10
Tonton Selengkapnya
31 °c
Pecenongan
Thu
Fri
Wednesday, 17 June, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Pendidikan Risalah

Kritik Hasan Hanafi terhadap Fundamentalisme Islam

Disertasi Dr Yoyo SS MA

Edithya Miranti by Edithya Miranti
15 October 2020
in Risalah
0
Kritik Hasan Hanafi terhadap Fundamentalisme Islam

Yogyakarta, Gontornews — Penelitian ini merupakan sebuah upaya untuk mengkaji dan memetakan pemikiran intelektual Arab-Muslim modern di Timur Tengah pascakekalahan perang Arab-Israel 1967 M, yang kemudian dikenal dengan sebutan Difitisme Arab 1967 M.

Perang Enam Hari 1967 M tersebut merupakan bencana bagi bangsa Arab dan telah mengakhiri ideologi Pan-Arabisme serta melahirkan empat ideologi kritis dalam bentuk Kritik Diri (Self Criticism) yaitu Kritisisme Liberal, Kritisisme Marxis/Kiri, Kritisisme Nasionalis dan Kritisisme Fundamentalis.

Masing-masing ideologi mengklaim memiliki solusi terhadap kemunduran yang sedang dihadapi bangsa Arab. Dalam konteks ini, pemikiran Hasan Hanafi ikut andil dalam mewacanakan perubahan bagi masa depan bangsa Arab-Mesir.

Salah satu upaya yang dilakukannya ialah dengan cara memberikan kritik-konstruktif terhadap problem fundamentalisme Islam yang dipandangnya sebagai satu-satunya ideologi tersisa setelah gagalnya percobaan ideologi-ideologi sekular.

BACA JUGA

Pendidikan Inklusif Membentuk Sikap Toleransi (Kajian Etnografi di Pondok Modern Darussalam Gontor)

Bahtsul Masail dalam Perspektif Pembelajaran Berbasis Masalah

Implementasi Birokrasi terhadap Peningkatan Budaya Mutu Guru Madrasah Ibtidaiyyah Kabupaten Bogor

Pembaharuan Pemikiran Keagamaan Menurut al-Qaradawi dan Relevansinya bagi Rekonstruksi Peradaban Islam (Kajian Filsafat)

Menjadi Dayak dan Muslim: Perjalanan Identitas Oloh Salam

Penelitian ini dirumuskan ke dalam tiga pertanyaan pokok. Pertama, bagaimanakah kecenderungan pemikiran intelektual Arab-Muslim Era Modern dan pascakekalahan perang Arab-Israel 1967 M (difitisme) sampai pada tahun 2000-an? Kedua, bagaimanakah latar belakang terbentuknya intelektualitas Hasan Hanafi? Dan ketiga, mengapa Hasan Hanafi mengkritik fundamentalisme Islam?

Fundamentalisme merupakan gejala keagamaan yang dapat dijumpai bukan hanya dalam tradisi monoteisme saja.  Fenomena ini pun dapat ditemukan dalam tradisi Budha, Hindu, Kong Hu Cu, dan juga Sikh.

Secara lebih spesifik, fundamentalisme Islam dipandang oleh sarjana Barat sebagai sebuah ideologi yang akhir-akhir ini berkembang sangat pesat di belahan dunia Islam. Dengan sifat pervasifnya, ideologi ini terus menyebar secara dinamis dengan implikasi keagamaan, ekonomi, politik, dan strategi.

“Sebagai sebuah ideologi, fundamentalisme Islam seringkali ditampilkan sebagai ancaman besar bagi kepentingan-kepentingan Barat,” terang Dr Yoyo, dalam disertasinya yang diuji langsung oleh Prof Dr Syamsul Hadi SU MA dan Prof Dr Sangidu MHum di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Dengan demikian, lanjutnya, dalam menghadapi fenomena fundamentalisme Islam, sebagian orientalis Barat menyarankan agar memperkokoh Islam moderat sebagai counterbalance terhadapnya. Akan tetapi apabila proses modernisasi Islam ini -dengan cara memperbanyak dan mendukung Islam moderat- terlalu lama atau sulit diwujudkan, maka tidak ada jalan lain bagi pemerintah Barat dalam menghadapi fundamentalisme Islam kecuali dengan memeranginya.

