Jakarta, Gontornews — Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menegaskan bahwa pendekatan ilmiah perlu dikedepankan dalam menyusun pedoman mitigasi bencana. Secara spesifik, selain Indonesia, LIPI menyebut beberapa negara tetangga di Asia juga menjadi negara yang rawan bencana seperti Filipina, Taiwan hingga Jepang.
“Perlu keterlibatan akar dan akademisi mulai dari perumusan, penetapan agenda, implementasi, hingga pemantauan dan evaluasi kebijakan mitigasi bencana,” kata Depubti Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusaan LIPI, Tri Nuke Pudjiastuti sebagaimana dilansir laman Lipi.go.id.
“Perlu pendekatan ilmiah secara komprehensif dan kerjasama antarkawasan di Asia,” tambah Tri Nuke.
Lebih lanjut, Kepada Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI, Sri Sunarti Purwaningsih juga mengungkapkan bahwa Indonesia dan sejumlah negara di Asia Tenggara sangat rentan terhadap perubahan iklim. Ia meminta ada semacam forum atau pertemuan yang dapat dijadikan momentum berbagi informasi terhadap informasi perubahan iklim antar negara.
“Berbagi dan bertukar pengalaman dalam penanganan bencana menjadi snagat penting untuk pengelolaan bencana,” kata Sri.
Sementara itu, Direktur Eksekutif University of the Phillipines – Resilience Institute, Mahar Lagmay meminta negara-negara seperti Filipina, Taiwan, Indonesia dan Jepang untuk tetap siga bencana. Lagmay menyebut bahwa bencana alam seperti banjir, gempa bumi dan angin topan serta tanah longsor kerap terjadi di empat negara yang disebut di atas.
“Panduan dasar harus berdasarkan ilmu pengetahuan berupa hasil penelitian dari hasil temuan yang akurat,” jelas Lagmay.
“Langkah ini sangat diperlukan untuk menyampaikan kebijakan pemerintah, sehingga pengurangan risiko bencana dan perubahan iklim ini benar-benar efektif,” pungkas Lagmay. [Mohamad Deny Irawan]






















