Oleh KH Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Gontor
Banyaknya masalah praktis, pengaruh ekonomi, miliu, sistem dan lain-lain, pada etika sekarang, menguji pengamatan psikologis pemimpin, guru dan manajer. Bukan masanya lagi dan amat tidak pada tempatnya mudah-mudah, terburu-buru memakai madzhab dan aliran: POKOKNYAISME..!
Sekali-kali ia harus dipaksa berfikir “ka’annaka tamuutu ghodan”, seakan-akan engkau mati esok hari; dengan perhitungan pertimbangan meninggalkan harapan, ketenangan, idealisme dan amal/jariah; bemanfaat dan berkembang.
Vitalisasi generasi terampil ditampilkan dengan jujur, menghindari kesalahan pandangan dan sikap lama atau terdahulu (kolot): generasinya guru, yakni kekhawatiran (suu’uddhon) terhadap para penerus; sebelum dibekali tempaan mental kuat dan meyakinkan dalam menghadapi kehidupan. Kasihan generasi kan?!
Pandai meletakkan dengan tepat “fastabiqul khoiroot”, dan “ta’aawanuu ‘alal birri dan seterusnya”, “falyatanaafasil mutanaafisuun”. Tidak terjerembab dalam perpecahan untuk hubungan ke dalam/internal. Paling tepat prinsip kedua, bertolong-tolongan atau ketiga, berpacu dalam kualitas dan kuantitas amal.
Tolong menolong dalam kebajikan antara sesama umat dan meningkatkan segala unsur-unsur ketakwaan, bukan sebaliknya. Tolong menolong dilakukan dengan eksternal umat manusia termasuk non-Muslim. Berlomba-lomba terkadang sampai tingkatan persaingan kotor antara sesama umat. Agak aneh rasanya!
Semua laku langkah guru/pemimpin dengan dasar keyakinan kebenaran ijtihadnya. Banyak yang kuat dipersalahkan orang tapi tidak beranjak dari ijtihadnya. Jelas berbeda orang yang langsung melakukan, menggeluti, mendalami suatu pekerjaan dengan yang tidak.
Istiqamah merupakan jaminan lindungan keamanan dan kesejahteraan dan kebahagiaan murni. Besar hati bukan besar kepala atau besar mulut. Kapital mental percaya diri selalu digerogoti pihak musuh.
Para orangtua: Jangan rela mewariskan anak-anak/generasi tanpa cita-cita! Generasi yang hilang atau keropos, kopong! Berdosa!
Anak-anak: Jangan jadikan orangtua generasi gembos, invalid atau ompong, patah harapan! Berdosa!
Mengajar (guru) bukan kewajiban saja, tapi kebutuhan kodrat manusia atas alam semesta, posisinya sangat tinggi. Maka perbekalan (equipment)-nya disiapkan, bukan sekedar kepuasan fisik, kerakusan, bebas tanpa kendali moral. Apabila tidak terkendali jadilah ia makhluk kejam, bengis melebihi makhluk lain pula. Sayangnya binatang-binatang modern lebih menguasai daripada manusia beradab. Terjadilah pelanggaran-pelanggaran vertikal dan horizontal.. Congkak memang!
Pembinaan guru saja? No! Pembinaan dosen, rektor, demikian pula. Itu (menuntut) ilmu juga, kan? Juga kiai-kiai, ulama-ulama! Why not? Perlu!
Orang bijak berkata: “Amat mudah bagi banyak manusia untuk menasihati, dan paling sulit bagi mereka tahu diri.”
Sumber-sumber cacadnya guru, pemimpin dan lain-lain. Contohnya ingin terkenal, minta dihormati, takut dibenci, berusaha agar disenangi, ingin muridnya banyak, luas pengaruhnya, lancar hasil (materi)nya. Benar atau tidaknya, hati mereka yang menjawab. Memuakkan memang bila perilaku para pembina umat, baik guru maupun pemimpin, tampak sekali arah tujuannya materi, UUD (Ujung Ujungnya Duit). Entah berapa persennya. Kasihan umat yang beratus-ratus kali tertipu, terkecoh; terkecoh lagi oleh insan-insan panutan. []
Revisi 10 Juni 2007





















