Bogor, Gontornews — Pendiri dan pemilik Klinik Pendidikan MIPA (KPM), Dr Raden Ridwan Hasan Saputra akhirnya berhasil melewati Sidang Terbuka Promosi Doktor Pendidikan Agama Islam di Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor pada akhir April 2021.
Dr Ridwan pun lantas memaparkan bahwa seharusnya komponen pendidikan nasional diarahkan pertama kali membentuk peserta didik beriman dan bertakwa.
Prinsip inilah yang lantas membawanya untuk terus memperjuangkan disertasinya yang berjudul, “Penerapan 7 Sunnah Nabi Muhammad SAW dan Hubungannya dengan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking Skills) Siswa dalam Bidang Matematika”.
Kesimpulannya, pelaksanaan tujuh sunnah yaitu shalat fardhu berjamaah, tahajud, dhuha, membaca al-Qur’an, puasa sunah, sedekah, dan menjaga wudhu. Kesemua hal tersebut memiliki hubungan signifikan dalam peningkatan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dalam matematika.
Kepada Gontornews.com Dr Ridwan lantas menuturkan bahwa pendidikan dasar yang penting diberikan kepada anak sejak usia dini adalah pendidikan keimanan. “Sehingga anak-anak yakin kepada Allah SWT, percaya kepada yang gaib, kemudian adab dan akhlak,” jelasnya Sabtu (8/5).
Pria kelahiran Bogor, 16 April 1975 itu pun kemudian menerangkan bahwa menyelesaikan masalah pendidikan memang tidak semudah membalikkan kedua telapak tangan karena sudah parah dan beragam. Perlu strategi tak biasa.
Sebagaimana disadur media Republika, Raden Ridwan Hasan Saputra menyampaikan agar kita semua merenungkan kembali tujuan pendidikan nasional pada Pasal 33 UU No 20 Tahun 2003, yakni “Mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
Maka, seharusnya komponen pendidikan nasional diarahkan pertama kali membentuk peserta didik beriman dan bertakwa. Namun, saat ini justru lebih ditekankan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi agar mudah memperoleh pekerjaan. Keberhasilan dilihat dari hal duniawi.
Pendidikan suprarasional berhasil jika orang Indonesia memiliki keyakinan tinggi kepada Allah SWT. Sehingga dari keyakinan tersebut diharapkan akan menghadirkan pertolongan dari Allah SWT. Dan hal inilah yang disebut sebagai cara berpikir suprarasional.
Jika manusia sudah beriman dan bertakwa, in syaa Allah manusia itu akan dekat dengan Allah SWT. “Jika sudah dekat dengan Yang Maha Mengetahui, Maha Kaya, dan seterusnya, seperti yang ada di Asmaul Husna, in syaa Allah manusia tersebut mudah untuk mendapat ilmu, sesuai dengan bakat alamiahnya masing-masing,” tambahnya.
Selain itu, keyakinan kepada Allah SWT akan memudahkan manusia dalam mendapatkan rezeki, in syaa Allah akan banyak kemudahan dalam hidupnya. “In syaa Allah hidupnya akan sukses,” tegas sang doktor.
Kemudian Dr Ridwan pun menjelaskan tentang cara berpikir suprarasional jika diaplikasikan kepada non-Muslim, “Hal ini bersifat objektif, artinya kalau non-Muslim sedekah, bangun malam, puasa, dan seterusnya, maka dalam urusan duniawi mereka akan merasakan manfaat yang sama untuk urusan dunia, tapi untuk urusan akhirat saya tidak bisa memberi komentar apa-apa.”
Artinya konsep ajaran Islam ini memang akan jadi rahmatan lil’alamin, bermanfaat untuk semua masyarakat lintas bahasa, agama, dan bangsa. Hanya saja masalahnya orang Islam saat ini banyak yang tidak melaksanakan ajaran Islam dengan baik. “Sehingga orang Islam sekarang tidak merasakan rahmat Islam itu sendiri,” pungkas Dr Ridwan kepada Gontornews.com. [] Edithya Miranti






















