Sejarah membuktikan, masyarakat Nusantara telah bersentuhan dengan Islam sejak lama. Karenanya, tidak mengherankan jika mereka meninggalkan warisan peradaban Islam yang kaya kepada generasi berikutnya. Salah satunya adalah mimbar di masjid.
Mimbar merupakan elemen penting di dalam masjid. Hampir bisa dipastikan, setiap masjid yang berdiri disertai mimbar di dalam mihrab. Bahkan, mimbar menjadi media dakwah paling populer di tengah masyarakat, yang biasa digunakan saat khutbah Jumat, Idul Fitri, Idul Adha, dan pengajian-pengajian hari besar Islam.
Mimbar umumnya dibuat dari kayu dan berundak-undak. Di sisi kanan dan kiri mimbar biasanya diberi hiasan dengan beragam motif, baik berupa tumbuhan, daun-daunan, dan lainnya.
Mimbar bermotif tumbuhan dan daun dapat dijumpai di Masjid Agung Cirebon, Masjid Agung Yogyakarta, Masjid Paramasana di Keraton Solo, atau di masjid tua lainnya.
Bentuk dan hiasan mimbar di masjidmasjid tua menunjukkan bahwa pada zaman dahulu mimbar tidak dibuat orang asing, tapi oleh masyarakat Indonesia sendiri yang sudah mengenal seni ukir dari tradisi Hindu-Budha.
Seperti Mimbar Masjid Sunan Ampel yang terdapat stempel Majapahit. Artinya, mimbar ini mendapat pengaruh budaya Hindu Jawa.
Elemen hias yang terdapat pada Mimbar Masjid Sunan Ampel ini menggunakan motif floral dan menggunakan bahan kayu jati.
Pada Masjid Sunan Ampel, ukiran menggunakan bahan kayu yang difinishing cat emas. Sedangkan pada Masjid Sunan Giri, ukirannya difinishing cat emas di atas kayu yang di cat hijau muda.
Mimbar di masing-masing negara punya bentuk dan hiasan yang berbeda-beda.
Dengan kata lain, para penyebar Islam hanya memperkenalkan terma dan fungsi mimbar. Sedangkan bentuk dan hiasannya diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat Nusantara.
Secara fungsi, mimbar dimaksudkan agar jamaah lebih fokus pada satu pandangan.
Mimbar biasanya dibuat lebih tinggi dari lantai agar penceramah bisa melihat secara langsung kepada jamaah. Kini, masjid-masjid besar biasanya menyediakan media elektronik di luar masjid agar jamaah yang berada di luar masjid tetap dapat melihat khatib, sejenis CCTV di depan mimbar.
Dari segi model, mimbar ada dua macam, yaitu mimbar bertangga (terbuka) dan mimbar tidak bertangga (tertutup). Mimbar yang memiliki tangga biasanya digunakan khatib yang membawa tongkat, sedangkan mimbar yang tidak bertangga biasanya untuk khutbah yang tidak membawa tongkat.
Selain sebagai media dakwah, mimbar juga menjadi simbol kemenangan. Misalnya, Mimbar Shalahuddin al-Ayyubi di Masjid Al-Aqsha. Sebelumnya, mimbar ini disita Israel, namun akhirnya dikembalikan setelah negosiasi panjang.
Menurut Adnan Al-Husaini, Mimbar Shalahuddin sudah dimasukkan masjid dan berada di sudut masjid yang diinginkan.
Ia menambahkan, pihaknya berbahagia dengan capaian ini karena mimbar ini adalah simbol kota Al-Quds. Apalagi selama ini upaya Israel untuk membakar Masjid Al-Aqsha dan mimbar Shalahuddin gagal. Al-Husaini menegaskan, mimbar akan diletakkan di tempat semula sebelum masjid dibakar Israel.
Mimbar Shalahuddin adalah simbol dari kemenangan historis umat Islam atas kaum penjajah Salibis. Shalahuddin Al-Ayyubi menggunakannya setelah Al-Quds terbebas tahun 1187. Tinggi mimbar ini 6 meter dengan luas bagian bawah 4 meter. Luas lacinya satu meter.
Rehabilitasi kembali mimbar ini memakan biaya sebesar 2.200.000 Dinar Yordania. [Fathurroji]























