Yogyakarta, Gontornews — Penelitian ini merupakan sebuah upaya untuk mengkaji dan memetakan pemikiran intelektual Arab-Muslim modern di Timur Tengah pascakekalahan perang Arab-Israel 1967 M, yang kemudian dikenal dengan sebutan Difitisme Arab 1967 M.
Perang Enam Hari 1967 M tersebut merupakan bencana bagi bangsa Arab dan telah mengakhiri ideologi Pan-Arabisme serta melahirkan empat ideologi kritis dalam bentuk Kritik Diri (Self Criticism) yaitu Kritisisme Liberal, Kritisisme Marxis/Kiri, Kritisisme Nasionalis dan Kritisisme Fundamentalis.
Masing-masing ideologi mengklaim memiliki solusi terhadap kemunduran yang sedang dihadapi bangsa Arab. Dalam konteks ini, pemikiran Hasan Hanafi ikut andil dalam mewacanakan perubahan bagi masa depan bangsa Arab-Mesir.
Salah satu upaya yang dilakukannya ialah dengan cara memberikan kritik-konstruktif terhadap problem fundamentalisme Islam yang dipandangnya sebagai satu-satunya ideologi tersisa setelah gagalnya percobaan ideologi-ideologi sekular.
Penelitian ini dirumuskan ke dalam tiga pertanyaan pokok. Pertama, bagaimanakah kecenderungan pemikiran intelektual Arab-Muslim Era Modern dan pascakekalahan perang Arab-Israel 1967 M (difitisme) sampai pada tahun 2000-an? Kedua, bagaimanakah latar belakang terbentuknya intelektualitas Hasan Hanafi? Dan ketiga, mengapa Hasan Hanafi mengkritik fundamentalisme Islam?
Fundamentalisme merupakan gejala keagamaan yang dapat dijumpai bukan hanya dalam tradisi monoteisme saja. Fenomena ini pun dapat ditemukan dalam tradisi Budha, Hindu, Kong Hu Cu, dan juga Sikh.
Secara lebih spesifik, fundamentalisme Islam dipandang oleh sarjana Barat sebagai sebuah ideologi yang akhir-akhir ini berkembang sangat pesat di belahan dunia Islam. Dengan sifat pervasifnya, ideologi ini terus menyebar secara dinamis dengan implikasi keagamaan, ekonomi, politik, dan strategi.
“Sebagai sebuah ideologi, fundamentalisme Islam seringkali ditampilkan sebagai ancaman besar bagi kepentingan-kepentingan Barat,” terang Dr Yoyo, dalam disertasinya yang diuji langsung oleh Prof Dr Syamsul Hadi SU MA dan Prof Dr Sangidu MHum di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Dengan demikian, lanjutnya, dalam menghadapi fenomena fundamentalisme Islam, sebagian orientalis Barat menyarankan agar memperkokoh Islam moderat sebagai counterbalance terhadapnya. Akan tetapi apabila proses modernisasi Islam ini -dengan cara memperbanyak dan mendukung Islam moderat- terlalu lama atau sulit diwujudkan, maka tidak ada jalan lain bagi pemerintah Barat dalam menghadapi fundamentalisme Islam kecuali dengan memeranginya.
Salah satu alasan mengapa intelektual Barat seringkali salah dalam memahami Islam secara umum dan fenomena fundamentalisme pada khususnya seperti dikemukakan oleh Leonard Binder, karena sarjana Barat sangat sedikit mengkaji tentang apa yang ditulis Intelektual Muslim.
Maka, kontekstualisasi historis mengenai fundamentalisme Islam melalui kajian pemikiran intelektual Muslim menjadi informasi yang sangat berguna bagi Barat. Mengingat minimnya informasi dan betapa kompleksnya permasalahan tersebut, sekaligus menjadi kontribusi penting bagi kajian Islam secara umum.
Menanggapi hal itu, Yoyo tertarik untuk mengkaji fundamentalisme Islam dari sudut pandang intelektual Muslim. Penulis mengkaji dan menganalisis studi yang dilakukan oleh intelektual Arab-Muslim dengan cara mengkritisi dan mengapresiasi bagaimana seorang intelektual Muslim dihadapkan pada isu fundamentalisme agama.
