Fenomena megatren childfree sedang menjadi topik hangat di dunia dan menuai pro-kontra masyarakat. Childfree adalah pilihan hidup seseorang atau pasangan untuk tidak memiliki anak secara sengaja. Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), di Indonesia fenomena childfree masih dianggap wajar dan belum mengkhawatirkan. Namun, beberapa kekhawatiran muncul terkait dengan penurunan angka kelahiran dan pertumbuhan penduduk yang semakin melambat.
Sekilas pengantar di atas mengundang banyak pertanyaan besar, terlebih tentang dampak childfree terhadap ketahanan keluarga. Karena itu Reporter Majalah Gontor, Edithya Miranti, mencoba menggali lebih dalam tentang hal ini kepada Guru Besar bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, IPB University, Prof Dr Ir Euis Sunarti MSi. Berikut ulasannya:
Menurut Anda apa definisi childfree dan apa alasan orang memilih untuk childfree?
Childfree bisa dibedakan antara preferensi (pilihan/kecenderungan) pribadi yang tidak gembar-gembor hanya antara pasangan suami istri (pasutri) saja, dan yang masuk ke ranah advokasi (suatu upaya untuk memperjuangkan suatu gagasan, hak, atau kepentingan dengan cara menyuarakan, memperjuangkan, dan mempengaruhi kebijakan atau opini publik).
Namun yang mungkin bisa menimbulkan konflik yaitu ketika dalam sebuah pasangan memiliki pilihan yang berbeda atau bisa jadi ada perubahan, misalnya sebelum menikah laki-laki dan perempuan tidak ingin punya anak, tapi dalam perjalanannya ternyata ada kerinduan untuk memiliki anak.
Berarti preferensi pribadi yang tidak statis, ada yang sifatnya promotif, gerakan, dan ada yang sifatnya alasan. Seperti pertimbangan kerepotan, ketakutan tidak bisa menjadi orangtua yang baik, tanggung jawab yang besar, dan ada yang sifatnya ideologis lain, berkaitan dengan daya dukung alam, populasi manusia yang banyak, dsb.
Akan tetapi, sejatinya preferensi atau value (nilai) seseorang pada dasarnya dinamis, tidak statis, artinya pandangannya bisa berubah dengan alasan tertentu. Namun dikatakan secara umum warga Indonesia masih ingin mempunyai anak. Hasil survei tahun 2020, masyarakat yang cenderung memilih childfree itu 8% artinya bisa meningkat dengan adanya persepsi tentang penambahan kesulitan dan ketakutan saat punya anak.
Apakah dampak childfree terhadap struktur keluarga?
Dalam struktur keluarga tanpa anak, maka seharusnya childfree suatu pilihan yang telah dipikirkan secara matang oleh pasangan. Artinya pasangan suami istri (pasutri) sudah siap untuk membangun keluarga hanya berdua dengan pasangan, atau tidak mau punya anak biologis, tapi ingin mengadopsi atau mengambil anak angkat yang dibiayai di rumahnya masing-masing tapi tidak di keluarganya atau hanya bisa membawa anak. Ada juga childfree ideologis seperti bersedia mengambil anak yang tidak mampu lalu berkontribusi menyelamatkan anak yang kurang beruntung.
Tapi childfree dengan masalah operasional (takut tidak bisa menjadi orangtua yang baik, dll), maka ia tidak mungkin mengambil anak orang ke rumah. Dampaknya ia harus menyiapkan diri bahwa hidup hanya berdua saja bersama pasangan di sisa waktunya. Umumnya ialah orang yang ingin berkarir full. Stuktur keluarganya pun menjadi lebih simple, sebab tidak ada konsekuensi fungsi-fungsi pendidikan atau pengasuhan anak, dan lainnya. Namun selama itu membuat mereka bahagia dan tidak menjadi gerakan tersendiri, maka itu pilihan. Maka, ketahanannya hanya sebatas menikah, tidak ada interaksi antargenerasi karena akan berhenti di mereka berdua.
Apakah keputusan childfree mempengaruhi ketahanan keluarga?
Komponen keluarga dari pasangan yang memilih childfree berbeda dengan yang tidak childfree. Sebagaimana pasangan childfree hanya berdua, mencari waktu luang hanya berdua, jadi lebih simple. Ketimbang pasangan yang mempunyai anak, tentu sudah menyiapkan diri dengan kompleksitas (pengelolaan waktu, sumberdaya manusia, pendidikan, dsb) karena anak dianggap sebagai suatu yang berharga dan mempunyai value yang penting.
