Landasan Teologis
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ٢كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ٣اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِهٖ صَفًّا كَاَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَّرْصُوْصٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam satu barisan, seakan-akan mereka suatu bangunan yang tersusun kukuh.” (QS Ash-Shaff: 2-4)
Asbabun Nuzul
Ibn Jarir al-Tabari dalan kitabnya Jāmi` al-Bayān (juz 22, hlm 607) memberikan rincian mengenai pendapat para ulama mengenai sebab ayat tersebut diturunkan. Sebagian ulama berkata bahwa ayat tersebut turun sebagai teguran dari Allah atas orang Mukmin. Mereka sangat ingin tahu berbagai amalan yang paling utama. Namun ketika Allah memberitahukan amalan utama itu, mereka melakukannya tidak secara sempurna.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa sebagian kaum Mukmin berkata “Demi Allah, jikalau kami mengetahui amal yang paling dicintai Allah, kami pasti akan melaksanakannya”. Lalu Allah menurunkan QS Ash-Shaff ayat 2-4. Pada ayat keempat Allah memberitahukan amalan yang paling dicintainya, yaitu jihad di jalan Allah, namun mereka tidak senang.
Sebagian ulama berpendapat, QS As-Saff ayat 2-3 tersebut menjadi teguran bagi sebagian sahabat Nabi yang membangga-banggakan perbuatan yang tidak mereka kerjakan. Mereka berkata “Aku melakukan ini dan itu,” padahal dia tidak melakukannya dan Allah mencela mereka sebab sesuatu yang tidak mereka kerjakan.
Interpretasi Para Mufasir
Ibnu Katsir dalam tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa QS Ash-Shaff ayat 2 merupakan bentuk pengingkaran terhadap sikap orang yang berjanji namun tidak ditepatinya atau yang berkata namun tidak sesuai dengan apa yang dikatakannya.
Abu Ja’far dalam tafsir At-Ṭabarī menggambarkan bahwa barisan yang lurus dan terorganisasi ini seperti bangunan yang tersusun sempurna. Setiap bagian saling menguatkan tanpa ada yang tertinggal. Hal ini menunjukkan bahwa dalam manajemen perang, kekompakan dan keteraturan menjadi kunci dalam meraih kemenangan dan mendapatkan ridha Allah.
Senada dengan As-Sa’di dalam tafsir As-Sa’di, keteraturan barisan dalam berperang yang diorganisasi oleh Rasulullah SAW kepada para sahabat sesuai posisinya masing-masing, ditujukan supaya tidak ada ketergantungan antara satu dengan lainnya. Setiap kelompok memperhatikan posisinya dan menjalankan tugasnya masing-masing. Dengan demikian, pekerjaan menjadi lebih efisien dan berjalan dengan sempurna.
Sejalan dengan Wahbah al-Zuhaili dalam tafsir Al-Munir, Allah memberikan petunjuk kepada orang-orang beriman tentang bagaimana mereka seharusnya bersikap dalam menghadapi musuh, yakni dengan memperlihatkan kekuatan, kesungguhan, dan tekad yang tidak tergoyahkan dalam melaksanakan perintah-Nya. Sama seperti dalam peperangan, kekuatan, kesatuan, dan keteguhan hati diperlukan, dalam organisasi pun diperlukan disiplin dan keteraturan agar setiap individu dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
Dalam tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah, ayat 2-3 menyatakan teguran Allah kepada orang-orang beriman: “Mengapa kalian mengaku beriman namun tidak kalian buktikan dengan perbuatan? Sungguh besar kemurkaan Allah jika kalian mengatakan sesuatu, namun kalian tidak menjalankannya. Sedangkan dalam ayat 4 Allah memuji orang-orang yang berjihad dan menegaskan kecintaan-Nya bagi mereka; ketika mereka berperang demi membela agama-Nya membentuk barisan-barisan, seakan-akan mereka adalah bangunan yang kokoh yang tidak dapat ditembus musuh.
Nilai-nilai Pedagogis
QS Ash-Shaff: 2-4 mengandung sejumah nilai-nilai pendidikan (pedagogis) bagi manusia. Pertama, Nilai Kejujuran dan Integritas. Dalam ayat ini Allah mencela orang yang berkata tanpa tindakan. Allah menyukai mereka yang berkata jujur disertai realisasi perbuatannya sebagai integrasi dalam beramal.
