Bogor, Gontornews — Pengaruh budaya asing pun dapat mempengaruhi gaya hidup seseorang, baik busana, perilaku, seni budaya, dan akhlak. Akibat pengaruh ini, seseorang dapat bergaya hidup hedonis, konsumtif, yang tidak mencerminkan gaya hidup Islami.
Maka, demi meningkatkan penguasaan, pemahaman, keyakinan, serta pelaksanaan nilai-nilai ajaran agama Islam. “Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah pengembangan model-model pembelajaran yang tepat untuk PAI (Pendidikan Agama Islam) agar sesuai dengan perkembangan zaman,” sambung kakek dari tiga orang cucu ini.
“Nah, untuk mewujudkan PAI yang baik dan bermanfaat bagi peserta didik, diperlukan para dosen PAI yang berpengalaman dan berpengetahuan luas,” jelas Nedin sebagaimana dipaparkan dalam disertasinya yang dibimbing oleh Prof Dr Abuddin Nata, Prof Dr Didin Saefudin Buhori, dan Dr Endin Mujahidin, Msi.
Selain tenaga pengajar, diperlukan juga model pembelajaran yang sesuai dengan usia peserta didik. Alasannya agar pembelajaran agama Islam mudah diterima dan dipahami.
Konsep model pembelajaran PAI adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial. Konsep ini juga bertujuan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran. Termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lainnya.
Dalam disertasi tersebut diterangkan bahwa model pembelajaran yang digunakan di IPB merupakan model pembelajaran yang memadukan kedua model pembelajaran. Yaitu model pembelajaran POD dengan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan Teacher Centre dan Student Centre.
Tujuan akhir proses pembelajaran PAI di IPB adalah agar mahasiswa tidak memisahkan antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan (dikotomi) dalam rangka ibadah kepada Allah SWT. Indikatornya yaitu bahwa mahasiswa bersemangat untuk menuntut ilmu pengetahuan alam atau ilmu pengetahuan umum dengan motivasi yang tinggi karena diperintahkan agama.
Materi yang disampaikan dalam proses belajar PAI di PTU (Perguruan Tinggi Umum) IPB secara garis besar dibagi dalam dua tahap. Tahap pertama, yaitu penyampaian materi agama dan ilmu pengetahuan selama tiga kali pertemuan.
Materi ini disampaikan oleh dosen umum yang mempunyai latar belakang pendidikan agama yang memadai. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan motivasi mahasiswa atau peserta didik agar dapat mengamalkan ajaran Islam dengan baik.
Tahap kedua, yaitu penyampaian materi yang berhubungan dengan keagamaan secara langsung, seperti manusia dan agama, akidah dan karakteristiknya, syariah dan karakteristiknya, serta akhlak dan dakwah. Materi ini disampaikan oleh dosen yang memang mempunyai latar pendidikan agama secara khusus.
Metode pembelajaran PAI yang diterapkan di IPB adalah Metode Dialog (Hiwar), Metode Ceramah, Metode Aplikasi dan Pengamalan, Metode Keteladanan, Metode Nasehat, Metode Hadiah dan Hukman, Metode Pembiasaan, dan Metode Responsi / Asistensi.
Dalam pelaksanaannya, PAI di IPB diselenggarakan di seluruh program studi. Kegiatan ini dilaksanakan di dalam kelas sesuai jadwal yang telah ditetapkan oleh pihak IPB. Untuk mendukung efektivitas penyelenggaraan PAI ini, pelaksanaan PAI di IPB juga dilakukan di luar jam perkuliahan.
“Caranya dengan asistensi dan penyelenggaran kajian-kajian keislaman yang berkerjasama dengan elemen-elemen organisasi di lingkungan IPB,” ungkap Nedin, mantan pengurus MUI Kota Bogor Komisi Fatwa dari 2011-2016. Hal ini dilakukan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan tuntas.
