pesanan-majalah-edisi-khusus
30 °c
Pecenongan
Sun
Mon
Saturday, 8 August, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Laput

Masa Depan Politik Umat

Oleh:ย  Mohamad Deny Irawan

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
1 December 2019
in Laput
0
Masa Depan Politik Umat

foto: hidayatullah.com

Berbicara tentang umat Islam berbicara tentang persatuan. Jika umat Islam sudah bersatu, apapun bisa diraih. Masalahnya, sudahkah umat Islam di Indonesia bersatu? Lantas bagaimana kondisi umat Islam andai persatuan umat urung terlaksana?

Tidak dapat dimungkiri, masyarakat mulai melek dengan politik. Pembicaraan politik, kini, tidak lagi didominasi oleh kalangan elite maupun terpelajar. Hari ini, pembicaraan politik banyak terjadi di warung kopi, pelataran pusat perbelanjaan, hingga di lahan parkir sebuah pasar.

โ€œYang penting, kita harus memilih orang yang mampu menyejahterakan rakyat,โ€ seloroh ย obrolan khas warung kopi.

โ€œKalau dia cuma menyengsarakan rakyat, lebih baik tidak usah dipilih,โ€ tambah rekannya berdiskusi tentang calon anggota legislatif atau eksekutif yang dapat menyejahterakan rakyat meski terkadang narasi tersebut cenderung bersifat imajinatif ketimbang realitas kenyataan.

BACA JUGA

Jejak Pengusaha Alumni Gontor: Dari Dunia Usaha ke Pendidikan

Menghidupkan Kembali Budaya Baca

Guru Berperan Menanamkan Adab

Menjaga Fitrah dan Istiqamah Pasca-Ramadhan

Perintah Menjaga Lingkungan Hidup

Sehubungan dengan selesainya pelaksanaan pemilihan umum serentak 2019, tantangan umat di sejumlah bidang semakin nyata termasuk di bidang politik dan sumber daya manusia. Kehadiran umat dalam perpolitikan nasional juga berhasil membuat sejumlah pihak memandang hubungan antara Islam dan politik menjadi lebih positif.

Ada yang merasa, melek politik jadi pekerjaan rumah bersama sebagai hal penting dan ada pula yang merasa bahwa mengawal arah politik nasional maupun lokal jadi salah satu langkah penting dalam upaya menyejahterakan rakyat.

Begitu pula dengan agenda 212 yang terus menerus digembosi oleh banyak pihak entah mereka yang memenangi persaingan ataupun mereka yang kalah saat bersaing. Lantas Bagaimana nasibnya?

Tidak hanya itu, di tengah gemuruh wacana tentang militansi agama dalam kehidupan bangsa, terlintas pertanyaan reflektif, apakah peningkatan gairah keagamaan bisa berdampak negatif bagi perkembangan ekonomi-politik?

Dosen Ilmu Politik Institut Agama Islam Purwokerto, Lukman Rico Kashogi, mengatakan bahwa gerakan 212 bisa mendorong pergerakan-pergerakan sosial di berbagai lini. Meski demikian, ada beberapa kelompok masyarakat yang tidak menginginkan gerakan 212 bermetamorfosis dari gerakan sosial keislaman menjadi gerakan politik praktis.

Bagi Lukman, surutnya jargon 212 juga tidak lepas dari fenomena gerakan sosial yang terjadi karena alasan tertentu yang sifatnya temporal. โ€œInilah mengapa di beberapa wilayah jargon 212 perlahan surut,โ€ kata Lukman kepada Majalah Gontor.

โ€œBukan karena semangatnya menurun, tetapi karena gerakan ini muncul dari kesadaran dan semangat melawan diskriminasi dan ketidakadilan akut,โ€ tambah Lukman.

Sebaliknya, gerakan 212 bisa diarahkan sebagai gerakan untuk mendorong elemen masyarakat agar mengontrol, mengawal dan mengevaluasi kebijakan publik. Kesempatan inilah yang seharusnya dijadikan komunitas 212 sebagai target gerakan selanjutnya.

โ€œNafas ini adalah peluang berharga untuk semacam memberikan lampu kuning kepada pelaku kebijakan publik yang tidak amanah sembari menjaga stabilitas demokrasi di dalam negeri,โ€ ucapnya.

Lukman pun mendesak kepada seluruh pejabat publik agar mampu menyebarkan politik keteladanan. Para pejabat, wakil rakyat dan Presiden sekalipun harus tunduk kepada upaya menyejahterakan rakyat dan bukan abdi konglomerat. โ€œApalagi kepentingan superioritas politik oligarki dan politik materialistis-pragmatis,โ€ pesan alumnus Institut Studi Islam Darussalam Gontor (sekarang Universitas Darussalam/UNIDA) itu.

