pesanan-baju-kaos
28 °c
Pecenongan
Mon
Tue
Monday, 26 October, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Pondok Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Laput

Masa Depan Politik Umat

Oleh:  Mohamad Deny Irawan

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
7 years ago
in Laput
0
Masa Depan Politik Umat

foto: hidayatullah.com

Berbicara tentang umat Islam berbicara tentang persatuan. Jika umat Islam sudah bersatu, apapun bisa diraih. Masalahnya, sudahkah umat Islam di Indonesia bersatu? Lantas bagaimana kondisi umat Islam andai persatuan umat urung terlaksana?

Tidak dapat dimungkiri, masyarakat mulai melek dengan politik. Pembicaraan politik, kini, tidak lagi didominasi oleh kalangan elite maupun terpelajar. Hari ini, pembicaraan politik banyak terjadi di warung kopi, pelataran pusat perbelanjaan, hingga di lahan parkir sebuah pasar.

“Yang penting, kita harus memilih orang yang mampu menyejahterakan rakyat,” seloroh  obrolan khas warung kopi.

“Kalau dia cuma menyengsarakan rakyat, lebih baik tidak usah dipilih,” tambah rekannya berdiskusi tentang calon anggota legislatif atau eksekutif yang dapat menyejahterakan rakyat meski terkadang narasi tersebut cenderung bersifat imajinatif ketimbang realitas kenyataan.

BACA JUGA

Jejak Pengusaha Alumni Gontor: Dari Dunia Usaha ke Pendidikan

Menghidupkan Kembali Budaya Baca

Guru Berperan Menanamkan Adab

Menjaga Fitrah dan Istiqamah Pasca-Ramadhan

Perintah Menjaga Lingkungan Hidup

Sehubungan dengan selesainya pelaksanaan pemilihan umum serentak 2019, tantangan umat di sejumlah bidang semakin nyata termasuk di bidang politik dan sumber daya manusia. Kehadiran umat dalam perpolitikan nasional juga berhasil membuat sejumlah pihak memandang hubungan antara Islam dan politik menjadi lebih positif.

Ada yang merasa, melek politik jadi pekerjaan rumah bersama sebagai hal penting dan ada pula yang merasa bahwa mengawal arah politik nasional maupun lokal jadi salah satu langkah penting dalam upaya menyejahterakan rakyat.



Begitu pula dengan agenda 212 yang terus menerus digembosi oleh banyak pihak entah mereka yang memenangi persaingan ataupun mereka yang kalah saat bersaing. Lantas Bagaimana nasibnya?

Tidak hanya itu, di tengah gemuruh wacana tentang militansi agama dalam kehidupan bangsa, terlintas pertanyaan reflektif, apakah peningkatan gairah keagamaan bisa berdampak negatif bagi perkembangan ekonomi-politik?

Dosen Ilmu Politik Institut Agama Islam Purwokerto, Lukman Rico Kashogi, mengatakan bahwa gerakan 212 bisa mendorong pergerakan-pergerakan sosial di berbagai lini. Meski demikian, ada beberapa kelompok masyarakat yang tidak menginginkan gerakan 212 bermetamorfosis dari gerakan sosial keislaman menjadi gerakan politik praktis.

Bagi Lukman, surutnya jargon 212 juga tidak lepas dari fenomena gerakan sosial yang terjadi karena alasan tertentu yang sifatnya temporal. “Inilah mengapa di beberapa wilayah jargon 212 perlahan surut,” kata Lukman kepada Majalah Gontor.

“Bukan karena semangatnya menurun, tetapi karena gerakan ini muncul dari kesadaran dan semangat melawan diskriminasi dan ketidakadilan akut,” tambah Lukman.

Sebaliknya, gerakan 212 bisa diarahkan sebagai gerakan untuk mendorong elemen masyarakat agar mengontrol, mengawal dan mengevaluasi kebijakan publik. Kesempatan inilah yang seharusnya dijadikan komunitas 212 sebagai target gerakan selanjutnya.

