10
Tonton Selengkapnya
27 °c
Pecenongan
Sun
Mon
Saturday, 20 June, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Tadabbur Tafsir

Nikmat Terbesar bagi Orang yang Beriman: Anugerah Melihat Allah

Oleh Prof Dr H Sofyan Sauri, MPd, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
7 August 2022
in Tafsir
0
Foto: sindonews.com

Sungguh beruntung menjadi orang-orang yang beriman. Sebab, Allah SWT telah banyak memberikan kenikmatan kepada mereka. Nikmat Iman, Islam dan Ihsan. Dan nikmat terbesar yang bakal diterima kelak yaitu ketika mereka berjumpa dengan Allah SWT di surga.

Allah SWT berfirman:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ  (٢٢) إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَة(٢٣)

Artinya: “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nyalah mereka melihat.” (QS Al-Qiyamah: 22-23)

BACA JUGA

Menghidupkan Spirit Haji Pasca-Idul Adha dalam Kehidupan Sehari-hari

Menyambut Dzulhijjah dengan Semangat Ibadah dan Amal Terbaik  

Peran Jin dan Manusia dalam Kehidupan Sehari-hari

Membangun Integritas Pendidik dan Peserta Didik

Belajar Ikhlas dan Taat dalam Perjalanan Haji

Interpretasi para mufasir

Abu Hasan Al Asyari dalam kitabnya Al-Ibanah mengatakan: Kata “Nazhirah”  yaitu ‘Raiyah”  yang berarti melihat. Sedangkan Syekh Muhammad bin Shalih asy-Syawi dalam An-Nafahat Al-Makkiyah mengatakan bahwa dalam ayat ini Allah mengabarkan wajah orang-orang yang beriman pada hari kiamat berseri-seri, mereka melihat kepada Tuhannya dengan mata kepala dan tanpa penghalang, dengan pandangan senang dan suka-cita. Inilah sebesar-besar nikmat yang Allah berikan kepada penghuni surga pada hari kiamat.

Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam Tafsir As-Sa’di memaparkan ayat 22-23 di atas, bahwa Allah menyebutkan apa-apa yang menumbuhkan semangat untuk lebih mementingkan akhirat dan menjelaskan kondisi penghuninya serta tingkatan-tingkatan mereka.

Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Wajiz mengatakan mereka mendapat nikmat paling agung untuk melihat Zat Tuhannya langsung tanpa penghalang apapun.

Ali Al-Shabuni ketika menafsirkan QS Al-Qiyamah [75]: 22-23: “Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri”; setelah menuturkan bahwa umat manusia mengutamakan dunia dan kenikmatannya yang fana atas akhirat serta kebahagiaannya yang abadi. Pada hari kiamat manusia terbagi menjadi dua golongan, yaitu orang yang berbakti dan orang yang durhaka. Nikmat terbesar bagi penghuni surga yaitu melihat Allah Yang Mulia tanpa tabir.

Dari aspek balaghah susunan kalimat وُجُوْهٌ يَّوْمَئِذٍ (wajah pada hari itu), menurut Ali Al-Shabuni, susunan kalimat tersebut merupakan majaz mursal, yang dikatakan “wajah” namun yang dimaksudkan adalah keseluruhan. Ini termasuk mengucapkan sebagian namun bermaksud menyebutkan secara keseluruhan. (Muhammad Ali al-Shabuni, Shafwah al-Tafâsîr, Jilid 3, Kairo: Darus Shabuni: 2009, 462).

Relevansi ayat

لَا تُدْرِكُهُ الْاَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْاَبْصَارَۚ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ(١٠٣) قَدْ جَاۤءَكُمْ بَصَاۤىِٕرُ مِنْ رَّبِّكُمْۚ فَمَنْ اَبْصَرَ فَلِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ عَمِيَ فَعَلَيْهَاۗ وَمَآ اَنَا۠ عَلَيْكُمْ بِحَفِيْظٍ(١٠٤)

Artinya: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dialah Yang Mahahalus, Mahateliti.” (103). “Sungguh, bukti-bukti yang nyata telah datang dari Tuhanmu. Barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka dialah yang rugi. Dan aku (Muhammad) bukanlah penjaga-(mu).” (104). (QS Al-An’am: 103-104)

Imam asy-Syafi’i berkata: “Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang mukmin tidak terhalang untuk melihat Allah yang Mahasuci lagi Mahatinggi.”

