Jakarta, Gontornews — Orang-orang memanggilnya Baba Diko, ia punya nama lengkap Diko Yuda Perkasa Jati. Sebelum menggeluti bisnis layanan akikah Bernama Warung Kandang, ia pernah punya pengalaman sebagai desainer grafis untuk kebutuhan iklan televisi.
Baba Diko pernah punya pengalaman pahit yang hampir membawanya ke jurang kelam kehidupan obat-obatan terlarang. Saat itu, pekerjaan desain yang banyak bersinggungan dengan kerja entertainment, tanpa ia sadar larut dalam pergaulan yang kurang sehat.
Setiap hari, ia diberi konsumsi cimeng untuk menambah semangat dalam bekerja. Hingga Baba Diko pada satu waktu merasa sangat baper dan mudah tersinggung. โSaya merasa tidak bisa keluar dari efek halusinasi tidak pernah berhenti,โ ungkapnya seperti dikisahkan dalam kanal yutub Tangan Langit.
Beruntung, Baba Diko cepat sadar bahwa lingkungan tempat ia bekerja tidak sehat jika terus dilanjutkan. Ia akan merasa ada ketergantungan terhadap barang yang ia konsumsi. ย Ia pun mencoba merubah lingkungan dengan cara resign dari tempat kerja.
โAkhirnya saya mencoba berusaha dengan cara menjualkan dagangan produk teman-teman.ย Saya ambil margin dari jualan produk tersebut,โ kenangnya.
Ketika Hari Raya Idul Adha, ia gunakan untuk mencoba jualan kambing. Dengan memasarkan produk peternak kambing yang juga temannya. Awalnya tanpa modal ia pasarkan kambing, ternyata ia bisa menjual lumayan banyak. Ia pun optimis untuk melanjutkannya.
Tahun kedua, Baba Diko mencoba modal 5 juta rupiah untuk mengambil bahan kambing dari temannya yang petani. Dengan modal itu, ia dapat membawa keluar 60 kambing untuk dijual.
โTak seperti yang saya pikir dapat untung besar, tapi perlu banyak pemikiran saat di lapangan banyak hewan yang mati. Penjualan tidak sebanyak yang kita bayangkan,โ kisahnya.
Baba Diko tergolong baru berjualan di pinggir jalan saat lebaran qurban. Karena belum punya banyak pengalaman, banyak kambing yang mati, hingga ia menutup kerugian mencapai 25 juta saat itu. Akhirnya sisanya ia jual di pasar kambing kiloan. โAkhirnya sisa kambing saya kiloin, tertutup sebagian kekuarangan yang seharusnya saya tutupi,โ ujarnya.
Dari pengalaman itu, Baba Diko merasa ada potensi pasar harian untuk kambing. Dengan modal 5 juta tadi, ia mulai dapat market lagi untuk kambing harian. โSaya suplai setiap tiga hari sekali. Saya cari kambing ke daerah-daerah sekirar jawa barat,โ tuturnya.
Tak banyak untung yang ia dapat dari per ekor kambing, sekitar 20 ribu bersih. Bahkan dalam sehari ia pernah sampai menjual 300 ekor, tapi yaitu marjin tipis dan resikonya berat. Ditambah pembayaran dari pedagang sering terlambat, maka cashflow pun tak baik. Akhirnya ia pun menyudahi jualan kambing di pasar.
Bukan hanya pedagang yang telat membayar, salah satu karyawan yang ia percaya untuk belanja kambing di daerah justru membawa kabur uangnya sekitar 100 juta. Padahal dana itu untuk diputar membeli kambing dari petani.
โCashflow sudah tidak baik, dan asset kambing kita jual ternyata dibawa kabur. Kami merasa terpuruk, terasa hidup seperti sudah selasai saja,โ kenangnya.
Sempat vakum beberapa lama karena modal terkuras. Ia pun sembari mencari alternatif bisnis lain yang tetap bersinggungan dengan hewan kambing. Akhirnya tercetuslah bisnis layanan akikah. Ia berpikir bisnis akikah lebih mudah karena konsumen sudah membayar DP saat berakikah.
Dengan berbekal skill mendesain produk, akhirnya ia buat selebaran tentang akikah Bernama Warung Kandang. Awal-awal, saat ada konsumen akan akikah, ia gunakan tukang masak di luar yang sudah cocok rasanya. Karena saat itu, ia belum punya juru masak sendiri.
Ternyata usaha akikah ini tidak semudah yang dibayangkan. Selain tenaga yang bisa masak, delivery masakan yang harus on time, akhirnya ia terus mengasah diri untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.
Meski dari garasi orangtuanya di bilangan Jakarta Selatan, ia optimis usaha akikahnya akan berjalan seiring banyaknya bayi yang lahir. Setelah melalui proses panjang, Warung Kandang telah memiliki cabang di Bekasi, Bogor, Tangerang dan Surabaya.
Saat itu, masih belum banyak usaha akikah yang menggunakan digital marketing. Warung Kandang dengan polesan Baba Diko sudah mulai merambah dunia maya. Alhasil banyak permintaan akikah di sekitar Jakarta, Bekasi Bogor, dan Tangerang.
โSebelum pandemic kami bisa menyembelih 450 ekor kambing dalam sebulan untuk memenuhi pesanan akikah. Kami anggap ini bonus dari Allah, mungkin kesabaran kami saat terkena musibah, dan kembali kepada Allah,โ jelasnya.
Di masa pandemi, Baba Diko mengakui kalua usaha akikahnya mengalami penurunan hingga 60 persen, namun hikmah dengan adanya pandemic ternyata banyak anak yang dilahirkan di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Saat pandemic pula, banyak pengusaha akikah yang mendigitalisasi usahanya sehingga persaingan makin ketat. Namun demikian Baba Diko tetap yakin bahwa prospek bisnis akikah ini akan terus bertahan selagi ada kalhiran di muka bumi ini.
Untuk pengembangan usaha kambingnya, ia juga mulai ternak kambing sendiri. Tujuannya untuk mengamankan stok kambing. โDari hasil ternak ini nantinya bisa untuk kebutuhan Warung Kandang dan bisa juga diserap oleh pemain akikah lainnya,โ tuturnya.ย [Fathur]





















