Ponorogo, Gontornews— Pembahasan mengenai pendalaman kembali dari makna Islam, Iman dan Ihsan dibahas oleh Rahmat Ardi Nur Rifa Da’i, salah satu peserta PKU angkatan XIII yang bertugas mengisi kajian rutin kelompok pengajian ibu-ibu di Desa Brahu, Ponorogo. Acara ini memang diadakan secara terjadwal setiap malam Kamis.
Rentetan acaranya dimulai dari pembukaan, tahlilan, pembacaan surat Yasin bersama-sama, doa, tausiyah, dilanjutkan dengan arisan, dan kemudian penutup. Kehadiran peserta PKU XIII sebagai pengisi tausiyah merupakan salah satu bentuk kerjasama antara kelompok pengajian ibu-ibu dengan Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor.
Ia memulai tausiyahnya dengan kisah singkat Rasulullah yang menyebarkan Islam di Mekkah. “Setelah sekian tahun di Mekkah menanamkan keislaman atau ketauhidan yang terfokus untuk mengajak hanya menyembah Allah SWT, kemudian beliau Nabiullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Yatsrib, barulah dimulai proses ibadah lebih luas lagi dengan turunnya berbagai kewajiban bagi kaum muslimin,” ujarnya.
Kemudian, ia menyingggung tingkatan agama Islam. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk bersama para sahabatnya, malaikat Jibril yang menjelma menjadi seorang laki-laki asing berjubah putih datang. Lalu ia bertanya kepada sang Rasul tentang makna Islam, Iman dan Ihsan.
Setelah selesai, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Umar bin Khattab (Khalifah kedua setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mengenai orang tak dikenal tersebut. Namun Umar bin Khattab menjawab bahwa ia tidak mengetahuinya, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu, wahai Nabi,” begitu jawab sang al-Faruq.
Setelah itu, Da’i menguraikan secara lugas makna Islam, Iman dan Ihsan berdasarkan kisah tersebut. Pertama, makna Islam adalah menegakkan rukunnya yang lima. “Lima rukun ini berkenaan dengan amalan-amalan lahiriah, seperti yang ada dalam rukun Islam,” tegasnya.
Kedua, Iman adalah berkenaan dengan pokok-pokok kepercayaan yang enam. “Artinya, Rukun Iman ini berkaitan dengan amalam-amalan batiniah, seperti kepercayaan kita kepada Rukun Iman yang enam itu harus benar-benar tertanam di hati dan sanubari kita,” lanjutnya.
Dan ketiga, Ihsan adalah beribadah kepada Allah, seolah-olah kita melihat-Nya. Kalau kita tidak melihat-Nya, maka Allah pasti melihat kita. Inilah tahapan keimanan yang tertinggi, karena kita benar-benar meletakkan diri seperti berhadapan langsung dengan Sang Pencipta Allah SWT.
Setelah memahami makna ketiga hal di atas, Rahmat Ardi Nur Rifa Da’i mengaitkannya dengan Muslim, Mu’min dan Muhsin. Setiap Mu’min pasti Muslim. Sebab, jika ia Mu’min, beriman akan enam hal itu dan merealisasikannya hingga tertanam hatinya, pasti ia akan melaksanakan amal-amal Islam (amalan lahir).
Tetapi, belum tentu setiap Muslim itu Mu’min, bisa jadi imannya sangat lemah sehingga hatinya tidak meyakini keimanannya dengan sempurna walaupun dia melakukan amalan-amalan lahir dengan anggota badannya.
Di akhir tausiyahnya, ia memberikan kesimpulan bahwa status hamba dalam ajaran Islam itu memiliki tingkatan-tingkatan. Di mana satu tingkatan lebih tinggi dengan tingkatan yang lain. Tingkatan pertama adalah Islam, lalu Iman dan yang terakhir Ihsan. Wallahu A’lam. [Gunawan Andi Pranata]






