Senada dengan Lukman, pakar politik UNIDA, Muhammad Latief, mengatakan gerakan 212 seharusnya bukan menjadi satu-satunya pergerakan keumatan yang ada di Indonesia. Gerakan-gerakan keumatan juga perlu โ€œmenyebarโ€ ke bidang ekonomi, pendidikan hingga keagamaan. Keberadaan gerakan-gerakan keagamaan seperit hadirnya Nahdhatul Ulama, Muhammadiyah, Persis dan lain sebagainya juga perlu digaungkan demi memperjuangkan cita-cita keislaman di Indonesia.

โ€œSeharusnya, gerakan semacam ini bukan satu-satunya gerakan yang mampu menjadi determinasi di arena politik. Banyak sekali gerakan lain di bidang ekonomi, pendidikan dan keagamaan yang memperjuangkan cita-cita keislamaan sejak lama,โ€ kata Latief kepada Majalah Gontor.

โ€œPekerjaan rumah bagi umat Islam mendatang adalah membentuk idetitas kolektif. Umat Islam harus bersatu padu untuk merealisasikan nilai-nilai keislaman di Indonesia,โ€ tambahnya.

Secara lebih substantif, Latief meminta seluruh elemen umat Islam untuk bersatu padu dalam merealisasikan cita-cita umat islam. Bagi alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor tersebut, mempersatukan umat serta menyamakan persepsi antarumat merupakan isu politik paling penting yang dihadapi umat Islam di Indonesia. โ€œSaya melihat isu persatuan dan persamaan antarumat Islam sebagai isu politik yang perlu mendapatkan porsi lebih dari masyarakat,โ€ ujarnya.

Gairah Keislaman

Sementara itu, Cendekiawan Muslim, Yudi Latief, memberikan dua jawaban dalam menyikapi perkembangan gerakan keislaman di Indonesia. Bagi Yudi, gairah keagamaan bisa seketika menjadi motivasi seseorang untuk membentuk kepribadian, etika kerja, disiplin, kejujuran dan kebersahajaan.

Tetapi, di sisi lain, gairah keagamaan dapat juga menjadi bumerang di mana negara bisa menjadi lebih kaya tetapi sisi regiliusitas masyarakat bisa menurun.

โ€œKonsep agama tentang ganjaran, hukuman dan kehidupan akhirat, bisa memberi motivasi yang kuat bagi perilaku pemeluknya,โ€ jelas Yudi Latief kepada Majalah Gontor.

โ€œBila kepribadian ini bertaut dengan modal sosial dari pelayanan agama dan tradisi membaca kitab suci yang mendorong tingkat literasi dan pendidikan, maka meningkatnya keyakinan keagamaan bisa berdampak positif bagi perkembangan ekonomi-politik,โ€ tambah Yudi.

Pria kelahiran Sukabumi 55 tahun silam itu menjelaskan, semangat ini seharusnya didukung dengan kerangka institusional. Pasalnya, tingginya keyakinan keagamaan di dunia Islam tidak mendapatkan dukungan transformasi institusional.

Problem yang Yudi sampaikan juga mengingatkan kita bagaimana kemunduran dunia Islam dalam obsesi stabilitas kerap kali terjadi karena mereka menghindari keterbukaan dan pemikiran kritis. Padahal, di saat yang bersamaan, dunia Barat mulai memasuki revolusi industri yang menuntut kebaruan institusi-institusi sosial-ekonomi.

โ€œAkibatnya, umat Islam tak siap merumuskan institusi legal dan regulasi, kredit, asuransi dan kontrak, serta pengembangan struktur korporasi yang dapat menopang arus industrialisasi,โ€ tuturnya.

Sementara itu, perkembangan politik yang sedemikian dinamis juga tidak dapat dikesampingkan karena juga akan berdampak langsung terhadap agama. Yudi mengkritisi sebuah fenomena di banyak negara kaya yang justru tingkat keagamaan masyarakatnya cenderung menurun.

โ€œMeski ada pengecualian bagi beberapa negara (terutama di dunia Muslim) karena konteks khusus dari watak sekularisasi dan religiusitasnya,โ€ kata peraih gelar doktor bidang Sosiologi Politik dari Australian National University (ANU) itu.

