN. Ada juga yang lulusan luar negeri dan lain sebagainya. Tapi secara umum masih di bidang Islamic Studies. Ada pendidikan Islam, hukum Islam, ekonomi Islam dan lain sebagainya.
Apa saran Anda untuk bisa menempuh program doktor?
Pendidikan doktoral merupakan keistimewaan karena tidak semua orang punya akses ke sana. Kecuali ada koneksi, atau sudah menjadi dosen, dan mahal biayanya. Sekarang harusnya lebih mudah karena ada salurannya. Banyak program beasiswa yang bisa dicoba untuk ikut. Doktor dengan biaya sendiri jarang sekali, kecuali anak orang kaya atau dibiayai oleh kampusnya, yayasannya. Setelah kembali harus mengabdi. Itu dianggap pinjaman yang harus dibayar dengan pengabdian.
Apa kendala yang sering dihadapi program doktor?
Menempuh program doktor biasanya seseorang baru membentuk rumah tangga, anak masih kecil-kecil. Tidak mungkin untuk membiayai doktornya. Karena itu biasanya mendapatkan beasiswa. Kendala lainnya adalah bahasa, kalau di luar negeri harus menggunakan bahasa asing dan itu harus dipersiapkan sebelum berangkat. Kalau bisa penelitiannya itu sudah selesai dilakukan di Indonesia dengan bahasa Indonesia, saat di luar negeri tinggal alih bahasa. Jadi saat di sana jangan lagi membahas penelitian. Kendala lainnya sosial kultural, merasa kesepian atau tidak nyaman, namanya juga tinggal di negara orang. Banyak sesuatu yang tidak ditemukan di Indonesia, mulai soal makanan, iklim. Kalau itu tidak kuat akan mempengaruhi saat belajar.
Apa kiat untuk bisa cepat lulus doktor?
Menjaga hubungan baik dengan pembimbing. Pembimbing doktor harus yang all out, bukan hanya yang memeriksa tesis kita tapi juga mampu menyelesaikan masalah. Pembimbing sangat menentukan juga. Soal penelitian hendaknya mengikuti saran pembimbing atau kampus. Dan harus punya dua versi, versi ideal yaitu seperti yang kita kehendaki. Versi real ini yang diminta oleh kampus atau pembimbing. Jadi jika penguji bilang untuk dihapus, diganti, dan lain-lain harus dipenuhi. Dan kita harus menurut agar lulus. Kalau kita bertahan apa yang ideal akan gagal. Jadi versi ideal tetap disimpan, tapi yang versi real lolos dari penguji. Nanti yang versi ideal bisa dipublikasikan lebih dalam lagi setelah wisuda. Jangan bertengkar dengan pembimbing.
Apa kendala menempuh gelar doktor di dalam negeri?
Kalau di kampus dalam negeri, masalah sosial kultural dan bahasa tidak ada kendala. Tinggal biaya dan hubungan dengan pembimbing.
Apakah bekal pendidikan Gontor membantu dalam proses belajar?
Ya, Pak Kiai sering berpesan, bahwa ujian itu untuk belajar dan bukan belajar untuk ujian. Tujuannya bukan untuk mencari nilai, bukan karena naik kelas atau dapat nilai. Kelihatannya sederhana tapi itu sangat mendalam. Di samping niat dan cara belajar, di Gontor kita mendapatkan mental pejuang, tidak mudah menyerah. Biasanya orang dihadapkan pada rintangan langsung mundur. Di Gontor diajarkan untuk tidak mudah menyerah dan mencari jalan keluar untuk melalui rintangan itu. Kita dilatih untuk mencari solusi dan mencari jalan keluar. Dalam kehidupan nyata kita harus bersaing dengan banyak kandidat, dan itu nanti akan menjadi dasar petimbangan untuk lulus.
Apa pesan Anda untuk para alumni yang mengejar program doktor?
Doktor itu untuk mengukuhkan keilmuan, kepakaran kita dalam satu bidang tertentu. Makanya biasanya doktor itu takhasus, jangan sampai setelah selesai doktor itu akhir dari ilmu, itu justru harus dikembangkan. Secara formal memang sudah paling puncak, tapi itu bukan akhir perjalanan menuntut ilmu. Jangan sampai setelah doktor menuju proses kebodohan karena sudah tidak belajar lagi. Jadi tidak boleh berhenti belajar meski sudah selesai program doktor. []
Curriculum Vitae Syamsuddin Arif
Alamat: Jl Ki Hajar Dewantara, Gg Roda, Rt/Rw 01/12, No 56 Kp Sawah Ciputat, Tangerang Selatan
15413 Banten, Indonesia
Contact No: +62-813-3231-8484
E-mail: [email protected]
Professional Experience:
Visiting Research Fellow: Oxford Centre for Islamic Studies, Oxford UK. Oct 2017 β March 2018
Executive Director: Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) Jakarta. Oct 2015 – Aug 2017
Associate Professor: Universiti Teknologi Malaysia (UTM) Kuala Lumpur. July 2012 β July 2015
Assistant Professor: International Islamic University Malaysia (IIUM) July 2007 β July 2012
Visiting Student: Orientalisches Seminar, Frankfurt University Germany. October 2003 β June 2007
Visiting Student: Arabic Calligraphy School, IRCICA Istanbul, Turkey. April 2002 β June 2002
Education:
1992-1996 International Islamic University Malaysia (IIUM)
1996-1999 International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC-IIUM)
1999-2004 International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM)
2004-2007 Johann Wolfgang Goethe-UniversitΓ€t Frankfurt/Main, Germany
Languages:
Malay, Arabic and English (good), German (fair), French, Latin, Greek (reading)
Awards:
2003-2007 Deutscher Akademischer Austauschdienst (DAAD) Stipendium
1999-2003 ISTAC Work-Study Financial Aid
1996-1999 Government of Malaysia Scholarship
1992-1996 Iqra Foundation Scholarship, Saudi Arabia
Consultation/Professional Service:
Editorial Board Member, al-BayΔn β Journal of Qurβan and Hadith Studies, Brill, Leiden, Netherlands
Editorial Board Member, TsaqΔfah β Journal of Islamic Civilization, ISID Gontor
Editorial Board Member, Khazanah β Journal of Islamic Studies, Universitas Ibn Khaldun Bogor, Indonesia
Editorial Board Member, Kalam β Journal of the Usul al-Din Faculty, IAIN Raden Intan, Bandar Lampung, Indonesia
Reviewer, Journal of Islamic Studies, Oxford Centre of Islamic Studies, UK
Reviewer, TafhΔ«m β Journal of the Institute of Islamic Understanding, IKIM Malaysia
Reviewer, AfkΔr – Journal of Islamic Thought, Islamic Studies Academy Universiti Malaya
Reviewer, Katha β Journal of the Centre for Civilisational Dialogue, Universiti Malaya
Reviewer, Manu β Jurnal Pusat Penataran Ilmu & Bahasa, Universiti Malaysia Sabah
Reviewer, βUlΕ«m Islamiyya β The Malaysian Journal of Islamic Sciences, Universiti Sains Islam Malaysia (USIM)
Untuk memahami tulisan-tulisan Syamsuddin Arif bisa kunjungi link di bawah ini:
1. http://comparativegontor.academia.edu/SyamsuddinArifΨ΄Ω
Ψ³Ψ§ΩΨ―ΩΩΨΉΨ§Ψ±Ω
2. https://scholar.google.co.id/citations?user=_kQiy9AAAAAJ&hl=en&oi=ao