QS Al-Qiyamah: 22-23 di atas mengandung sejumlah nilai-nilai pendidikan. Di antaranya, pertama, mendidik kita agar menjadi hamba Allah yang taat dan beriman serta menjauhi larangan-Nya. Kedua, menanamkan rasa mawas diri untuk mempersiapkan kehidupan akhirat yang abadi. Ketiga, senantiasa mendidik kita agar menjadi hamba yang bertakwa.

Rasulullah Muhammad SAW bersabda:

أَمَا إِنَّكُمْ سَتُعْرَضُوْنَ عَلَى رَبِّكُمْ فَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ

Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya kalian akan dihadapkan kepada Rabb kalian, maka kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini. [HR Muslim]

Nabi menyatakan dengan tegas:

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عِيَانًا

Artinya: “Kalian akan melihat Rabb kalian secara langsung (dengan mata kepala).” (HR Bukhari No. 7435)

Jika orang-orang mukmin bisa melihat Allah, tidak demikian dengan orang-orang kafir. Mereka terhalang untuk melihat Allah. Allah SWT berfirman:

كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ, ثُمَّ إِنَّهُمْ لَصَالُوا الْجَحِيمِ

Artinya: “Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari Rabb mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka.”  (QS Al-Muthaffifin: 15-16)

Lalu bagaimana caranya agar kita berjumpa dengan Allah? Pertama, mengerjakan amal shalih. Allah SWT berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَآءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَ يُشْرِكُ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Artinya: “Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya. [QS Al-Kahfi: 110]

Kedua, bersungguh-sungguh menyembah Allah. Allah berfirman:

يَا أَيُّهاَ اْلإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلىَ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلاَقِيهِ

Artinya: “Hai manusia sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh memuja Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.”  [QS Al-Insyiqaq: 6]

Ketiga, senantiasa menjaga shalat. Rasulullah SAW bersabda:

قَالَ جَرِيرُ بْنُ عَبْدِاللهِ كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ إِذْ نَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ فَقَالَ أَمَا إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا لاَ تُضَامُّونَ أَوْ لاَ تُضَاهُونَ فِي رُؤْيَتِهِ فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا ثُمَّ قَالَ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا

Artinya: “Jarir bin Abdullah berkata: Kami duduk bersama Rasulullah, kemudian beliau memandang bulan yang sedang purnama, lalu beliau bersabda: ‘Sesungguhnya kamu akan melihat Tuhanmu sebagaimana engkau melihat bulan, tidak ada yang menghalangimu untuk melihat-Nya, kalau kamu mampu tidak meninggalkan shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya maka lakukannlah’.” [HR Bukhari & Muslim]

Keempat, berbuat baik. Allah SWT berfirman:

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

Artinnya: “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” [QS Yunus:26]

Imam Ibnu Katsir mengatakan maksud kata al-husna adalah surga, sedangkan az-ziyadah adalah melihat wajah Allah pada hari kiamat.

Balasan bagi orang yang beriman

Orang-orang yang beriman kelak akan memperoleh balasan atau hadiah dari Allah SWT. Apa balasan itu? Pertama, dimasukkan ke dalam surga, dilimpahkan balasan kebaikan dan akan melihat Allah SWT. Nabi Muhammad SAW bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ قَالَ يَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ فَيَقُولُونَ أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ قَالَ فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ (رواه مسلم)

Artinya: “Apabila penduduk surga telah masuk ke surga, Allah SWT berfirman: ‘Apakah kamu menginginkan sesuatu yang akan Aku tambahkan?’. Mereka berkata: ‘Bukankah Engkau telah memutihkan muka kami dan memasukkan kami ke dalam surga, dan menyelamatkan kami dari neraka?’. Kemudian Allah membuka tabir, dan tidak ada sesuatu yang telah diberikan kepada mereka yang lebih mereka cintai daripada melihat Tuhannya Yang Mahatinggi.” [HR Muslim]

