Ucapan dan ungkapan, baik di media massa, social media, maupun obrolan-obrolan ringan, membingungkan umat. Di antaranya ucapan Ketua Umum Korp Pegawai Negeri (Korpri) Zudan Arif Fakhrulloh yang mengatakan “ASN itu ideologinya Pancasila. Tidak boleh khilafah atau komunis.” Seakan menguatkan ucapan Menag Fachrur Razi yang sebelumnya mengatakan: “Yang berpemikiran khilafah tidak boleh menjadi ASN.” Padahal khilafah itu ajaran Islam.
Khilafah bahkan menjadi materi bahasan di Madrasah Aliyah kelas XII, yang diterbitkan resmi oleh Kementerian Agama. Khilafah hukumnya fardu kifayah, kalau materi khilafah diajarkan kepada siswa dan siswa membenarkan bukankah berarti telah mencapai tujuan pembelajaran? Mengapa setelah puluhan tahun diajarkan tiba-tiba dipermasalahkan?
Saran tersebut agar mereka paham apa itu khilafah. Sehingga tidak salah kaprah saat menilai khilafah yang jelas ajaran Islam, dan bukan hal yang diimejkan begitu menakutkan. Bahkan disetarakan dengan ajaran komunis. Sementara paham sekulerisme, kapitalisme dan sosialisme yang jelas haram oleh fatwa MUI malah dibiarkan saja. Seharusnya ASN dilarang juga berpaham sekulerisme yang jelas bertentangan dengan prinsip Islam dan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa.
Isu radikalisme begitu gencar, menteri agama menyebutkan bahwa pintu masuknya radikalisme melalui anak yang good looking. Anak-anak yang penguasaan bahasanya bagus dan hafidz Qur’an. Mengapa pejabat, yang seharusnya menumbuhkembangkan toleransi dan semangat berislam karena notabene kita bangsa mayoritas Islam, justru membuat pernyataan yang meresahkan? Harusnya kita bersyukur menemukan anak bangsa yang akan menjaga negara ini sebagai pemuda yang good looking, ganteng tapi pandai mengkaji Islam. Bukan dibalik dilabeli sebagai agen radikalisme. Sedangkan pemuda kecanduan narkoba, suka tawuran dan perilaku negatif lainya, meningkatnya korupsi, kriminalitas, LGBT, maraknya pornografi dan pornoaksi justru dibiarkan terjadi begitu saja.
Tiba-tiba isu radikalisme, khilafah, menjadi momok yang begitu menakutkan. Sebenarnya isu radikalisme ini mengikuti agenda Barat yang tidak sepenuhnya berhasil menghentikan laju kebangkitan Islam, melalui isu war on terrorism. Lalu Barat meluncurkan agenda war on radicalism. Harapanya melalui isu ini kelompok-kelompok juga tokoh-tokoh Islam yang konsisten mengamalkan dan memperjuangkan Islam secara kaffah, termasuk yang memperjuangkan khilafah akan terjerat hukum.
Jadi jelas radikalisme menurut Barat adalah ide untuk kembali mengamalkan Islam secara kaffah, dan yang menolak nilai-nilai dari Barat yaitu sekularisme, liberalism. Maka Barat memanfaatkan kelompok atau tokoh yang mereka sebut dengan Muslim moderat yang menerima nilai-nilai Barat dan tidak menginginkan mengamalkan Islam secara kaffah. Mereka mengajak memerangi Muslim yang mereka kategorikan radikalis. Sangat membingungkan bila penguasa negeri Muslim justru ikut memerangi dakwah Islam yang kaffah. Begitu phobi dengan istilah khilafah, seakan khilafah adalah sebuah bahaya besar yang akan melumatkan kedudukan dan diri mereka. Maka dengan sekuat tenaga mereka gambarkan khilafah itu kejam yang melakukan potong tangan, rajam yaitu membunuh pezina mukson yaitu orang yang sudah menikah berzina akan dihukum dengan dilempari batu sampai mati.
Mengapa Barat dan Cina sangat membenci diterapkanya syariah Islam secara kaffah? Itu karena mereka tahu tidak akan mungkin bisa lagi melancarkan kepentingan politik dan ekonomi mereka di negeri-negeri bersyariah. Sistem khilafah pasti tidak akan mudah ditundukkan dan selalu bersikap kritis terhadap sepak terjang Barat di negeri Muslim.
Dalam hadis dari Ibn Umar RA, Rasulullah SAW bersabda: ”Setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabanya atas kepemimpinanya” (HR Muslim). Hadis ini menegaskan, barangsiapa yang mendapat amanah menjadi pemimpin di manapun hendaknya memiliki kesadaran akan tanggung jawab besar terhadap yang dipimpinnya.
Maka sedekah seorang pemimpin tidak hanya uang tapi kebijaksanaannya. Kebijakan pemimpin yang adil akan membawa kedamaian. Fondasi mindset pemimpin adalah takut kepada Allah. Tujuan utamanya mencari ridha Allah. Murka Allah selalu dihindarinya. Maka akan terwujud pemimpin yang dicintai rakyatnya. Energi cinta pemimpin mampu membawa kehidupan jauh lebih baik. []




