Ayat ini mendorong siswa, guru, dan pemimpin untuk konsisten antara ucapan dan perbuatan. Dalam dunia pendidikan, hal ini melatih integritas dan kejujuran pribadi seorang guru dan memberikan teladan kepada para peserta didik.
Kedua, Nilai Tanggung Jawab Moral. Ayat ini mendidik agar hambanya senantiasa mengucapkan perkataan yang disertai tanggung jawab dalam perbuatannya. Tidak boleh hanya janji kosong atau teori tanpa praktik saja, namun harus menumbuhkan kesadaran bertanggung jawab atas ucapan dan janji yang telah diucapkan.
Ayat ini menegaskan pentingnya teladan nyata. Guru, pemimpin, atau siapa pun yang mendidik harus menjadi contoh. Pendidikan karakter dimulai dari keteladanan, bukan hanya ceramah tetapi disertai aksi nyata bertanggung jawab.
Ketiga, Nilai Solidaritas. Dalam ayat ini disebutkan “Seperti bangunan yang tersusun kokoh” mencerminkan solidaritas dan saling menopang. Ayat ini agar mendorong semangat gotong-royong, menjaga kekompakan, dan kerjasama satu sama lain.
Penting bagi seorang guru, pemimpin dan orangtua membangun nilai solidaritas sehingga peserta didik dan masyarakat satu sama lain saling menjaga nilai persaudaraan, persatuan dan kerukunan sehingga pertahanan dan keamanan bangsa akan terjaga.
Keempat, Nilai Disiplin dan Teratur. Ayat 4 menggambarkan orang-orang yang berjuang dalam barisan yang rapi. Ayat ini mengajarkan untuk disiplin, terorganisasi, dan mampu bekerja dalam tim dengan teratur dan terarah dalam mewujudkan visi dan misi yang sedang dijalankan.
Seorang guru, pemimpin dan siapapun yang mendidik harus memberikan teladan kedisiplinan dan menerapkan perilaku disiplin kepada peserta didik agar mereja mencapai tujuan pembelajaran dan memiliki akhlak yang baik dengan menerapkan perilaku disiplin dan teratur dalam kehidupan sehari-hari.
Landasan Teoretis
“Karakter bangsa menurut Kemendiknas RI (2010) adalah nilai-nilai perilaku yang bersumber dari Pancasila, budaya bangsa, dan agama yang membedakan bangsa Indonesia dari bangsa lain.” Ini menjadi dasar pembangunan pendidikan karakter di Indonesia seperti religius, disiplin, tanggung jawab, dan cinta tanah air.
Makna karakter bangsa menurut para ahli merujuk pada nilai-nilai moral dan budaya yang dianut bersama oleh masyarakat suatu bangsa, yang mencerminkan identitas nasional, dijaga melalui pendidikan, dan diterapkan dalam kehidupan sosial. Nilai-nilai tersebut bersifat kolektif, mendalam, dan membentuk perilaku warga negara.
Tanpa karakter bangsa yang kuat, pembangunan fisik dan ekonomi tidak akan memiliki arah dan tujuan yang bermakna. Sehingga pemerintah mencanangkan “Indonesia Emas 2045” sebagai visi besar untuk menjadikan Indonesia negara maju, berdaulat, adil, dan makmur. Untuk mewujudkan cita-cita besar ini, pembangunan karakter bangsa menjadi fondasi utama, selain aspek ekonomi, teknologi, dan infrastruktur. Karena tahun 2045 merupakan momentum emas bagi Indonesia yaitu menandai 100 tahun kemerdekaan Republik Indonesia.
Tanpa karakter yang kuat, generasi masa depan akan kehilangan arah meskipun dikelilingi oleh kemajuan teknologi.
Membangun karakter bangsa adalah kunci utama dalam menyiapkan Generasi Emas 2045. Generasi ini haruslah memiliki kecerdasan intelektual dan moral sekaligus. Jika karakter bangsa dibangun dengan serius mulai sekarang, maka cita-cita Indonesia Emas bukan sekadar mimpi, tetapi realitas yang bisa kita capai bersama.
Allah berfirman:
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا ٩
“Hendaklah merasa takut orang-orang yang seandainya (mati) meninggalkan di belakang mereka, keturunan yang lemah (yang) mereka khawatir terhadapnya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan tutur kata yang benar (dalam hal menjaga hak-hak keturunannya).” (QS An-Nisa’: 9)
Ayat ini mendorong investasi serius dalam pendidikan anak-anak, baik dari aspek agama, etika, hingga teknologi.
