Khutbatul Arsy artinya pidatonya raja di atas singgasana. Yang dipidatokan raja yaitu pengenalan program selama satu tahun. Demikian pula dengan Pondok, yang berpidato dalam Khutbatul Arsy yaitu Pimpinan Pondok, untuk mengenalkan pondok, isi, program kegiatan, arah dan orientasi, cara hidup di dalamnya dan hal-hal lain yang berkaitan dengan pondok, santri dan guru-gurunya.
Kadang juga disebut Pekan Perkenalan, karena bertujuan untuk mengenalkan Pondok dengan segenap isinya. Tak kenal maka tak sayang, karena itu perlu mengenal Gontor, terutama anak-anak baru. Yang tidak kenal, tidak akan sayang, bahkan bisa menjadi musuh. Annasu a’dau maa jahiluu (manusia itu menjadi musuh terhadap apa-apa yang tidak diketahuinya), maka supaya tidak menjadi musuh, anak-anak dikenalkan dengan pondok, isinya, programnya, aturannya, tujuannya dan lain-lain. Termasuk mengenalkan person-person yang ada di pondok. Nama-nama anggota Badan Wakaf, Pimpinan Pondok, ketua-ketua Lembaga Tinggi, Wakil Pengasuh dan Wakil Direktur KMI cabang dan lain-lainnya. Kalau tidak kenal akan bersikap masa bodoh.
Kadang juga disebut perpeloncoan. Pelonco adalah buah semangka yang masih muda dan masih bisa dibentuk. Maka perpeloncoan artinya dimudahkan kembali semangatnya. Jangan cepat merasa tua. Dipelonco supaya mau belajar lagi, never old to learn (tidak ada istilah terlalu tua untuk belajar).
Anak-anak yang pernah belajar di pondok alumni atau di pondok lain, mungkin mendapati beberapa pelajaran di sini sangat mudah, karena sudah pernah belajar. Meski demikian, jangan meremehkan dan malas belajar.
Kapan dimulai Pekan Khutbatul Arsy (PKA) di Pondok? Sejak tahun 1936 ketika KMI dibuka. Inti tema yang disampaikan sama, ada teks lama yang bisa dikaji. Seperti, pondok ini milik siapa? Dahulu milik pribadi keluarga Trimurti, kemudian tahun 1958 diwakafkan. KMI didirikan tahun 1936, pertama kali jumlah santrinya hanya 16 anak. Perkembangan Gontor bertahap, banyak tantangan dalam prosesnya.
Banyak orang ingin mendirikan pondok seperti Gontor tetapi tidak mengetahui prosesnya, suka dukanya, jatuh bangunnya. Maka lihatlah prosesnya, supaya bisa mengikuti tahapan demi tahapan dan juga siap menghadapi tantangannya. Kalau ingin enak (sukses) jangan enak-enak (malas), tetapi harus mau berkorban dan prihatin dahulu, baru bisa berenak-enak. Ini sunnatullah (ketentuan Allah) yang berlaku bagi semua hamba-Nya. Gontor menciptakan kultur, miliu secara bertahap, kelengkapan sarana juga diadakan secara bertahap.
Pondok ini partainya apa? Gontor tidak berpartai. Kita tidak berpolitik praktis, tetapi tidak buta politik. Karena pendidikan merupakan politik paling tinggi dan terhebat. Politik kita pendidikan, untuk mengatur umat dan bangsa melalui pendidikan, bukan melalui jalur politik praktis-kekuasaan.
Anak-anak ditempatkan di kampus mana? Ditempatkan di mana saja (kampus mana saja) supaya siap, yang menentukan kualitasmu usahamu, bukan tempatmu. Pondok ini bukan jaminan. Jangan mengandalkan pondokmu untuk menjadi berkualitas. Berbangga dengan tempat, tidak benar. Masing-masing tergantung pada usahanya, kerja kerasnya. Yang di Gontor harus berhati-hati dan bersungguh-sungguh. Kalau bermalas-malasan akan gagal, kalau sembrono (ceroboh) bisa terpeleset. []
*Disadur dari buku The Garden of Wisdom: Ethical and Educational Wisdom. Wejangan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Drs KH M Akrim Mariyat Dipl.A.Ed halaman 13-20.






















