Munich, Gontornews – Bagi sebagian besar masyarakat dunia memakan makanan seperti kentang goreng, permen, dan makanan cepat saji adalah jenis makanan yang tidak sehat karena dapat menyebabkan kegemukan. Meski dianggap tidak sehat dan penyebab kegemukan, rupanya makanan-makanan tersebut masih mendapat perhatian yang lebih dari masyarakat. Apa sebabnya?
Sejumlah ilmuwan dari Max Planck Institute di Cologne, Jerman, meyebut bahwa makanan kaya lemak dan karbohidrat mendapatkan penghargaan yang sangat kuat dalam sistem otak. Menurut para peneliti, makanan berlemak dan berkarbohidrat tinggi dapat mengaktifkan sistem penghargaan pada otak meski melalui jalur sinyal yang berbeda.
Peneliti mencontohkan bahwa bersatunya makanan berlemak dan berkarbohidrat dalam satu jenis makanan membuat efek ‘mencintai’ dan ‘menyukai’ dalam otak meningkat. Sebaliknya, pemisahan lemak dan karbohidrat tidak menimbulkan efek negatif tersebut.
Sedangkan Air Susu Ibu (ASI) memiliki tingkatan yang berbeda. Bagi salah seorang penliti asal Max Planck Institute, Marc Tittgemeyer, ASI mendapatkan respon yang berbeda di otak meski mengandung karbohidrat dan lemak serupa.
“Semua mamalia mengetahui ASI,” kata Tittgemeyer sebagaimana dilansir Scitechdaily.
“Mungkin, kita dipengaruhi oleh ASI untuk merespon secara intensif makanan kaya karbohidrat dan lemak yang sangat bermanfaat karena ini sangat penting,” tambah Tittgemeyer.
Bagi Tittgemeyer, sistem penghargaan yang diberikan otak kepada makanan berlemak dan berkarbohidrat bisa menghancurkan kelangsungan hidup manusia. “Kami tidak bermaksud mengatakan tidak sepanjang waktu. Itu sebabnya, kami biasanya tidak berhenti makan meski kami kenyang,” tutur Tittgemeyer.
Selain itu, perkiraan jumlah gizi makanan tinggi lemak dan karbohidrat juga sulit. Wal hasil, temuan ini diharapkan dapat memainkan peran penting dalam upaya pengobatan orang yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. [Mohamad Deny Irawan]





