Yudi juga mengkhawatirkan jomplangnya tingkat pendidikan yang tidak diikuti dengan peningkatan ekonomi. Kondisi tersebut akan melahirkan apa yang disebut oleh Rachel M McCleany & Robert J Barro dalam buku “The Wealth of Religions: The Political Economy of Believing and Belonging” sebagai kelompok under-utilizied human capital atau sumber daya manusia yang tidak termanfaatkan.

โ€œOrang-orang ini adalah orang terdidik dengan ekspektasi mobilitas vertikal dan mendapati peluang usaha dan kerja yang menyempit. Jika tidak ditangani, mereka bisa berpaling pada kelompok-kelompok militan sebagai sumber keyakinan, identitas diri dan jaminan sosial,โ€ jelasnya. []

 

 

Tags: 212Monas
Share28Tweet18Send
Previous Post

Soal Energi Laut Mediterania: Erdogan Serukan Kerjasama, Bukan Konflik

Next Post

Jangan Peduli dengan Cap Radikalisme

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Ribuan Peserta Hadiri Multaqa Ilmi Bersama Prof Abdul Somad di Al-Amien Prenduan

Ribuan Peserta Hadiri Multaqa Ilmi Bersama Prof Abdul Somad di Al-Amien Prenduan

5 August 2026
Antusiasme Puluhan Ribu Jamaah Warnai Puncak Idul Khotmi Nasional Ke-234

Antusiasme Puluhan Ribu Jamaah Warnai Puncak Idul Khotmi Nasional Ke-234

25 July 2026
Sosialisasi RLS dan Open House 2026: INAIS Perkuat Sinergi Pendidikan Bogor Barat

Sosialisasi RLS dan Open House 2026: INAIS Perkuat Sinergi Pendidikan Bogor Barat

2 August 2026
FITK INAIS Bogor Siapkan Calon Pendidik yang Tak Tergantikan AI Menuju Indonesia Emas 2045

FITK INAIS Bogor Siapkan Calon Pendidik yang Tak Tergantikan AI Menuju Indonesia Emas 2045

3 August 2026
Penerbit Erlangga Raih Apresiasi Radar Surabaya Awards 2026

Penerbit Erlangga Raih Apresiasi Radar Surabaya Awards 2026

3 August 2026
saiful falah pemerhati pendidikan

Wilayah Bogor Barat Butuh Keragaman Sarjana

0
Khotmul Qur’an Ke-18 SIT Insantama Leuwiliang: Cetak Generasi Qur’ani

Khotmul Qur’an Ke-18 SIT Insantama Leuwiliang: Cetak Generasi Qur’ani

0
Peringati HUT RI Ke-81, PB JATMA ASWAJA Gelar Doa Keselamatan Bangsa di Istiqlal

Peringati HUT RI Ke-81, PB JATMA ASWAJA Gelar Doa Keselamatan Bangsa di Istiqlal

0
Ribuan Peserta Hadiri Multaqa Ilmi Bersama Prof Abdul Somad di Al-Amien Prenduan

Ribuan Peserta Hadiri Multaqa Ilmi Bersama Prof Abdul Somad di Al-Amien Prenduan

0
FITK INAIS Bogor Siapkan Calon Pendidik yang Tak Tergantikan AI Menuju Indonesia Emas 2045

FITK INAIS Bogor Siapkan Calon Pendidik yang Tak Tergantikan AI Menuju Indonesia Emas 2045