Kedua, kekal di dalam surga dan tidak akan merasakan lelah. Allah berfirman:

لَا يَمَسُّهُمْ فِيْهَا نَصَبٌ وَّمَا هُمْ مِّنْهَا بِمُخْرَجِيْنَ

Artinya: “Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka tidak akan dikeluarkan darinya.” (QS Al-Hijr: 48)

Ketiga, memperoleh segala yang diinginkan. Allah SWT berfirman:

لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ

Artinya: “Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya.” (QS Qaaf: 35)

Ibnu Katsir mengatakan bahwa tambahan di sini maksudnya, Allah akan menampakkan wajah pada mereka setiap hari Jumat (di akhirat nanti).

Kisah teladan Nabi Musa AS

Allah berfirman:

وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِىٓ أَنظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِى وَلَٰكِنِ ٱنظُرْ إِلَى ٱلْجَبَلِ فَإِنِ ٱسْتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوْفَ تَرَىٰنِى ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبْحَٰنَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلْمُؤْمِنِينَ

Artinya: “Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama beriman”.” (QS Al-A’raf: 143)

Kandungan ayat ini sebagaimana disebutkan dalam Al-Ibanah hlm 15, bahwa: Pertama, dalam ayat ini Nabi Musa AS meminta untuk melihat Allah, kalau yang demikian itu tidak diperbolehkan, apalagi sesuatu yang mustahil, maka tidak mungkin dilakukan oleh seorang Nabi. Namun dalam ayat ini tidak ada yang menunjukkan larangan meminta melihat Allah, karena kalau itu sesutau yang tidak boleh niscaya Allah akan melarang Nabi Musa untuk melakukannya.

Kedua, tasbihnya Nabi Musa setelah sadar dari pingsannya, bukan menunjukkan penyucian dari kekurangan Allah, justru menunjukkan kekurangan dan kelemahan Nabi Musa yang tidak mampu melihat Allah di dunia, dan tidak semua yang boleh dilihat berarti tidak baik atau kurang.

Ketiga, Nabi Musa mengatakan: “Saya bertobat.” Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya Juz VII/27 mengatakan: “Sudah disepakati oleh semua umat bahwa perkataan ini bukan disebabkan karena Nabi Musa melakukan maksiat.

Keempat, kaum Nabi Musa diazab ketika mereka meminta melihat Allah, karena permintaan mereka sebuah tantangan kepada Nabinya dan itu dilakukannya dengan penuh kesombongan dan keingkaran dan menganggap semua itu suatu yang mustahil.

Kategori manusia dalam melihat Allah

Syeikh Ibnu Atha’illah Al-Sakandary RA mengelompokkan tiga golongan manusia dalam melihat Allah. Pertama, golongan umum. Golongan umum (kebanyakan), yaitu mereka bisa melihat alam, tetapi tidak bisa melihat Allah, baik saat mereka dalam alam (dunia), sebelum maupun setelah mereka meninggalkan dunia. Hati mereka sangat membutuhkan cahaya, karena telah tertutup oleh alam.

Kedua golongan khusus. Golongan khusus yaitu mereka yang telah sampai maqam baqa’ (hakikat) yang sudah bisa melihat Allah dengan bashirahnya di atas alam. Mereka tetap berada di alam, akan tetapi hatinya tidak melihat apa-apa, selain Allah.

Ketiga golongan khususnya khusus. Golongan ini yaitu mereka hanya melihat Allah dan sudah tidak melihat perantaranya tanpa permulaan dan akhiran, serta tidak berada di tempat tertentu.

Kesimpulan

Orang awam tidak bisa melihat Allah, karena hatinya tertutup oleh syahwat duniawi, hatinya berada dalam kegelapan tidak ada cahaya yang menyinari. Hal tersebut terjadi ketika mereka hidup di alam dunia, sebelum maupun setelah mereka meninggalkannya.

Bagi golongan khusus, mereka bisa melihat Allah dengan bashirah-nya, namun mereka masih berada di tengah antara perantara dengan Allah.

Sedangkan golongan khususnya khusus, mereka hanya melihat Allah tanpa disertai perantara. Seperti halnya Nabi Muhammad SAW saat bertemu Allah di Sidratul Muntaha tanpa perantara Malaikat Jibril. Sebab Malaikat Jibril tidak diizinkan Allah menyertai Nabi Muhammad SAW hingga Sidratul Muntaha.

