Oleh Dedi Junaedi
Wartawan dan Dosen INAIS
Untuk menjaga kebugarannya sebagai dokter dan dosen, Frank Hu selalu mengisi kulkasnya dengan aneka buah dan sayuran segar, ikan, dan ayam. Sementara, di dapurnya selalu tersedia nasi merah, biji-bijian, dan kacang polong,.
Ahli gizi Harvard TH Chan School of Public Health itu terbiasa menerapkan pola makan sehat. Dia makan nasi secukupnya dengan prioritas buah dan syaruran segar. Tak jarang dia hanya mengkonsumsi kudapan berupa kacang-kacangan dan biji-bijian. Kadang ia hanya makan daging merah, namun jarang membeli roti putih, soda, atau daging olahan lainnya. Kepada tamunya, dia menyajikan keripik dan minuman segar.
Sampai sekarang, dia percaya bahwa resep terbaik untuk memperlambat efek penuaan adalah olahraga teratur dan diet sehat, sekaligus menjaga berat badan yang sehat. ββUntuk itu, kita harus cerdas memilih menu makan. Cara inilah yang bisa membantu kita tetap fit dan hidup lebih lama,β tegas Hu.
Sejak Januari 2017, Hu dipercaya memegang kendali Departemen Nutrisi di Harvard TH Chan School of Public Health. Dia menggantikan posisi yang ditinggalkan Prof Walter Willett. Pola makannya diakui terinspirasi oleh beragam penelitian tentang menu makanan sehat. Dia menyadari memang tak ada resep yang cocok untuk semua orang. Tetapi, dia percaya bahwa orang-orang tetap bisa senantisa bugar melalui pencarian pola makan yang baik, yang bisa memadukan antara kepentingan selera dan kebutuhan nutrisi untuk hidup sehat.
“Tidak ada satu pun diet yang cocok untuk semua orang,” ungkap Hu, yang juga tercatat sebagai profesor gizi dan epidemiologi di Harvard Medical School. Menurutnya, orang harus menerapkan pola makanan sehat sesuai dengan preferensi makanan, budaya mereka, dan kondisi kesehatannya. ββMeski bukan penganut rejim yang kaku, saya selalu menekankan adanya komponen sehat dalam semua menu kita,” ungkapnya.
Dia yakin, pola makan sehat sangat penting dalam menentukan kualitas hidup seseorang. Apalagi, berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa semua orang memiliki hasrat untuk mengurangi risiko obesitas, diabetes, penyakit kardiovaskular, dan penyakit kronis lainnya seminimal mungkin. ββSemua orang normal juga ingin berumur panjang dan memiliki kualitas hidup yang baik di hari tua,ββ tambahnya.
Makanan Penentu Kesehatan
Sampai batas tertentu, proses penuaan dan status kesehatan amat dipengaruhi oleh asupan yang kita makan. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), satu dari empat penyebab kematian utama adalah penyakit jantung. Jantung bahkan penyebab utama kematian di AS. Di antara faktor pemicu risiko utamanya adalah obesitas, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, dan pola makan yang buruk, Tiga aspek pertama sering dikaitkan dengan yang terakhir. Kenaikan angka obesitas telah melanda Amerika Serikat dengan deras. Lebih dari sepertiga orang dewasa dan seperlima anak-anak dan remaja berusia 2-19 tahun mengalami obesitas.
Penelitian menunjukkan bahwa perubahan diet yang berkelanjutan dan bijaksana dapat membuat perbedaan antara kesehatan dan penyakit laksana perbedaan antara hidup dan mati. Selama lebih dari 50 tahun, para periset yang telah mempelajari hubungan antara diet dan kesehatan. Mereka merekomendasi menu Mediterania, dengan penekanan pada sayuran, buah, kacang polong, kacang-kacangan, biji-bijian, minyak zaitun, dan ikan. Sesekali juga disarankan untuk mengkonsumsi daging merah dan susu.
Studi menu rintisan, seperti yang dipimpin pakar gizi Ancel Keys pada akhir 1950-an, membantu menetapkan diet Mediterania sebagai patokan. Studi dengan sampel dari tujuh negara kunci telah mempromosikan diet rendah lemak jenuh (antara lain daging sapi, mentega, krim) dan lemak tak jenuh yang tinggi (antara lain alpukat dan minyak zaitun), dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular hingga tingkat minimal.
Penelitian Walter Willett, gurubesar ilmu gizi yang memimpin Departemen Nutrisi pada Harvard TH Chan School of Public Health selama 25 tahun, mengkonfirmasi manfaat diet Mediterania. Dalam bukunya, Eat, Drink and Be Healthy (2000), Willett memaparkan gaya hidup Mediterania terkait dengan rendahnya risiko dari banyak penyakit. Dia menyimpulkan bahwa 80% penyakit jantung dapat diatasi dengan mengubah pola makan dan gaya hidup.
Sebelumnya, Willet bersama dengan Frank Speizer dari NIH mempelajari faktor risiko diet dan gaya hidup. Hasil penelitian mereka telah banyak mempengaruhi bagaimana pedoman diet nasional Amerika disusun. “Ringkasnya, diet tradisional Mediterania lebih positif menunjang kesehatan dan kesejahteraan,” kata Willett, yang juga professor epidemiologi di Fredrick John Stare Institute.
Dia menjelaskan, “Unsur makanan sehat sudah tersedia dalam menu Mediterania, di mana orang harus banyak makan buah, sayuran, dan ikan lokal. Waktu itu, kebanyakan orang di sana tidak punya banyak pilihan menu.”
Kalangan periset juga menemukan sisi positif diet vegetarian dan menu makanan Asia yang disebutnya dapat membantu meningkatkan umur panjang dan mengurangi risiko penyakit kronis. Tapi ala Mediterania punya peluang lebih baik karena makanan ala Asia unumnya mengandung garam dan pati. Sementara, ala vegetarian juga cenderung kekurangan nutrisi penting.





