Salah satu alasan mengapa intelektual Barat seringkali salah dalam memahami Islam secara umum dan fenomena fundamentalisme pada khususnya seperti dikemukakan oleh Leonard Binder, karena sarjana Barat sangat sedikit mengkaji tentang apa yang ditulis Intelektual Muslim.

Maka, kontekstualisasi historis mengenai fundamentalisme Islam melalui kajian pemikiran intelektual Muslim menjadi informasi yang sangat berguna bagi Barat. Mengingat minimnya informasi dan betapa kompleksnya permasalahan tersebut, sekaligus menjadi kontribusi penting bagi kajian Islam secara umum.

Menanggapi hal itu, Yoyo tertarik untuk mengkaji fundamentalisme Islam dari sudut pandang intelektual Muslim. Penulis mengkaji dan menganalisis studi yang dilakukan oleh intelektual Arab-Muslim dengan cara mengkritisi dan mengapresiasi bagaimana seorang intelektual Muslim dihadapkan pada isu fundamentalisme agama.

Pemikiran Hasan Hanafi, filsuf terkenal asal Mesir dan profesor di Universitas Kairo, dipilih doktor kelahiran 7 Agutus 1980 itu, untuk dikajinya lebih lanjut. “Sebab Hasan Hanafi merupakan intelektual Muslim berkaliber internasional yang masih hidup dan sangat peduli dengan isu-isu sosial keagamaan,” terang peraih beasiswa Sandwich-Like Program di King’s College London, University of London, Inggris, tahun 2011 itu.

Kritik dan solusi Hanafi terhadap fundamentalisme Islam dapat dibagi secara garis besar menjadi tiga persoalan pokok, yaitu tentang metode yang digunakan, kritik dan solusi terhadap ideologi fundamentalisme, dan solusi alternatif-teoritis yang ditawarkan. Dari aspek metode yang digunakan (fenomenologi dan historis), Hanafi cenderung menunjukkan rasa simpati terhadap ideologi tersebut karena dipandangnya sebagai satu-satunya ideologi tersisa setelah gagalnya ideologi-ideologi sekular.

Pada level ideologi, Hanafi berupaya mendorong agar pemahaman mengenai doktrin, sejarah, dan slogan fundamentalisme Islam dari yang bersifat teosentris ke antroposentris. Gagasan ini tentu tidak mudah diterima karena pemahaman ideologis yang bersifat teosentris sudah begitu kuat mengakar dalam fundamentalisme Islam.

Meskipun begitu, hal ini tidak berarti ajakan Hanafi sia-sia saja, fakta munculnya kaum muda yang menginginkan kebebasan dan demokrasi di Mesir pada peristiwa the Arab Spring 2011 tanpa slogan-slogan agamis, menjadi indikator bahwa fundamentalisme Islam tidak selalu tampil sebagai motor ideologis.

Solusi alternatif-teoritis yang ditawarkan Hanafi disebut dengan Kiri fundamentalisme. Meskipun istilah “Kiri” dalam teks agama berkonotasi negatif, yaitu sebutan bagi golongan yang tidak beruntung secara ukhrawi. Namun dalam realitas sosial, istilah “Kiri” dimaknai untuk menggambarkan adanya ketimpangan dalam kehidupan masyarakat, dimana kalangan tertindas seringkali digambarkan sebagai orang-orang yang terabaikan.

Bagi Hanafi, untuk konteks Timur Tengah dan dunia Islam pada umumnya, Islam sebagai komponen identitas memang tidak dapat dikesampingkan. Hanya saja, menjadikan fundamentalisme sebagai ideologi alternatif dianggapnya tidak tepat.

Kiri fundamentalisme meskipun secara kebahasaan mungkin sulit diterima, akan tetapi disinilah letak urgensi peranan seorang intelektual, yaitu creating a new word. Maksudnya menciptakan istilah-istilah baru untuk menunjukkan tingkat kreativitas, kesegaran, dan kebaruan pemikiran. Dari segi konten, Kiri fundamentalisme berhasil mencerminkan orisinalitas pemikiran Hanafi yang mengidolakan sebuah tatanan masyarakat ideal. Terealisasi atau tidaknya gagasan di atas tergantung kepada bagaimana masyarakat Mesir sendiri mengapresiasi gagasan Hanafi tersebut.