“Nafas ini adalah peluang berharga untuk semacam memberikan lampu kuning kepada pelaku kebijakan publik yang tidak amanah sembari menjaga stabilitas demokrasi di dalam negeri,” ucapnya.

Lukman pun mendesak kepada seluruh pejabat publik agar mampu menyebarkan politik keteladanan. Para pejabat, wakil rakyat dan Presiden sekalipun harus tunduk kepada upaya menyejahterakan rakyat dan bukan abdi konglomerat. “Apalagi kepentingan superioritas politik oligarki dan politik materialistis-pragmatis,” pesan alumnus Institut Studi Islam Darussalam Gontor (sekarang Universitas Darussalam/UNIDA) itu.

Senada dengan Lukman, pakar politik UNIDA, Muhammad Latief, mengatakan gerakan 212 seharusnya bukan menjadi satu-satunya pergerakan keumatan yang ada di Indonesia. Gerakan-gerakan keumatan juga perlu “menyebar” ke bidang ekonomi, pendidikan hingga keagamaan. Keberadaan gerakan-gerakan keagamaan seperit hadirnya Nahdhatul Ulama, Muhammadiyah, Persis dan lain sebagainya juga perlu digaungkan demi memperjuangkan cita-cita keislaman di Indonesia.

“Seharusnya, gerakan semacam ini bukan satu-satunya gerakan yang mampu menjadi determinasi di arena politik. Banyak sekali gerakan lain di bidang ekonomi, pendidikan dan keagamaan yang memperjuangkan cita-cita keislamaan sejak lama,” kata Latief kepada Majalah Gontor.

“Pekerjaan rumah bagi umat Islam mendatang adalah membentuk idetitas kolektif. Umat Islam harus bersatu padu untuk merealisasikan nilai-nilai keislaman di Indonesia,” tambahnya.

Secara lebih substantif, Latief meminta seluruh elemen umat Islam untuk bersatu padu dalam merealisasikan cita-cita umat islam. Bagi alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor tersebut, mempersatukan umat serta menyamakan persepsi antarumat merupakan isu politik paling penting yang dihadapi umat Islam di Indonesia. “Saya melihat isu persatuan dan persamaan antarumat Islam sebagai isu politik yang perlu mendapatkan porsi lebih dari masyarakat,” ujarnya.

Gairah Keislaman

Sementara itu, Cendekiawan Muslim, Yudi Latief, memberikan dua jawaban dalam menyikapi perkembangan gerakan keislaman di Indonesia. Bagi Yudi, gairah keagamaan bisa seketika menjadi motivasi seseorang untuk membentuk kepribadian, etika kerja, disiplin, kejujuran dan kebersahajaan.

Tetapi, di sisi lain, gairah keagamaan dapat juga menjadi bumerang di mana negara bisa menjadi lebih kaya tetapi sisi regiliusitas masyarakat bisa menurun.

“Konsep agama tentang ganjaran, hukuman dan kehidupan akhirat, bisa memberi motivasi yang kuat bagi perilaku pemeluknya,” jelas Yudi Latief kepada Majalah Gontor.

“Bila kepribadian ini bertaut dengan modal sosial dari pelayanan agama dan tradisi membaca kitab suci yang mendorong tingkat literasi dan pendidikan, maka meningkatnya keyakinan keagamaan bisa berdampak positif bagi perkembangan ekonomi-politik,” tambah Yudi.

Pria kelahiran Sukabumi 55 tahun silam itu menjelaskan, semangat ini seharusnya didukung dengan kerangka institusional. Pasalnya, tingginya keyakinan keagamaan di dunia Islam tidak mendapatkan dukungan transformasi institusional.