Sedangkan para pendidiknya adalah tim dosen PAI di IPB. Tim ini diketuai oleh koordinator tim PAI di IPB. Terkait pembagian jadwal serta bimbingan mahasiswanya ditentukan oleh TIM PAI di IPB.
Para dosen PAI di IPB terdiri dari dua latar belakang pendidikan yang berbeda. Artinya para pengajar PAI tidak semua lulusan dari Pendidikan Tinggi Islam atau UIN saja.
Tujuannya agar dapat menggambarkan bahwa agama Islam bukanlah agama eksklusif melainkan agama Inklusif. Siapa saja boleh mendalami, memahami, dan mengamalkan ajaran mulia tersebut. Alasan lainnya yakni agar para dosen umum tersebut mampu memberikan motivasi serta contoh yang nyata, bahwa ajaran agama dengan ilmu pengetahuan tidak bertentangan.
Evaluasi yang dilakukan pada pembelajaran PAI di IPB tidak jauh berbeda dengan PTU lainnya. Seperti menggunakan test pada setiap akhir perkuliahan, melalui Ujian Tengah Smester (UTS) dan Ujian Akhir Smester (UAS).
Sedangkan untuk penilaian ditambah dengan nilai kehadiran mahasiswa dan penilaian asistensi. Semua itu untuk melihat pelaksanaan atau pengamalan ibadah mahasiswa setiap harinya.
Dr Nedin menjelaskan bahwa dengan adanya suasana keislaman yang kental di IPB banyak alumni ataupun mahasiswa IPB yang terus mendalami secara khusus tentang Islam. Hasilnya, banyak alumni IPB yang menjadi saintis Islam, juga sebagai penggerak kegiatan keislaman di lingkungannya. Bahkan banyak pula yang menjadi pemimpin atau pemuka agama.
Berikut beberapa faktor pendukung dan penghambat proses pembelajaran PAI: pertama, mahasiswa dan dosen. Dalam proses pembelajaran, pendidik harus memiliki strategi yang baik, terbuka dan tidak bersifat otoriter.
Dosen pun hendaknya mampu memberikan motivasi untuk belajar Agama Islam secara berkelanjutan. Sikap keterbukaan antara dosen dan mahasiswa penting untuk membangun kreatifitas dan meningkatkan hasil belajarnya.
Kedua, faktor lingkungan pendidikan. Bahwa lingkungan pendidikan di IPB, sangat memadai dan dapat berpengaruh selama proses belajar mengajar berlangsung.
Ketiga, faktor kurikulum. Kurikulum PAI di IPB merupakan perpaduan antara kurikulum nasional dan kurikulum IPB itu sendiri. Tujuannya untuk mengembangkan wawasan keislaman dan mengaplikasikan ajaran Islam menuju pemahaman dan penguasaan Islam yang sempurna.
Keempat, faktor metode pendidikan Islam. Metode pembelajaran, merupakan salah satu komponen yang sangat penting untuk keberhasilan kegiatan proses pembelajaran.
“Untuk itu metode yang digunakan di IPB diantaranya seperti Metode Ceramah dan Metode Dialog (Hiwar), seperti yang sudah disebutkan tadi,” pungkas pria kelahiran tahun 1957 ini. <Edithya Miranti>
Biodata Singkat
Nama Lengkap : Nedin Badruzzaman
Tempat Tanggal Lahir : Karawang, 18 Agustus 1957
Riwayat Pendidikan :
1. S1 Kuliah Fak Pendidikan IKIP Jkt (UNJ), Tahun 1981
2. S1 Kuliah Fak Tarbiyah PAI UIKA Bogor, Tahun 2000
3. S2 Magister Pendidikan PPs UNPAK, Tahun 2002
4. S3 Doktor Pendidikan Islam PPs UIKA, Tahun 2012
Pengalaman Kerja :
1. Pengawas SMK dari tahun 2008-sekarang
2. Dosen PSKGJ PGSD dari tahun 2010-2015
3. Ketum DKM AL- Kautsar Universitas Pakuan tahun 2008-sekarang





