Paling tidak, ketika IM (Ikhwanul Muslimin) berhasil menjadi pemenang pasca the Arab Spring 2011, mayoritas masyarakat Mesir berharap bahwa IM mampu membawa Mesir pada perubahan yang lebih baik. Namun disayangkan, IM lebih tertarik pada konsolidasi internal kelompok dan lebih berpegang pada doktrin teosentris dan mengabaikan potensi Islam yang berdimensi antroposentris. Sehingga pada akhirnya, harus berakhir dengan kegagalan.

Pertanyaan yang muncul kemudian Mā ba’da al-Ushūliyyah (proyeksi ideologi seperti apa yang pas untuk masa depan Mesir setelah gagalnya fundamentalisme Islam atau disebut dengan era Post-Fundamentalisme?). Barangkali, disinilah letak urgensi Kiri fundamentalisme Islam dari Hasan Hanafi.

“Semoga perspektif yang disajikan didalamnya memberikan satu perspektif yang berbeda dari kajian-kajian yang ada selama ini yang cenderung Western minded. Semoga bermanfaat!” pungkas Yoyo, peserta Beasiswa Unggulan di Canal Suez University of Ismailia, Mesir, 2007-2008, kepada Gontornews.com. [Edithya Miranti]

 

 

 

 

Tags: Dr Yoyo SS MAHasan Hanafiintelektual mesir
Share140Tweet88Send
Previous Post

Bisnis Indonesia Group Salurkan Zakat Melalui BAZNAS

Next Post

Arab Saudi Siap Memperbanyak Robot Sanitasi bagi Masjidil Haram

Edithya Miranti

Edithya Miranti

Redaksi Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pesantren Wisuda SDIT Insantama Leuwiliang Hadirkan Trainer Nasional 

Pesantren Wisuda SDIT Insantama Leuwiliang Hadirkan Trainer Nasional 

13 June 2026
Pesantren Wisuda SDIT Insantama Leuwiliang: Ketua Yayasan Tekankan “Semangat Diri” dan Kekuatan Ruhiah dalam Belajar

Pesantren Wisuda SDIT Insantama Leuwiliang: Ketua Yayasan Tekankan “Semangat Diri” dan Kekuatan Ruhiah dalam Belajar

15 June 2026
Pandemi Covid-19 Sebabkan Defisit Masa Belajar Siswa

Berani untuk Bebas

11 June 2026
Ini dia Lirik Lagu Gontor ‘Takkan Terlupa’

Ini dia Lirik Lagu Gontor ‘Takkan Terlupa’

30 August 2021
Bekali Karakter dan Visi Hidup, SDIT Insantama Leuwiliang Gelar “Pesantren Wisuda”

Bekali Karakter dan Visi Hidup, SDIT Insantama Leuwiliang Gelar “Pesantren Wisuda”

14 June 2026
Menghidupkan Kembali Budaya Baca

Menghidupkan Kembali Budaya Baca

0
Pembekalan Wawasan Hukum dan Melek Media Sosial bagi Santri Kelas 5 dan 6 Gontor Magelang

Pembekalan Wawasan Hukum dan Melek Media Sosial bagi Santri Kelas 5 dan 6 Gontor Magelang

0
Modern Itu Alatnya, Bukan Cara Berpikirnya

Modern Itu Alatnya, Bukan Cara Berpikirnya

0
Kisah Haru Pesantren Wisuda 2026 SDIT Insantama Leuwiliang

Kisah Haru Pesantren Wisuda 2026 SDIT Insantama Leuwiliang

0
Bersyukur dan Cobaan (Bagian Kedua)

Bersyukur dan Cobaan (Bagian Kedua)

0
Menghidupkan Kembali Budaya Baca

Menghidupkan Kembali Budaya Baca

17 June 2026
Pembekalan Wawasan Hukum dan Melek Media Sosial bagi Santri Kelas 5 dan 6 Gontor Magelang

Pembekalan Wawasan Hukum dan Melek Media Sosial bagi Santri Kelas 5 dan 6 Gontor Magelang

17 June 2026
Modern Itu Alatnya, Bukan Cara Berpikirnya

Modern Itu Alatnya, Bukan Cara Berpikirnya

17 June 2026
Kisah Haru Pesantren Wisuda 2026 SDIT Insantama Leuwiliang

Kisah Haru Pesantren Wisuda 2026 SDIT Insantama Leuwiliang

16 June 2026
Bersyukur dan Cobaan (Bagian Kedua)

Bersyukur dan Cobaan (Bagian Kedua)