Problem yang Yudi sampaikan juga mengingatkan kita bagaimana kemunduran dunia Islam dalam obsesi stabilitas kerap kali terjadi karena mereka menghindari keterbukaan dan pemikiran kritis. Padahal, di saat yang bersamaan, dunia Barat mulai memasuki revolusi industri yang menuntut kebaruan institusi-institusi sosial-ekonomi.

“Akibatnya, umat Islam tak siap merumuskan institusi legal dan regulasi, kredit, asuransi dan kontrak, serta pengembangan struktur korporasi yang dapat menopang arus industrialisasi,” tuturnya.

Sementara itu, perkembangan politik yang sedemikian dinamis juga tidak dapat dikesampingkan karena juga akan berdampak langsung terhadap agama. Yudi mengkritisi sebuah fenomena di banyak negara kaya yang justru tingkat keagamaan masyarakatnya cenderung menurun.

“Meski ada pengecualian bagi beberapa negara (terutama di dunia Muslim) karena konteks khusus dari watak sekularisasi dan religiusitasnya,” kata peraih gelar doktor bidang Sosiologi Politik dari Australian National University (ANU) itu.

Yudi juga mengkhawatirkan jomplangnya tingkat pendidikan yang tidak diikuti dengan peningkatan ekonomi. Kondisi tersebut akan melahirkan apa yang disebut oleh Rachel M McCleany & Robert J Barro dalam buku “The Wealth of Religions: The Political Economy of Believing and Belonging” sebagai kelompok under-utilizied human capital atau sumber daya manusia yang tidak termanfaatkan.

“Orang-orang ini adalah orang terdidik dengan ekspektasi mobilitas vertikal dan mendapati peluang usaha dan kerja yang menyempit. Jika tidak ditangani, mereka bisa berpaling pada kelompok-kelompok militan sebagai sumber keyakinan, identitas diri dan jaminan sosial,” jelasnya. []

 

 

Tags: 212Monas
Share30Tweet19Send
Previous Post

Soal Energi Laut Mediterania: Erdogan Serukan Kerjasama, Bukan Konflik

Next Post

Jangan Peduli dengan Cap Radikalisme

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kesyukuran Wisuda Angkatan Ke-11 STKQ Al-Hikam Depok Hadirkan Puluhan Lulusan Berkualitas

Kesyukuran Wisuda Angkatan Ke-11 STKQ Al-Hikam Depok Hadirkan Puluhan Lulusan Berkualitas

19 October 2026
Tidak Hanya Luluskan Wisudawan, STKQ Al-Hikam Depok Mulai Lahirkan Sebelas Wisudawati Terbaik

Tidak Hanya Luluskan Wisudawan, STKQ Al-Hikam Depok Mulai Lahirkan Sebelas Wisudawati Terbaik

19 October 2026
Teman Paling Baik Menurut Al-Qur’an

Teman Paling Baik Menurut Al-Qur’an

22 October 2026
Gontor 7 Kalianda Gelar Pergantian Pengurus OPPM

Gontor 7 Kalianda Gelar Pergantian Pengurus OPPM

22 October 2026
Mahasiswa AFI UNIDA Gontor Belajar Menjadi Pemimpin dan Ayah di Rumpun Nurani

Mahasiswa AFI UNIDA Gontor Belajar Menjadi Pemimpin dan Ayah di Rumpun Nurani

21 October 2026
UNIDA Gontor Benchmarking ke UGM: Perkuat Dana Abadi Perguruan Tinggi

UNIDA Gontor Benchmarking ke UGM: Perkuat Dana Abadi Perguruan Tinggi

0
Mahasantri Gontor Analisis Sejarah Kolonial dan Masjid Kuno Beleq Bayan NTB

Mahasantri Gontor Analisis Sejarah Kolonial dan Masjid Kuno Beleq Bayan NTB

0
IQT UNIDA Gontor Belajar Literasi Media

IQT UNIDA Gontor Belajar Literasi Media

0
IQT UNIDA Gontor Kunjungi Pesantren Tuna Netra Raudlatul Makfufin Tangsel

IQT UNIDA Gontor Kunjungi Pesantren Tuna Netra Raudlatul Makfufin Tangsel

0
Hari Santri Nasional: Wagub Banten Dorong Pencak Silat Jadi Mulok Wajib Pesantren

Hari Santri Nasional: Wagub Banten Dorong Pencak Silat Jadi Mulok Wajib Pesantren

