Ankara, Gontornews — Menteri Luar Negeri (Menlu) Turki Mevlüt Çavuşoğlu, Selasa (10/3), mengatakan, militer Turki akan berpatroli di utara koridor keamanan yang didirikan di sekitar jalan raya di provinsi barat laut Suriah, Idlib, dan pasukan Rusia akan berpatroli di sisi selatan.
Berbicara kepada Kantor Berita Anadolu yang dikelola pemerintah, ia mengingatkan bahwa delegasi militer Turki dan Rusia akan memulai negosiasi pada 10 Maret tentang masalah parameter untuk berfungsinya koridor keamanan sejauh 6 kilometer ke utara dan sejauh 6 km ke selatan dari jalan raya M4, benteng terakhir pemberontak di negara yang dilanda perang itu.
Çavuşoğlu mengatakan, Rusia akan memastikan bahwa pasukan pemerintah Suriah tidak mencoba memasuki koridor di sepanjang M4, dan pemberontak yang didukung Turki akan tetap di tempatnya.
Selain pembicaraan di koridor keamanan jalan raya M4 yang strategis, Ankara dan Moskow akan melanjutkan dialog untuk menetapkan gencatan senjata permanen di Idlib, katanya.
“Sekarang kami bekerja untuk membuat gencatan senjata ini permanen,” kata Çavuşoğlu.
“Jika rezim Assad tidak mematuhi gencatan senjata di Idlib, pasukan Turki akan melakukan seperti yang mereka lakukan sebelumnya,” kata menteri.
Dia juga mengatakan telah terjadi pelanggaran kecil gencatan senjata oleh pasukan pemerintah Suriah pada hari Senin, dan Rusia telah memberi peringatan keras kepada mereka.
Kesepakatan di koridor merupakan bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang dicapai oleh Turki dan Rusia pekan lalu untuk menghentikan konflik di Idlib, yang menggusur hampir satu juta orang dalam tiga bulan dan menciptakan risiko bentrokan militer antara Turki dan Rusia.
Berdasarkan perjanjian tersebut, patroli gabungan Turki-Rusia akan dimulai di sepanjang jalan raya itu pada 15 Maret. Tidak jelas apa yang akan terjadi di selatan jalan raya kantong pemberontak itu.
Dia juga mengatakan, Amerika Serikat telah menawarkan intelijen darat, laut, dan udara di kubu pemberontak. []
























