Oleh KH Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Gontor
Mendidik calon-calon pengasuh anak dan anak didik, pemimpin sektor-sektor kewanitaan dan kekeluargaan bersama membina masyarakat terdidik dengan baik.
Perguruan tinggi tempat/miliu mendidik calon-calon pemimpin, memimpin calon-calon pendidik. Birokrat memanaj kehidupan/miliu agar terpimpin dan terdidik. Seharusnya usahawan, polisi, tentara dan lain-lain bekerjasama. Ta’awun!
Nasib perguruan tinggi/universitas di negara-negara berkembang kurang beruntung. Hanya dimanfaatkan oleh pihak non-akademisi untuk meningkatkan keuntungan, mengurangi kerugian/cost. Maka buru-buru banyak perguruan tinggi menaikkan tarifnya langsung atau tidak langsung. Perguruan tinggi pesantren suatu keunikan tersendiri. Konon dianggap di sana hanya mendidik pak turut atau produsen generasi tertutup. Belum tahu dia! Sami’naa wa atha’naa, tidak asal pakai, taat total, dengar total alias ibarat mata sudah buta tertutup lagi.
Seperti universitas, sektor-sektornya terasa kurang berfungsi. Fasilitasnya relatif cukup, meskipun fasilitas itupun bukan jaminan kemajuan dan keberhasilan. Wanita melahirkan calon-calon pendidik dan pemimpin, bahkan calon-calon praktisi/pelaku profesi lain, sementara wanita itu sendiri calon-calon pendidik dirinya sendiri.
Guru pejuang tidak pernah rela, mau dan merasa dijajah. Guru uang sudah terjajah sebelum dijajah, kalah sebelum kalah, mati sebelum mati, mengubur diri sebelum dikubur. Amit-amit!
Manusia itu guru, pemimpin dan manajer pada skala/scope yang berbeda-beda. Maka mampu menjadi guru itu mutlak! Why? Karena kebutuhan tak berhenti. Menjadi Guru al-Qurβan, umpamanya, siapa yang bertanggung jawab mengajar umat buta baca al-Qur’an di pelosok-pelosok desa, di tempat-tempat yang minus keislamannya, minus ekonominya dengan sukarela tanpa imbalan/gaji? Dosa siapa meninggalkan fardhu ‘ain, fardlu kiffayah? Kapan dan di mana?
Juga IPTEK
Bisa berhasilkah, berjalankah tanggung jawab pengembangannya hanya dengan demonstrasi? Dengan makalah, seminar, pidato, dan seterusnya?
Siapa yang mau? Tinggikan semangatnya? Semangat how to teach, how to manage, how to lead. Semangat dengan bekal to live segala zaman, tapi tetap siap, to do sampai to work, lillah! Lillah!
Mengajar sebagai aspek pembinaan jiwa, watak kepribadian, akhlaq keilmuan di sekolah, di masyarakat dan medan yang lain. Seperti:
1. Kedewasaan, pendewasaan diri (kematangan) dalam: Berfikir ilmiah, tambah bahan, keyakinan meningkat, wawasan keilmuan bertambah luas, berani menghukumi sesuatu dengan kebenaran tanpa dipengaruhi, diprovokasi, dibisiki; bercermin diri dengan cermin kejujuran; Kematangan fisik sesuai umur dengan kontrol kesehatan bila diperlukan, di samping terus kontrol kekuatan dan keteguhan: istiqamah; Toleransi, rasa sosial berupa tolong menolong kebersamaan tanpa melupakan kebebasan berijtihad pribadi demi kemajuan; Inovasi, improvisasi.
2. Keadilan, kejujuran sebagai mental wajib guru, pemimpin sehingga objektivitas mengajak kesabaran berdasar, berasas yang benar.
3. Kesopanan dalam arti yang luas seperti beretika proseduril, tidak grusa-grusu menonjol-nonjolkan diri, merasa benar dan pintar sendiri.
4. Kecakapan menempatkan urutan prioritas dan skala/strata dari paling penting, lebih penting, penting, kurang penting hingga tidak penting, menjadikan guru sebagai panutan masyarakat dan bangsa. [bersambung]