0
UNIDA Gontor Benchmarking ke UGM: Perkuat Dana Abadi Perguruan Tinggi

UNIDA Gontor Benchmarking ke UGM: Perkuat Dana Abadi Perguruan Tinggi

25 October 2026
IQT UNIDA Gontor Belajar Literasi Media

IQT UNIDA Gontor Belajar Literasi Media

25 October 2026
Mahasantri Gontor Analisis Sejarah Kolonial dan Masjid Kuno Beleq Bayan NTB

Mahasantri Gontor Analisis Sejarah Kolonial dan Masjid Kuno Beleq Bayan NTB

25 October 2026
IQT UNIDA Gontor Kunjungi Pesantren Tuna Netra Raudlatul Makfufin Tangsel

IQT UNIDA Gontor Kunjungi Pesantren Tuna Netra Raudlatul Makfufin Tangsel

25 October 2026
Hari Santri Nasional: Wagub Banten Dorong Pencak Silat Jadi Mulok Wajib Pesantren

Hari Santri Nasional: Wagub Banten Dorong Pencak Silat Jadi Mulok Wajib Pesantren

24 October 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Bazar Buku. Silahkan japri untuk pemesanan via instagram hari ini.
  • Buku ini ditulis untuk kamu yang sedang atau pernah menjalani kehidupan di pesantren. Pesan sekarang atau kunjungi stan Majalah Gontor di ESPECTO BAZAR.
  • ESPECTOR BAZAR AL HASSAN BEKASI 24 - 25 OKTOBER 2026.  DAPATAKAN DISKON 15% BAGI PEMESAN BUKU INI VIA INSTAGRAM. 
BELUM TERMASUK ONGKIR. 
UNTUK PEMESANAN BISA JAPRI ADMIN.
  • Assalamu
  • Pre Order dibuka kembali hingga 25 Oktober 2026

Link pembelian bisa dilihat di bagian akhir gambar atau di profile.
atau bisa langsung ke link dibawah ini :
https://tinyurl.com/pesan-baju

#majalahgontor 
#gontornews
  • Telah terbit dan bisa dipesan
Majalah Gontor Edisi Oktober 2026
pemesanan bisa ke nomor :
081234160133

untuk edisi khusus 100 tahun gontor bisa dipesan melalui link dibawah ini
https://bit.ly/pesan-majalah

#majalahgontor 
#gontornews 
#pesanmajalah
  • Bismillah, bagi yang ingin mempromosikan usahanya di Majalah Gontor edisi November silahkan daftar dan cek paketnya pada link https://bit.ly/pasang-iklan-mg atau scan barcode pada gambar.

#majalahgontor #gontornews
  • Bismillah.
Paket Perpustakaan.
EDISI TAHUN 2020 - 2025

Hanya : Rp. 149.000,-
Didapatkan: 
1. Isi 20 Eksemplar
2. Edisi Tahun Acak
3. + SUBSIDI ONGKIR 10.000,-

Pesan Via WhatsApp
0812 3416 0133, 0858 1760 8802

Website : www.gontornews.com
Instagram : @gontornews 

#majalahgontor 
#majalahgontor
  • Bismillah.
tersedia baju kaos lengan panjang atau pendek. Warna putih dan hitam. Degan Sablon DTF.

Ukuran : S, M, L, XL

Link Pembelian : https://tinyurl.com/pesan-baju

#majalahgontor 
#gontornews

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Pondok Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result