Bagi mereka yang sudah mencapai maqam golongan ketiga ini, hati mereka hanya melihat Allah, karena alam (makhluk) sudah tertutup, tidak bisa masuk ke dalam hatinya. Sebaliknya golongan umum tidak bisa melihat Allah, karena hatinya dipenuhi syahwat duniawi, sehingga hatinya gelap, tidak ada cahaya yang meneranginya.

اَللَّهُمَّ اِنِّيْ أَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِيْ غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ وَلاَ فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ

“Ya Allah, Aku mohon kepada-Mu kenikmatan memandang wajah-Mu, rindu bertemu dengan-Mu tanpa penderitaan yang membahayakan dan fitnah yang menyesatkan. (HR Ahmad 4/364 dan Imam An-Nasai 3/54-55. Dinyatakan oleh Al-Albani sahih dalam sahih An-Nasa’i 1/281) []

Tags: ImanProf Sofyan SauriSurga
Share350Tweet219Send
Previous Post

Milad Ke-45, BKPRMI Punya Program Bersihkan 45 Ribu Masjid se-ASEAN

Next Post

Kecam Keras Israel yang Kembali Teror Gaza dan Al-Aqsha, HNW Pinta Pemerintah RI Konsolidasikan OKI dan DK PBB

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pesantren Wisuda SDIT Insantama Leuwiliang Hadirkan Trainer Nasional 

Pesantren Wisuda SDIT Insantama Leuwiliang Hadirkan Trainer Nasional 

13 June 2026
Pesantren Wisuda SDIT Insantama Leuwiliang: Ketua Yayasan Tekankan “Semangat Diri” dan Kekuatan Ruhiah dalam Belajar

Pesantren Wisuda SDIT Insantama Leuwiliang: Ketua Yayasan Tekankan “Semangat Diri” dan Kekuatan Ruhiah dalam Belajar

15 June 2026
Ini dia Lirik Lagu Gontor ‘Takkan Terlupa’

Ini dia Lirik Lagu Gontor ‘Takkan Terlupa’

30 August 2021
Pandemi Covid-19 Sebabkan Defisit Masa Belajar Siswa

Berani untuk Bebas

11 June 2026
Bekali Karakter dan Visi Hidup, SDIT Insantama Leuwiliang Gelar “Pesantren Wisuda”

Bekali Karakter dan Visi Hidup, SDIT Insantama Leuwiliang Gelar “Pesantren Wisuda”

14 June 2026
Menghidupkan Kembali Budaya Baca

Menghidupkan Kembali Budaya Baca

0
Pembekalan Wawasan Hukum dan Melek Media Sosial bagi Santri Kelas 5 dan 6 Gontor Magelang

Pembekalan Wawasan Hukum dan Melek Media Sosial bagi Santri Kelas 5 dan 6 Gontor Magelang

0
Modern Itu Alatnya, Bukan Cara Berpikirnya

Modern Itu Alatnya, Bukan Cara Berpikirnya

0
Kisah Haru Pesantren Wisuda 2026 SDIT Insantama Leuwiliang

Kisah Haru Pesantren Wisuda 2026 SDIT Insantama Leuwiliang

0
Bersyukur dan Cobaan (Bagian Kedua)

Bersyukur dan Cobaan (Bagian Kedua)

0
Menghidupkan Kembali Budaya Baca

Menghidupkan Kembali Budaya Baca

17 June 2026
Pembekalan Wawasan Hukum dan Melek Media Sosial bagi Santri Kelas 5 dan 6 Gontor Magelang

Pembekalan Wawasan Hukum dan Melek Media Sosial bagi Santri Kelas 5 dan 6 Gontor Magelang

17 June 2026
Modern Itu Alatnya, Bukan Cara Berpikirnya

Modern Itu Alatnya, Bukan Cara Berpikirnya

17 June 2026
Kisah Haru Pesantren Wisuda 2026 SDIT Insantama Leuwiliang

Kisah Haru Pesantren Wisuda 2026 SDIT Insantama Leuwiliang

16 June 2026
Bersyukur dan Cobaan (Bagian Kedua)

Bersyukur dan Cobaan (Bagian Kedua)