16 June 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Alur Pendaftaran Program Persiapan Calon Pelajar Pondok Modern Darussalam GontorSource: gontortv
https://youtu.be/cUA3pvD43i8Video ini menjelaskan alur pendaftaran Program Persiapan Calon Pelajar Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor secara lengkap dan sistematis.Informasi lengkap terkait pendaftaran Program Persiapan Calon Pelajar KMI Pondok Modern Darussalam Gontor dapat diakses melalui:
https://gontor.ac.id/persiapanPendaftaran online dilakukan melalui halaman resmi:
https://capel.gontor.ac.id
  • Kunjungan Tim Redaksi Majalah Gontor ke Pondok Pesantren Modern Darel Azhar RangkasbitungIntip momen seru kunjungan Tim Redaksi Majalah Gontor saat berkeliling melihat fasilitas, unit ekonomi, hingga suasana belajar di Pondok Pesantren Modern Darel Azhar Rangkasbitung.#DarelAzhar #MajalahGontor #KunjunganMahabbah #PondokModern #Rangkasbitung #SantriIndonesia #UkhuwahIslamiyah #DuniaPesantren #Gontor #LiterasiSantri
#majalahgontor
#gontornews
  • Tujuan dari sains Islam adalah meletakkan kembali jejak Tuhan di dalam kausalitas alam, agar manusia tidak arogan dan menganggap alam bekerja tanpa pencipta.Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil.#nasehat
#motivasionline
#belajarbaik
#hidupislami
#kehidupanislam
#majalahgontor
#gontornews
#kiaiku
#memperbaikidiri
#ilmupengetahuan
  • Membaca Al-Qur
  • Kebebasan dalam Islam bukanlah kebebasan tanpa batas, melainkan
  • Nasehat dalam memimpin suatu lembaga:
(Yang sulit dan menjadi tantangan dalam memimpin lembaga itu adalah:)
1. Noto Atine Dewe
2. Noto Atine Wong Liyo
3. Noto Atine Wong Liyo Sing luwih Tuo
4. Noto Atine Wong Liyo Sing luwih Tuo Sing Tukaran.KH Hasan Abdullah Sahal#nasehat
#motivasi
#belajar
#hidup
#kehidupan
#majalahgontor
#gontornews
  • Beriman itu tandanya jujur. Beriman itu tandanya bersaudara. Iman seseorang bisa diukur dari perilakunyaProf. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil.#nasehat
#motivasi
#belajar
#hidup
#kehidupan
#majalahgontor
#gontornews
#kiaiku
#memperbaikidiri
  • KAJIAN PARENTING EKSKLUSIF & VIRTUAL TOUR ARABIC GLOBAL SCHOOL JAKARTA.Menyiapkan Generasi Cerdas: Menyeimbangkan Adab Islami & Kompetensi Global di Era DigitalBersama Narasumber dari Arabic Global School (AGS):
1.​Dedek Febrian (Pembimbing Akademik AGS)
2.​Ramdhanil (Kepala Sekolah Kindergarten AGS)
3.​Adi Suroto (Kepala Sekolah Primary AGS)Moderator :
Devi Lusianawati
Reporter Majalah Gontor dan Gontornews.com🗓 Rabu, 22 April 2026
⏰ 13.00 – 15.30 WIB​👇 KLIK LINK DI BAWAH INI UNTUK MENDAFTAR:
👉 https://bit.ly/pendaftaran-kajian-online#bedahbuku #parentingislami #muslimmilenial #gontornews #majalahgontor #gontor #kajianonline #kajianislam #psikologianak #polaasuh #bukuislami #livezoom #webinarislami #pendidikananak #belajarparenting #polaasuhanak #generasimilenial #islammodern #kajianjakarta
  • Mestinya orang Islam itu hanya dengan menjalankan shalat, jiwanya itu bersih. Shalat itu harus ada hubungannya dengan perilaku.Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil.#nasehat
#motivasi
#belajar
#hidup
#kehidupan
#majalahgontor
#gontornews
#kiaiku
#memperbaikidiri

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result