Semua pilihan membutuhkan kematangan masing-masing, hanya dalam bentuk dan intensitas yang berbeda, terlebih seperti kesetiaan. Sebab pasangan childfree, mereka harus pintar mengelola kehidupan keluarganya agar tidak monoton, juga tidak menjenuhkan. Jadi aspek kehidupannya seperti bagaimana mengembangkan karir, individu, atau menjadi orang yang bermanfaat bagi lingkungan.
Bagaimana strategi membangun ketahanan keluarga bagi pasangan childfree?
Semua itu dilihat dari bagaimana mereka memaknai keluarga dan apa tujuan hidup berkeluarga. Jika hal itu tetap dipegang, maka itu akan jadi arahan menjalankan peran dan tugasnya. Apa hanya dijalankan sebatas interaksi dengan pasangan saja atau ingin mengalihkan sumberdayanya (waktu, tenaga, pikiran) untuk berkontribusi dalam gerakan-gerakan kebaikan untuk kemajuan Masyarakat, contohnya dengan terjun sebagai relawan dan lainnya. Sehingga kebermaknaan hidup akan didapat, selain hidup berdua saja. Kebanggaan menjadi pribadi bermanfaat, diharapkan bisa meningkatkan ikatan bersama pasangan.
Menurut Anda, sejauh ini bagaimana dampak childfree terhadap laju pertumbuhan penduduk?
Salah satu megatren yang berdampak terhadap keluarga yaitu penurunan angka Total Fertility Rate/TFR (rata-rata jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang perempuan sampai dengan akhir masa reproduksinya). Hal ini menyebabkan jumlah laju pertumbuhan dan kualitas penduduk menurun, termasuk di Indonesia. Karenanya di beberapa negara sangat tidak disarankan childfree. Apalagi di Indonesia dengan nilai-nilai religiusitasnya, bahwa anak merupakan investasi dunia dan akhirat bagi orangtuanya.
Bagaimana pemerintah dapat membantu meningkatkan kesadaran Masyarakat, khususnya pasangan muda, tentang pentingnya ketahanan keluarga dalam berbagai bentuk keluarga, termasuk keluarga childfree?
Dalam berkeluarga, anak muda perlu mengerti bagaimana memaknai keluarga dan apa tujuan hidupnya. Sebab masing-masing keluarga harus punya ketahanan. Artinya pasangan yang childfree atau tidak, mereka harus mempunyai kemampuan mengelola sumberdaya yang dimiliki, termasuk mengelola nonmaterial seperti tujuan hidup, pengetahuan dan mengelola masalah agar bisa mencapai tujuan yaitu keluarga sejahtera (pemenuhan semua kebutuhan fisik/nonfisik, material/nonmaterial, dan subjektif/objektif).
Ketahanan keluarga menjadi begitu penting, terlebih menyangkut ketahanan ekonomi, sosial, psikologis, diwujudkan dalam berbagai peran dan fungsi di keluarga dan diimplementasikan dalam tugas keluarga, baik tugas dasar, perkembangan, tugas krisis sepanjang kehidupan keluarga. Hal tersebut bagi keluarga yang memiliki anak. Namun jika ia tidak mempunyai anak, maka tahapan keluarganya hanya satu, yakni berdua saja dari awal menikah sampai meninggal dunia.
Keluarga non-childfree harus menguasai delapan tahapan keluarga. Maka, agar ilmu tersebut bisa dimiliki, pemerintah bertanggung jawab melakukan pembangunan keluarga agar mempunyai keterampilan hidup dan edukasi tentang ketahanan keluarga.
Apa pesan yang ingin Anda sampaikan kepada masyarakat Indonesia dalam mengatasi beragam konflik keluarga dan menjaga ketahanan keluarga?
Pesan saya, saat seseorang mengambil keputusan untuk membina komitmen berkeluarga, maka ia harus memiliki keterampilan dan kematangan, minimal kesiapan berkeluarga. Karena keluarga adalah institusi pertama dalam membangun manusia berkualitas dan masyarakat madani. Maka, membangun kehidupan keluarga dengan apa yang seharusnya dimiliki dan diketahui, seperti apa peran dan fungsinya, bagaimana memenuhinya, mengelola stres, dan mencegah kerentanan menjadi potensi krisis. Sehingga ada keterampilan hidup berkeluarga yang wajib dimiliki oleh mereka. []






















