Jakarta, Gontornews — Meski menyandang negara agraris, Indonesia yang banyak memiliki lahan hijau nan subur ini, juga memiliki gedung-gedung tinggi menjelang. Imbas dari itu masyarakat satu persatu mulai meninggalkan profesi petani.
Tak ingin problem itu berlanjut, organisasi kemanusiaan bertaraf global Aksi Cepat Tanggap (ACT) membentuk program pemberdayaan masyarakat baik di bidang pertanian maupun peternakan yang di antaranya dilaksanakan di Desa Jipang, Kecamatan Cepu, Blora, Jawa Tengah.
Selain memberikan peluang ekonomi dari hasil pertanian melalui lumbung pangan, masyarakat desa yang terletak di tepi Bengawan Solo ini juga memiliki Lumbung Ternak Masyarakat (LTM). Sesuai namanya, LTM bergerak di bidang peternakan, di mana kambing, sapi, dan ayam banyak diternak di sana. Lewat program-program ACT inilah Jipang bisa berdaya.
Sebagai Kepala Desa, Ngadi merasa bersyukur. Karena warga di desanya secara perlahan kondisi ekonominya semakin membaik. “Kami, saya dan warga yang tadinya tidak berdaya, alhamdulillah sekarang berdaya,” tutur Ngadi saat hadir dalam peluncuran program Indonesia Berqurban, beberapa waktu lalu.
Bersama LTM, masyarakat Desa Jipang bisa melakukan dua pekerjaan sekaligus, bertani dan beternak. Bahkan, masyarakat di desanya sekarang bisa mendapat penghasilan setara Upah Minimum Relatif (UMR) tingkat kabupaten di Jawa Tengah.
“Saya berterima kasih sekali, LTM ini meningkatkan ekonomi masyarakat Desa Jipang. Bahkan, bisa mengubah taraf pendidikan anak-anak desa, yang tadinya hanya sampai SD atau SMP, kini sudah bisa lebih dari itu,” tambahnya.
Lurah Ngadi merupakan mantan relawan ACT. Layaknya pemuda desa lainnnya, selepas lulus Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Ngadi bekerja di Jakarta. Namun impian untuk bisa membangun desa tercinta yang juga merupakan tempat kelahirannya, sudah dipupuknya sedari muda.
Bahkan jabatan kepala teknisi di sebuah perusahaan properti yang didapatkannya ketika di Jakarta rela dilepasnya hanya karena ingin kembali ke kampung halaman. Sepulangnya dari Jakarta pria berusia 39 tahun itu berikhtiar membangun desanya setahap demi setahap melalui program-program dari tempatnya ia menjadi relawan.
Tepatnya pada tahun 2009, Ngadi sudah terlibat menjadi relawan aktif ACT. Ikhtiarnya berbuah manis. Secara perlahan desa kebanggaannya mengalami perkembangan sosial dan ekonomi yang cukup pesat. Karena perubahan signifikan pada desa mereka, warga serentak menunjuk Ngadi jadi Kepala Desa. Mengemban amanah sebagai kepala desa ternyata lebih memacu Ngadi untuk bekerja maksimal membangun desa dan kesejahteraan warganya.
Meski menjabat sebagai kepala desa, Lurah Ngadi tetap mendedikasikan dirinya sebagai relawan ACT. “Sampai saya menjabat kepala desa pun saya masih mendedikasikan diri saya sebagai relawan ACT. Bahkan, kerjasama kami sebagai pemerintah desa dengan ACT semakin padu,” terangya.
Latarbelakangnya sebagai relawan rupanya turut mewarnai gaya kepemimpinan lurah Ngadi hingga saat ini. Karakter relawan yang suka blusukan ke lapangan dan melayani masyarakat selalu muncul dalam aktivitas tugasnya hingga warga Jipang menjuluki Ngadi dengan kantor lurah berjalan.
Jabatan kepala desa yang diembannya kini sudah dua periode lamanya. Di bawah kepemimpinan Lurah Ngadi, dari tahun 2011 desa yang mengandalkan ekonominya dari pertanian, berternak dan pertambangan itu kini menjadi semakin berdaya. “Alhamdulillah petani di Desa Jipang bisa panen tiga kali dalam setahun. Hal tersebut berkat peran ACT yang aktif memberikan penyuluhan pertanian sekaligus sokongan finansial,” ungkapnya.
Desa yang dipimpin Ngadi ini sering terlibat langsung dalam menyiapkan ribuan ton beras untuk Program Kapal Kemanusiaan (KK). Sebelumnya, Ngadi bersama warganya turut berpartisipasi aktif menyukseskan keberangkatan dua Kapal Kemanusiaan, yakni KK Somalia dan KK Rohingya.
“Ini salah satu pergerakan sosial dan kemausiaan dari warga kami. Dengan solidaritas, masyarakat desa semakin terbangun. Selain itu, masyarakat Jipang juga sangat terberdayakan dengan adanya Lumbung Pangan Masyarakat (LPM) dan program Kapal Kemanusiaan ini,” tuturnya penuh rasa syukur. [Muhammad Khaerul Muttaqien]






