0
saiful falah pemerhati pendidikan

Wilayah Bogor Barat Butuh Keragaman Sarjana

6 August 2026
Khotmul Qur’an Ke-18 SIT Insantama Leuwiliang: Cetak Generasi Qur’ani

Khotmul Qur’an Ke-18 SIT Insantama Leuwiliang: Cetak Generasi Qur’ani

6 August 2026
Peringati HUT RI Ke-81, PB JATMA ASWAJA Gelar Doa Keselamatan Bangsa di Istiqlal

Peringati HUT RI Ke-81, PB JATMA ASWAJA Gelar Doa Keselamatan Bangsa di Istiqlal

6 August 2026
Ribuan Peserta Hadiri Multaqa Ilmi Bersama Prof Abdul Somad di Al-Amien Prenduan

Ribuan Peserta Hadiri Multaqa Ilmi Bersama Prof Abdul Somad di Al-Amien Prenduan

5 August 2026
BAZNAS dan PP PERSIS Perkuat Kerjasama Program Strategis

BAZNAS dan PP PERSIS Perkuat Kerjasama Program Strategis

4 August 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Silahkan daftar melalui link ini : https://tinyurl.com/iklan-magonatau link bisa lihat di profile
  • Batas Akhir 7 Agustus 2026
Link Pendaftaran ada di profile"Kesempatan boleh datang berkali-kali, tetapi momen 100 Tahun Gontor hanya terjadi sekali. Jangan hanya menjadi saksi sejarah. Jadilah bagian dari sejarah."
  • Sistim pendafaran otomatis akan tertutup pada tanggal 7 Agustus 2026.
  • Edisi Khusus Majalah Gontor dalam rangka 100 Tahun Gontor. Bulan Juli, Agustus dan September.
Link Pemesanan : Lihat di profile#majalahgontor #gontornews #edisikhsusumajalahgontor #100tahungontor #gontor #gontorputri
  • KHUSUS ALUMNI GONTOR ๐Ÿ“ฃPerkenalkan usaha Anda.
Majalah Gontor Edisi Khusus September 2026 โ€“ Spesial 100 Tahun Gontor.โœ”๏ธ Perkenalkan usaha Anda kepada ribuan keluarga besar Gontor di seluruh Indonesia.
โœ”๏ธ Kontribusi Rp1.500.000.
โœ”๏ธ Pendaftaran hingga 7 Agustus 2026 atau kuota terpenuhi.๐Ÿ“ https://tinyurl.com/iklan-magon๐Ÿ“ž 0877-8707-2412 | 0813-1510-6479
  • Ada momen yang bisa diulang, ada pula yang hanya terjadi sekali dalam sejarah. Jangan lewatkan kesempatan memperkenalkan usaha Anda pada Edisi Spesial 100 Tahun Gontor.Link Pendaftaran :
https://tinyurl.com/daftar-umkm-mg#majalahgontor #gontornews #walisantrigontor #gontor
  • Kesempatan yang Tidak Datang Dua KaliJadilah bagian dari Edisi Khusus Majalah Gontor September 2026 dalam rangka 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor.Kami mengundang Wali Santri Gontor yang memiliki usaha untuk memperkenalkan produknya kepada ribuan keluarga besar Gontor di seluruh Indonesia melalui edisi koleksi yang akan menjadi bagian dari sejarah.๐Ÿ“Œ Kontribusi seikhlasnya
๐Ÿ“Œ Syarat: Anak masih aktif sebagai santri Gontor
๐Ÿ“Œ Pendaftaran hanya sampai 7 Agustus 2026Kirimkan:
โœ… Logo Usaha
โœ… Foto Produk
โœ… Deskripsi Singkat
โœ… Website/Sosial Media (jika ada)๐Ÿ“ฒ Daftar sekarang:
https://tinyurl.com/daftar-umkm-mg๐Ÿ“ž Informasi:
0877-8707-2412
0813-1510-6479#majalahgontor #100tahungontor #walisantri #pengusahamuslim #gontornews #pesantrengontor #gontor
  • EDISI KHUSUS SPESIAL 100 TAHUN GONTOR TELAH TERBIT! โœจPerjalanan satu abad tidak datang dua kali.๐Ÿ“– Majalah Gontor Edisi Juli & Agustus 2026 hadir sebagai bagian dari koleksi bersejarah 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor. Mengangkat perjalanan, gagasan, dan kontribusi Gontor dalam membangun peradaban, dua edisi ini layak menjadi koleksi bagi setiap keluarga besar Gontor.Jangan menunggu sampai stok habis.
๐Ÿ“š Pesan sekarang:
๐Ÿ‘‰ https://bit.ly/pesan-majalah๐ŸŒ www.gontornews.com#majalahgontor #100tahungontor #gontor #pondokmoderngontor #mediaperekatumat #unidagontor #keluargabesargontor #alumnigontor #walisantrigontor #koleksibersejarah
  • Dalam rangka 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Majalah Gontor membuka kesempatan bagi 100 UMKM milik wali santri untuk menjadi bagian dari Edisi Khusus September 2026.๐Ÿ“Œ Yang ditampilkan:
โœ… Logo/Nama Usaha
โœ… Foto Produk
โœ… Deskripsi Singkat
โœ… Website/Media Sosial (jika ada)๐Ÿ’š Kontribusi seikhlasnya
โš ๏ธ Kuota hanya 100 UMKM.Jadilah bagian dari edisi koleksi bersejarah yang akan dibaca dan disimpan oleh keluarga besar Gontor di seluruh Indonesia.๐Ÿ“ฒ Daftar sekarang:
https://tinyurl.com/daftar-umkm-mg๐Ÿ“ž Informasi:
0877-8707-2412
0813-1510-6479

ยฉ 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
โ–ฒ
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result