QS An-Nisa ayat 9 menjadi peringatan dan panduan moral dalam menyiapkan Generasi Emas 2045. Kita tidak boleh meninggalkan generasi yang lemah. Maka wajib bagi kita mendidik, membina, dan melindungi anak-anak bangsa dengan iman, ilmu, karakter, dan kesejahteraan.
Dengan menjadikan nilai-nilai dari ayat ini sebagai dasar kebijakan pendidikan, sosial, dan keluarga, Indonesia akan lebih siap menyongsong 100 tahun kemerdekaan dengan generasi yang kuat, unggul, dan berakhlak mulia.
Dalam Islam, pembentukan karakter (akhlak) merupakan aspek utama dalam pendidikan. Nabi Muhammad SAW diutus salah satunya untuk menyempurnakan akhlak manusia, sebagaimana sabdanya:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.“ (HR Ahmad)
Pendidikan karakter ini dapat kita teladani dari kisah Luqman dalam mendidik anaknya yang senantiasa menanamkan tauhid, akhlak, tanggung jawab, dan kesopanan yang disebut dalam Al-Qur’an Surat Luqman.
Allah SWT berfirman dalam Surat Luqman ayat 12-15:
وَلَقَدْ اٰتَيْنَا لُقْمٰنَ الْحِكْمَةَ اَنِ اشْكُرْ لِلّٰهِۗ وَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ ١٢وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِۗ اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ ١٣وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ ١٤وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًاۖ وَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ١٥
“Sungguh, Kami benar-benar telah memberikan hikmah kepada Luqman, yaitu, ‘Bersyukurlah kepada Allah! Siapa yang bersyukur, sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri. Siapa yang kufur (tidak bersyukur), sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji’.” (12)
“(Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, ‘Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar’.” (13)
“Kami mewasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. (Wasiat Kami,) “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu.” Hanya kepada-Ku (kamu) kembali.” (14)
“Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang engkau tidak punya ilmu tentang itu, janganlah patuhi keduanya, (tetapi) pergaulilah keduanya di dunia dengan baik dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian, hanya kepada-Ku kamu kembali, lalu Aku beri tahukan kepadamu apa yang biasa kamu kerjakan.” (15)
Karena itu perlu adanya keteladanan dari pemimpin, guru sebagai pendidik, orangtua sebagai madrasah dan tokoh masyarakat. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW merupakan uswatun hasanah (teladan terbaik). Pemimpin Islam dituntut adil, jujur, tidak korup, dan peduli pada rakyat. Allah SWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
“Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS Al-Ahzab: 21)
Karakter Bangsa
Lalu bagaimana cara membangun karakter bangsa untuk menyiapkan Generasi Emas 2045? Pertama, membina akhlak yang mulia dari sejak kecil. Rasulullah SAW bersabda:
عن أَيُّوبَ بْنِ مُوسَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدًا خَيْرًا لَهُ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ
“Dari Ayyub bin Musa, dari bapaknya, dari kakeknya, Rasulullah SAW bersabda, ‘Tiada pemberian orangtua terhadap anaknya yang lebih baik daripada adab yang baik’.” (HR At-Tirmidzi)
Rasulullah SAW juga bersabda:
عن ابن عباس عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال أَكْرِمُوْا أَوْلَادَكُمْ وَأَحْسِنُوْا آدَابَهُمْ رواه ابن ماجه
“Dari sahabat Abdullah bin Abbas RA, dari Rasulullah SAW bersabda, ‘Muliakanlah anak-anakmu, perbaikilah adab mereka’.” (HR Ibnu Majah)
Kedua, menanamkan rasa nasionalisme dan cinta ilmu pengetahuan. Allah SWT berfirman:
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةًۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَࣖ
“Tidak sepatutnya orang-orang Mukmin pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi (tinggal bersama Rasulullah) untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya?” (QS At-Taubah: 122).
