Ini pertemuan Kemisan pertama di awal tahun ajaran 1445/2024. Kalau ada hal-hal yang sudah pernah disampaikan, maka itu sebagai penekanan. Dan bila ada hal-hal yang baru, maka itu sebagai ilmu. Tentang nilai harus sering diulang-ulang supaya dipahami dengan baik. Di dalam Al-Qur’an ada beberapa ayat yang diulang-ulang, seperti dalam surat Ar-Rahman:
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۚ
“Maka nikmat Tuhanmu mana lagi yang kamu dustakan.”
Kisah-kisah Fir’aun dan para Nabi juga harus diulang. Hal-hal yang penting memang harus diulang-ulang supaya bisa melekat dan diingat. Bahkan Kiai Syukri mempunyai istilah ‘ping sewu’, diulang-ulang seribu kali dalam menyampaikan pengarahan.
Tahun ini akan banyak hal baru dan perubahan, namun semua perubahan itu menuju kebaikan, menuju kesempurnaan, ilal kamal, sedang nilai-nilai Pondok tetap teguh, tidak boleh berubah. Al-muhafadzatu ‘alal qiyam wa at-taghyir ila al-kamal.
Al-Ma’hadu la yanāmu abadan (Pondok tidak pernah tidur selama-lamanya). Pondok penuh dinamika, berpacu, jangan menoleh. Ingin maju, tidak usah menunggu diajak. Yang dikejar prestasi yang lebih baik, tidak terpengaruh kondisi orang lain. Dunia cepat berubah, kalau kita tidak cepat akan terlindas.
Kita akan membuat surga sendiri di Pondok ini. Al-ma’hadu yuhibūna wa nuhibbuhu (Pondok ini mencintai kita dan kita mencintai pondok ini), seperti disabdakan oleh Nabi SAW tentang Jabal Uhud. “Uhud jabalun yuhibbuna wa nuhibbuhu (Uhud gunung yang mencintai kita dan kita mencintainya). Di sini, kita membuat kenyamanan, ketertiban, keindahan. Inilah surga kita di dunia ini.
Di dunia, kita bisa membuat surga kita sendiri, sebelum nanti di akhirat Allah menjanjikan surga bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Rumah tangga yang harmonis merupakan surga, Baytī jannatī (Rumahku surgaku). Demikian pula dengan pondok, dengan kehidupannya yang dinamis namun tetap penuh kedamaian, dihiasi akhlak para penghuninya, teratur, rapi dan tertib dengan kesadaran disiplinnya merupakan surga.
Situasi di luar tidak menentu, untung ada pesantren. Untung kita tetap menjaga identitas dengan penuh kesadaran. Kita mempunyai sikap tegas dan jelas sebagai Lembaga Pendidikan, tidak mudah terseret-seret. Kita mendidik tapi tidak buta politik, supaya tidak terlibas oleh politik.
Spirit kita kemodernan, kemajuan, ketertiban, kedisiplinan, kerapian, pandangan jauh ke depan. Dan referensi kita untuk pengembangan pondok jelas, di antaranya buku pekan perkenalan Khutbatul Arsy jilid 1 dan 2, Dokumen Pembukaan Perguruan Tinggi Darussalam tahun 1963, Dokumen PERSEMAR tahun 1967, Piagam Wakaf tahun 1958, wasiat-wasiat pendiri, AD ART BW (Badan Wakaf), Buku Penggal Sejarah 1, 2 dan 3, dengan tetap menjaga keharmonisan kultur dan struktur secara beriringan.
Memasuki seratus tahun kedua, kita mempunyai banyak program ke depan. No Time for ecek-ecek, istilah yang sering diucapkan Kiai Syukri. Nilai-nilai tidak boleh berubah. Jangan sampai seperti Syanggit yang berubah orientasi dan menjadi korban kolonialisasi dan lupa kaderisasi. Kita berpikir 100 tahun kedua, ketiga dan seterusnya. Saat ini masa Gontor Emas, The Golden Era of Gontor. Idealisme Gontor yang tinggi memang tidak akan selesai dituntaskan oleh satu atau dua generasi melainkan diperlukan perjuangan berkesinambungan, terus menerus dari generasi ke generasi.
Kalau Indonesia meninggalkan UUD 1945 dan Pancasila, meninggalkan agama, akhlak dan nilai-nilai luhur keindonesiaannya, akan terhempas. Demikian pula Pondok kita kalau meninggalkan nilai-nilai jiwa dan falsafahnya. Karena itu kita tetap menjaga nilai-nilai, namun tidak beku dan jumud, tetap melakukan perubahan menuju kesempurnaan.
المُحَافَظَةُ عَلَى القِيَمِ واَلتَّغْيِيْرُ إِلَى الكَمَالِ
[]
*)Disampaikan dalam pertemuan Kemisan Guru KMI, 25 April 2024, oleh KH Hasan Abdullah Sahal. Tulisan disadur dari buku “The Garden of Wisdom: Spiritual and Philosophical Wisdom. Wejangan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal” yang disusun oleh Ahmad Suharto.






















