Bengkulu, Gontornews — Masjid Jami’ Bengkulu merupakan salah satu masjid yang sangat terkenal dan tertua di Bengkulu. Berbicara mengenai sejarah pendirian masjid ini, masyarakat luas banyak yang mengetahui bahwa masjid tersebut telah didirikan oleh presiden pertama RI, Ir. Soekarno.
Padahal, setelah ditelusuri lebih lanjut, imam masjid yang juga merupakan keturunan imam pada masa pengasingan Bung Karno (1938-1942) dulu mengatakan bahwa Masjid Jami’ sudah berdiri sejak abad ke-18 M silam dengan lokasi di dekat pantai. Pemindahan lokasi masjid dikarenakan lokasi lama yang sering tergenang air.
Pada masa itu, Bung Karno masih berstatus sebagai pejuang kemerdekaan Indonesia. Sebelum Bengkulu, sempat pula sang proklamator berkelana menghabiskan masa pengasingan di Bandung (1928), Sukamiskin (1930-1932), dan Flores (1934).
Arsitektur Masjid
Awalnya, konstruksi bangunan masjid lama yang sering terendam air menyebabkan bahan-bahan masjid cepat mengalami pelapukan sehingga atapnya kerap bocor saat musim hujan datang. Apalagi, masjid saat itu hanya berkonstruksi kayu beratapkan rumbia.
Setelah dipindah ke tempat yang sekarang ini pada awalnya masjid ini memakai atap sirap.Melihat kondisi masjid yang memprihatinkan, Bung Karno yang sedang menjalani masa pengasingan berinisiatif untuk berpidato di depan masyarakat Bengkulu agar tergugah kesadarannya untuk mau bahu-membahu membangun masjid mereka kembali.
Sebagai komandan dalam renovasi masjid, Bung Karno menyarankan warga untuk mengerjakannya secara bertahap. Kebutuhan material bangunan semua bersumber dari daerah sekitar yaitu Desa Air Dingin, Rejang Lembong, Bengkulu Utara.
Dalam pembangunannya bagian asli yang masih disisakan hanya dinding ruang utama dan lantainya. Tapi dinding tersebut ditinggikan lagi 2 meter dan lantainya 30 cm, sehingga lebih tinggi dari sebelumnya. Atap masjid yang berbentuk tumpang 3 tingkat berarti Iman, Islam, dan Ikhsan.
Masjid ini juga dihiasi dengan ukiran ayat al-Qur’an dan pahatan berbentuk sulur dengan cat warna kuning emas gading.Bagian yang paling menarik dari masjid ini ialah bagian dalam masjid yang tidak memiliki saka guru seperti masjid-masjid lain pada masa itu. Mungkin itu yang menjadi ciri khas dari bangunan yang dibangun oleh arsitek pribumi terbaik masa itu (Bung Karno).
Bangunan masjid terdiri dari tiga bagian yaitu ruang utama untuk sholat, serambi masjid dan tempat berwudhu. Bangunan utama berukuran 14.65×14.65m, dilengkapi dengan tiga buah pintu masuk. Di dalam bangunan utama tersebut, terdapat mihrab berukuran lebar 1.60 meter dan panjang 2.5 meter.
Pada sebelah kanan mihrab, juga terdapat mimbar dengan corak istambul. Pada bagian atapnya terdapat dua buah kubah dari seng alumunium. Untuk naik ke atas mimbar, terdapat empat buah anak tangga.
Menurut penuturan Imam Masjid, Bung Karno semasa ikut dalam renovasi masjid, selalu berangkat dari rumah pengasinganya menggunakan sepeda yang dikawal ketat oleh tentara Belanda. Sebelum menuju masjid, ia selalu menyempatkan diri menjemput imam masjid yang rumahnya tidak jauh dari Masjid Jami’.
Masjid Jami’ yang pada awalnya terletak di Kelurahan Kampung Bajak, dekat dengan pemakaman Sentot Ali Basya, teman seperjuangan Pangeran Diponegoro yang dibuang Belanda ke Bengkulu, berkat renovasi Bung Karno, hingga kini telah mengalami perkembangan yang pesat.
Lahan parkir yang dahulu merupakan jalan raya, saat ini sudah di pagar menjadi halaman masjid. Jalan di sebelah selatan masjid, sekarang sudah tidak dilalui lagi. Kemudian, di sebelah timur masjid, sedang dilakukan pembangunan tempat wudlu dan kamar mandi untuk menggantikan kamar mandi yang berada di depan masjid dulu.
Sebelumnya Masjid Jami’ sudah beberapa kali mengalami perbaikan. Perbaikan tersebut menurut imam masjid dilakukan untuk mengganti atap seng, lantai dan beberapa perbaikan lainnya. Alhasil, bangunan Masjid Jami’ hasil guratan tangan Soekarno yang terletak di Jalan Soeprapto, Bengkulu, sampai sekarang masih terus digunakan warga setempat sebagai bangunan ibadah yang indah dan bersejarah. <Edithya Miranti>.






