Ketiga, menanamkan nilai religius dan ibadah. Allah SWT berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyat: 56)
Keempat, menanamkan kebersamaan dan gotong royong. Allah SWT berfirman:
وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
“Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.” (QS Al-Maidah: 2)
Kelima, menanamkan nilai integritas. Allah SWT berfirman:
قَالَتْ اِحْدٰىهُمَا يٰٓاَبَتِ اسْتَأْجِرْهُۖ اِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْاَمِيْنُ
“Salah seorang dari kedua (perempuan) itu berkata, “Wahai ayahku, pekerjakanlah dia. Sesungguhnya sebaik-baik orang yang engkau pekerjakan yaitu orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS Al-Qashash: 26)
Keenam, menanamkan nilai kemandirian dan perubahan. Allah SWT berfirman:
لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ
“Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya secara bergiliran dari depan dan belakangnya yang menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS Ar-Ra’du: 11)
Kisah Teladan
Diceritakan dalam Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, setelah hijrahnya Rasulullah SAW dari Kota Mekkah menuju Kota Madinah, beliau langsung memikul tanggung jawab yang besar. Rasulullah SAW bertanggung jawab dalam melakukan perbaikan dan pembangunan masyarakat Muslim di Madinah.
Pada saat Nabi Muhammad SAW hijrah, kondisi Kota Madinah masih labil. Salah satu tantangan dalam membangun Kota Madinah yaitu adanya tiga kelompok masyarakat, yakni: Sahabatnya yang suci, mulia, dan baik; Orang-orang musyrik dari berbagai kabilah yang tidak mau beriman kepada beliau; Orang-orang Yahudi yang memandang Islam dengan kebencian dan kedengkian.
Pembentukan masyarakat yang ideal membutuhkan jangka waktu yang lama agar ketetapan-ketetapan syariat, hukum, pengetahuan, pendidikan dan pelaksanaan dapat menjadi sempurna dengan melalui beberapa tahapan.
Nabi Muhammad SAW berhasil melaksanakan tugas risalah dan kepemimpinan di Kota Madinah. Sikapnya yang dominan lemah lembut membuat masyarakat Kota Madinah banyak yang masuk Islam dalam jangka waktu beberapa tahun saja.
Upaya Nabi Muhammad SAW membangun Kota Madinah, antara lain: Pertama, Membangun Masjid Nabawi. Langkah pertama yang dilakukan Nabi Muhammad SAW yaitu membangun masjid. Masjid tersebut bukan sekadar sebagai tempat untuk shalat, namun juga menjadi sekolah untuk orang-orang Muslim, sebagai balai pertemuan, tempat mengajar, serta tempat untuk menjalankan roda pemerintahan. Masjid Nabawi juga berfungsi sebagai tempat tinggal orang-orang Muhajirin yang miskin.
Kedua, Mempersaudarakan Sesama Muslim. Langkah kedua yang dilakukan Nabi Muhammad SAW yaitu mempersatukan manusia. Beliau juga berusaha mempersaudarakan antara orang-orang Muhajirin dan Anshar. Nabi Muhammad SAW menjadikan persaudaraan ini sebagai ikatan yang harus dilaksanakan. Ikatan persaudaraan ini merupakan tindakan yang sangat tepat dan bijaksana karena bisa memecahkan berbagai masalah yang dihadapi kaum Muslim.
Ketiga, Membuat Perjanjian dengan Yahudi. Setelah berhasil membangun masyarakat Islam yang baru, Nabi Muhammad SAW menjalin hubungan dengan selain golongan Muslim. Beliau melakukannya untuk menciptakan keamanan, kebahagiaan, serta kebaikan bagi semua masyarakat Kota Madinah.
Orang-orang Yahudi merupakan tetangga dekat kaum Muslim di Madinah. Nabi Muhammad SAW menawarkan perjanjian kepada mereka. Inti dari perjanjian tersebut untuk memberikan kebebasan menjalankan agama dan memutar kekayaan, serta tidak boleh saling menyerang dan memusuhi.
Setelah perjanjian tersebut disahkan, Madinah dan sekitarnya menjadi negara yang makmur. Kota Madinah sebagai ibukotanya, sedangkan Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpinnya.
Madinah menjadi kota yang bersinar, maju, makmur dan bahagia dengan kelembutan kepemimpinan Nabi SAW yang mengedepankan karakter dan moral dalam menjadikan Kota Madinah yang damai dan mengedepankan persatuan serta cahaya ilmu pengetahuan.
هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهٗۚ قَالَ رَبِّ هَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةًۚ اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاۤءِ
“Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, ‘Wahai Tuhanku, karuniakanlah kepadaku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa’.” (QS Ali Imran: 38) []





















