Tangerang, Gontornews — Wacana tentang Islam kontemporer khususnya yang dibangun di Barat seringkali menggambarkan Islam dalam ranah yang penuh distorsi dan mengundang kegalauan. Sebut saja tema-tema seperti fundamentalisme, radikalisme, dan terorisme masih sangat intens dihubungkan dengan Islam.
Dr Badarussyamsi, MA, dalam disertasinya yang secara spesifik mengkaji pandangan Barat atas Islam khususnya dalam isu-isu kontemporer mengakui adanya problem konseptual dalam penggambaran Islam dan Muslim oleh Barat hingga dewasa ini.
Dalam disertasi berjudul Kritik atas Konstruk Barat tentang Fundamentalisme Islam, pria yang akrab disapa Syamsi itu menguraikan secara mendetail tentang problem konseptual dan kecenderungan obsesi superioritas Barat dalam konstruk wacana Islam kontemporer.
Semisal wacana tentang fundamentalisme Islam. Sebagai sampelnya, Syamsi mengkaji pandangan-pandangan R Scott Appleby dan Beverly Milton-Edwards, Samuel Huntington, Bernard Lewis, dan pakar Barat lainnya.
Dalam disertasi yang dibimbing oleh Prof Dr Azyumardi Azra, MA dan Prof Dr Bahtiar Effendy, MA, Syamsi menjelaskan bahwa sebagai akibat dari adanya problem konseptual Barat atas Islam ini maka fundamentalisme Islam dan bahkan Islam sekalipun telah digambarkan sebagai kekerasan agama, terorisme, dan ancaman bagi Barat.
Syamsi menyatakan bahwa jika diuraikan secara detail, problem konseptual itu meliputi sifat kajian keislaman yang bersifat ambigu, generalistik, dan binary. Ditambah lagi, kajian Barat mengenai Islam juga tidak luput dari adanya obsesi superioritas seperti hegemoni, dominasi, kolonialisme, dan orientalisme, ungkapnya.
Menurut Syamsi, pada tataran konseptual, sifat ambiguitas, binary, dan generalistik menghasilkan konstruk pengetahuan fundamentalisme Islam yang sarat dengan kerancuan, cenderung multi makna, serta hampir seluruhnya bermakna negatif dan pejoratif.
“Di sisi lain, kecendeurngan binary mengakibatkan tergambarnya fundamentalisme Islam sebagai sisi buruk Barat, sisi buruk demokrasi, dan sisi keterbelakangan dari modernitas Barat,” tambah doktor jurusan Pemikiran Islam tersebut.
Dalam disertasi dengan yudisium Cumlaude tersebut, Syamsi juga mengungkapkan sisi lain kajian Barat kontemporer tentang Islam dari perspektif hegemoni dan kekuasaan. Menurutnya, pada tataran ini pencitraan yang keliru tentang Islam memiliki tujuan terus mendiskreditkan Muslim dan Islam dari tata pergaulan dunia.
Bagi Syamsi, pada tataran hegemoni dan kekuasaan, konstruk pengetahuan Barat tentang fundamentalisme Islam ditemukan memiliki obsesi kekuasaan dan neo-kolonialisme ketika fundamentalisme Islam dimaknai sebagai terorisme dan sebagai kekuatan Muslim yang dapat mengancam kepentingan Barat di negara-negara Muslim.
Kiprah Muslim revivalis untuk membangun kemandirian Umat Islam dinilai sebagai fundamentalisme Islam yang dapat mengancam kepentingan Barat di negara-negara Muslim.
“Dalam konteks ini, Barat sebagai penguasa wacana terus mengeksplorasi wacana tentang fundamentalisme Islam yang merugikan Umat Islam,” ungkap pria kelahiran Madura ini.
Doktor kelahiran 10 Februari 1976 ini juga mensinyalir bahwa para pengkaji Islam dari Barat kontemporer cenderung mengulang tradisi orientalis klasik dalam cara mereka yang mengandung unsur pejorative, dipenuhi stereotip dan bias rasialis.
Konstruk tentang fundamentalisme Islam dapat menjadi sumber utama persoalan hubungan antara Barat dan Muslim. Karena kajian tersebut semakin memperkuat pencitraan buruk tentang Islam dan meningkatkan islamophobia di Barat.
Ketika disinggung tentang signifikansi penelitiannya, Syamsi mengungkapkan bahwa penelitian dalam disertasi ini memiliki andil yang besar dalam turut mengusung kesetaraan dan obyektivitas kajian atas Islam dan Muslim.
Kajian tentang Islam dan Muslim yang adil dan obyektif akan sangat membantu bagi tetap terbangunnya dialog peradaban karena dalam membangun dialog peradaban diperlukan adanya kesepahaman antara Barat dan Muslim. “Sehingga tidak ada lagi sekat-sekat psikis,” terangnya.
Melalui penelitian dalam disertasinya, pria kelahiran Bangkalan, itu pun menyerukan agar para sarjana (scholar) tidak terus-menerus menghasilkan kajian Islam yang selalu diasosiasikan dengan terorisme dan anti-Barat.
Karena sifat kajian-kajian seperti akan semakin memperlebar jurang permusuhan antara Barat dan Muslim. Karakter rasialis, etnosentris, ataupun Barat sentris, menurutnya telah menghasilkan kajian yang dapat memicu berlanjutnya dis-integrasi Islam dan Barat.
Sudah waktunya para pengkaji Barat untuk mengganti perspektif mereka ketika mengkaji Islam dan Muslim dengan perspektif dialogis dimana Muslim merupakan teman dalam dialog dan perdebatan yang dapat saling menyumbangkan saran dan ide bagi kemaslahatan bersama. “Bukan dipandang sebagai the other (yang lain) apalagi sebagai the enemy (musuh),” ungkap Dosen IAIN STS Jambi ini.
Syamsi juga berharap bahwa hasil penelitiannya dapat membangun daya kritis masyarakat pembaca tentang perlunya mencermati dan tidak mudah menerima wacana-wacana yang datang dari dunia Barat.
Melalui disertasinya, Syamsi juga menyerukan kepada masyarakat untuk mulai bersikap kritis dan obyektif dalam mensikapi fenomena kebangkitan Islam atau kegairahan keagamaan umat Islam. “Sehingga kita tidak mudah menilai semua itu sebagai fenomena asing, apalagi sebagai sebuah ancaman,” pungkasnya. <Edithya Miranti>
Biodata Penulis
Nama : Badarussyamsi
Tempat/Tgl Lahir : Bangkalan, 10 Februari 1976
Riwayat Pendidikan :
- S1 Ushuluddin Perbandingan Agama Tahun 1999
- S2 Pemikiran Islam Tahun 2003
- S3 Pemikiran Islam Tahun 2015
Karya Ilmiah :
- Buku Post-Orientalisme, 2006.
- Buku Fundamentalisme Islam: Kritik atas Barat, 2015.
Kegiatan Mengajar :
- Dosen IAIN STS JAMBI, tahun 2009-sekarang
- Dosen STIT TEBO Jambi, tahun 2006-2009



