16 June 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Alur Pendaftaran Program Persiapan Calon Pelajar Pondok Modern Darussalam GontorSource: gontortv
https://youtu.be/cUA3pvD43i8Video ini menjelaskan alur pendaftaran Program Persiapan Calon Pelajar Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor secara lengkap dan sistematis.Informasi lengkap terkait pendaftaran Program Persiapan Calon Pelajar KMI Pondok Modern Darussalam Gontor dapat diakses melalui:
https://gontor.ac.id/persiapanPendaftaran online dilakukan melalui halaman resmi:
https://capel.gontor.ac.id
  • Kunjungan Tim Redaksi Majalah Gontor ke Pondok Pesantren Modern Darel Azhar RangkasbitungIntip momen seru kunjungan Tim Redaksi Majalah Gontor saat berkeliling melihat fasilitas, unit ekonomi, hingga suasana belajar di Pondok Pesantren Modern Darel Azhar Rangkasbitung.#DarelAzhar #MajalahGontor #KunjunganMahabbah #PondokModern #Rangkasbitung #SantriIndonesia #UkhuwahIslamiyah #DuniaPesantren #Gontor #LiterasiSantri
#majalahgontor
#gontornews
  • Tujuan dari sains Islam adalah meletakkan kembali jejak Tuhan di dalam kausalitas alam, agar manusia tidak arogan dan menganggap alam bekerja tanpa pencipta.Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil.#nasehat
#motivasionline
#belajarbaik
#hidupislami
#kehidupanislam
#majalahgontor
#gontornews
#kiaiku
#memperbaikidiri
#ilmupengetahuan
  • Membaca Al-Qur
  • Kebebasan dalam Islam bukanlah kebebasan tanpa batas, melainkan
  • Nasehat dalam memimpin suatu lembaga:
(Yang sulit dan menjadi tantangan dalam memimpin lembaga itu adalah:)
1. Noto Atine Dewe
2. Noto Atine Wong Liyo
3. Noto Atine Wong Liyo Sing luwih Tuo
4. Noto Atine Wong Liyo Sing luwih Tuo Sing Tukaran.KH Hasan Abdullah Sahal#nasehat
#motivasi
#belajar
#hidup
#kehidupan
#majalahgontor
#gontornews
  • Beriman itu tandanya jujur. Beriman itu tandanya bersaudara. Iman seseorang bisa diukur dari perilakunyaProf. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil.#nasehat
#motivasi
#belajar
#hidup
#kehidupan
#majalahgontor
#gontornews
#kiaiku
#memperbaikidiri
  • KAJIAN PARENTING EKSKLUSIF & VIRTUAL TOUR ARABIC GLOBAL SCHOOL JAKARTA.Menyiapkan Generasi Cerdas: Menyeimbangkan Adab Islami & Kompetensi Global di Era DigitalBersama Narasumber dari Arabic Global School (AGS):
1.​Dedek Febrian (Pembimbing Akademik AGS)
2.​Ramdhanil (Kepala Sekolah Kindergarten AGS)
3.​Adi Suroto (Kepala Sekolah Primary AGS)Moderator :
Devi Lusianawati
Reporter Majalah Gontor dan Gontornews.com🗓 Rabu, 22 April 2026
⏰ 13.00 – 15.30 WIB​👇 KLIK LINK DI BAWAH INI UNTUK MENDAFTAR:
👉 https://bit.ly/pendaftaran-kajian-online#bedahbuku #parentingislami #muslimmilenial #gontornews #majalahgontor #gontor #kajianonline #kajianislam #psikologianak #polaasuh #bukuislami #livezoom #webinarislami #pendidikananak #belajarparenting #polaasuhanak #generasimilenial #islammodern #kajianjakarta
  • Mestinya orang Islam itu hanya dengan menjalankan shalat, jiwanya itu bersih. Shalat itu harus ada hubungannya dengan perilaku.Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil.#nasehat
#motivasi
#belajar
#hidup
#kehidupan
#majalahgontor
#gontornews
#kiaiku
#memperbaikidiri

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result