Pemikiran Hasan Hanafi, filsuf terkenal asal Mesir dan profesor di Universitas Kairo, dipilih doktor kelahiran 7 Agutus 1980 itu, untuk dikajinya lebih lanjut. “Sebab Hasan Hanafi merupakan intelektual Muslim berkaliber internasional yang masih hidup dan sangat peduli dengan isu-isu sosial keagamaan,” terang peraih beasiswa Sandwich-Like Program di King’s College London, University of London, Inggris, tahun 2011 itu.
Kritik dan solusi Hanafi terhadap fundamentalisme Islam dapat dibagi secara garis besar menjadi tiga persoalan pokok, yaitu tentang metode yang digunakan, kritik dan solusi terhadap ideologi fundamentalisme, dan solusi alternatif-teoritis yang ditawarkan. Dari aspek metode yang digunakan (fenomenologi dan historis), Hanafi cenderung menunjukkan rasa simpati terhadap ideologi tersebut karena dipandangnya sebagai satu-satunya ideologi tersisa setelah gagalnya ideologi-ideologi sekular.
Pada level ideologi, Hanafi berupaya mendorong agar pemahaman mengenai doktrin, sejarah, dan slogan fundamentalisme Islam dari yang bersifat teosentris ke antroposentris. Gagasan ini tentu tidak mudah diterima karena pemahaman ideologis yang bersifat teosentris sudah begitu kuat mengakar dalam fundamentalisme Islam.
Meskipun begitu, hal ini tidak berarti ajakan Hanafi sia-sia saja, fakta munculnya kaum muda yang menginginkan kebebasan dan demokrasi di Mesir pada peristiwa the Arab Spring 2011 tanpa slogan-slogan agamis, menjadi indikator bahwa fundamentalisme Islam tidak selalu tampil sebagai motor ideologis.
Solusi alternatif-teoritis yang ditawarkan Hanafi disebut dengan Kiri fundamentalisme. Meskipun istilah “Kiri” dalam teks agama berkonotasi negatif, yaitu sebutan bagi golongan yang tidak beruntung secara ukhrawi. Namun dalam realitas sosial, istilah “Kiri” dimaknai untuk menggambarkan adanya ketimpangan dalam kehidupan masyarakat, dimana kalangan tertindas seringkali digambarkan sebagai orang-orang yang terabaikan.
Bagi Hanafi, untuk konteks Timur Tengah dan dunia Islam pada umumnya, Islam sebagai komponen identitas memang tidak dapat dikesampingkan. Hanya saja, menjadikan fundamentalisme sebagai ideologi alternatif dianggapnya tidak tepat.
Kiri fundamentalisme meskipun secara kebahasaan mungkin sulit diterima, akan tetapi disinilah letak urgensi peranan seorang intelektual, yaitu creating a new word. Maksudnya menciptakan istilah-istilah baru untuk menunjukkan tingkat kreativitas, kesegaran, dan kebaruan pemikiran. Dari segi konten, Kiri fundamentalisme berhasil mencerminkan orisinalitas pemikiran Hanafi yang mengidolakan sebuah tatanan masyarakat ideal. Terealisasi atau tidaknya gagasan di atas tergantung kepada bagaimana masyarakat Mesir sendiri mengapresiasi gagasan Hanafi tersebut.
Paling tidak, ketika IM (Ikhwanul Muslimin) berhasil menjadi pemenang pasca the Arab Spring 2011, mayoritas masyarakat Mesir berharap bahwa IM mampu membawa Mesir pada perubahan yang lebih baik. Namun disayangkan, IM lebih tertarik pada konsolidasi internal kelompok dan lebih berpegang pada doktrin teosentris dan mengabaikan potensi Islam yang berdimensi antroposentris. Sehingga pada akhirnya, harus berakhir dengan kegagalan.
Pertanyaan yang muncul kemudian Mā ba’da al-Ushūliyyah (proyeksi ideologi seperti apa yang pas untuk masa depan Mesir setelah gagalnya fundamentalisme Islam atau disebut dengan era Post-Fundamentalisme?). Barangkali, disinilah letak urgensi Kiri fundamentalisme Islam dari Hasan Hanafi.
“Semoga perspektif yang disajikan didalamnya memberikan satu perspektif yang berbeda dari kajian-kajian yang ada selama ini yang cenderung Western minded. Semoga bermanfaat!” pungkas Yoyo, peserta Beasiswa Unggulan di Canal Suez University of Ismailia, Mesir, 2007-2008, kepada Gontornews.com. [Edithya Miranti]
|
|




















