Sungguh beruntung menjadi orang-orang yang beriman. Sebab, Allah SWT telah banyak memberikan kenikmatan kepada mereka. Nikmat Iman, Islam dan Ihsan. Dan nikmat terbesar yang bakal diterima kelak yaitu ketika mereka berjumpa dengan Allah SWT di surga.
Allah SWT berfirman:
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ (٢٢) إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَة(٢٣)
Artinya: “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nyalah mereka melihat.” (QS Al-Qiyamah: 22-23)
Interpretasi para mufasir
Abu Hasan Al Asyari dalam kitabnya Al-Ibanah mengatakan: Kata “Nazhirah” yaitu ‘Raiyah” yang berarti melihat. Sedangkan Syekh Muhammad bin Shalih asy-Syawi dalam An-Nafahat Al-Makkiyah mengatakan bahwa dalam ayat ini Allah mengabarkan wajah orang-orang yang beriman pada hari kiamat berseri-seri, mereka melihat kepada Tuhannya dengan mata kepala dan tanpa penghalang, dengan pandangan senang dan suka-cita. Inilah sebesar-besar nikmat yang Allah berikan kepada penghuni surga pada hari kiamat.
Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam Tafsir As-Sa’di memaparkan ayat 22-23 di atas, bahwa Allah menyebutkan apa-apa yang menumbuhkan semangat untuk lebih mementingkan akhirat dan menjelaskan kondisi penghuninya serta tingkatan-tingkatan mereka.
Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Wajiz mengatakan mereka mendapat nikmat paling agung untuk melihat Zat Tuhannya langsung tanpa penghalang apapun.
Ali Al-Shabuni ketika menafsirkan QS Al-Qiyamah [75]: 22-23: “Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri”; setelah menuturkan bahwa umat manusia mengutamakan dunia dan kenikmatannya yang fana atas akhirat serta kebahagiaannya yang abadi. Pada hari kiamat manusia terbagi menjadi dua golongan, yaitu orang yang berbakti dan orang yang durhaka. Nikmat terbesar bagi penghuni surga yaitu melihat Allah Yang Mulia tanpa tabir.
Dari aspek balaghah susunan kalimat وُجُوْهٌ يَّوْمَئِذٍ (wajah pada hari itu), menurut Ali Al-Shabuni, susunan kalimat tersebut merupakan majaz mursal, yang dikatakan “wajah” namun yang dimaksudkan adalah keseluruhan. Ini termasuk mengucapkan sebagian namun bermaksud menyebutkan secara keseluruhan. (Muhammad Ali al-Shabuni, Shafwah al-Tafâsîr, Jilid 3, Kairo: Darus Shabuni: 2009, 462).
Relevansi ayat
لَا تُدْرِكُهُ الْاَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْاَبْصَارَۚ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ(١٠٣) قَدْ جَاۤءَكُمْ بَصَاۤىِٕرُ مِنْ رَّبِّكُمْۚ فَمَنْ اَبْصَرَ فَلِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ عَمِيَ فَعَلَيْهَاۗ وَمَآ اَنَا۠ عَلَيْكُمْ بِحَفِيْظٍ(١٠٤)
Artinya: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dialah Yang Mahahalus, Mahateliti.” (103). “Sungguh, bukti-bukti yang nyata telah datang dari Tuhanmu. Barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka dialah yang rugi. Dan aku (Muhammad) bukanlah penjaga-(mu).” (104). (QS Al-An’am: 103-104)
Imam asy-Syafi’i berkata: “Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang mukmin tidak terhalang untuk melihat Allah yang Mahasuci lagi Mahatinggi.”
QS Al-Qiyamah: 22-23 di atas mengandung sejumlah nilai-nilai pendidikan. Di antaranya, pertama, mendidik kita agar menjadi hamba Allah yang taat dan beriman serta menjauhi larangan-Nya. Kedua, menanamkan rasa mawas diri untuk mempersiapkan kehidupan akhirat yang abadi. Ketiga, senantiasa mendidik kita agar menjadi hamba yang bertakwa.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda:
أَمَا إِنَّكُمْ سَتُعْرَضُوْنَ عَلَى رَبِّكُمْ فَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ
Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya kalian akan dihadapkan kepada Rabb kalian, maka kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini. [HR Muslim]
Nabi menyatakan dengan tegas:
إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عِيَانًا
Artinya: “Kalian akan melihat Rabb kalian secara langsung (dengan mata kepala).” (HR Bukhari No. 7435)
Jika orang-orang mukmin bisa melihat Allah, tidak demikian dengan orang-orang kafir. Mereka terhalang untuk melihat Allah. Allah SWT berfirman:
كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ, ثُمَّ إِنَّهُمْ لَصَالُوا الْجَحِيمِ
Artinya: “Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari Rabb mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka.” (QS Al-Muthaffifin: 15-16)
Lalu bagaimana caranya agar kita berjumpa dengan Allah? Pertama, mengerjakan amal shalih. Allah SWT berfirman:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَآءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَ يُشْرِكُ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Artinya: “Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya. [QS Al-Kahfi: 110]
Kedua, bersungguh-sungguh menyembah Allah. Allah berfirman:
يَا أَيُّهاَ اْلإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلىَ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلاَقِيهِ
Artinya: “Hai manusia sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh memuja Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” [QS Al-Insyiqaq: 6]
Ketiga, senantiasa menjaga shalat. Rasulullah SAW bersabda:
قَالَ جَرِيرُ بْنُ عَبْدِاللهِ كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ إِذْ نَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ فَقَالَ أَمَا إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا لاَ تُضَامُّونَ أَوْ لاَ تُضَاهُونَ فِي رُؤْيَتِهِ فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا ثُمَّ قَالَ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا
Artinya: “Jarir bin Abdullah berkata: Kami duduk bersama Rasulullah, kemudian beliau memandang bulan yang sedang purnama, lalu beliau bersabda: ‘Sesungguhnya kamu akan melihat Tuhanmu sebagaimana engkau melihat bulan, tidak ada yang menghalangimu untuk melihat-Nya, kalau kamu mampu tidak meninggalkan shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya maka lakukannlah’.” [HR Bukhari & Muslim]
Keempat, berbuat baik. Allah SWT berfirman:
لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ
Artinnya: “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” [QS Yunus:26]
Imam Ibnu Katsir mengatakan maksud kata al-husna adalah surga, sedangkan az-ziyadah adalah melihat wajah Allah pada hari kiamat.
Balasan bagi orang yang beriman
Orang-orang yang beriman kelak akan memperoleh balasan atau hadiah dari Allah SWT. Apa balasan itu? Pertama, dimasukkan ke dalam surga, dilimpahkan balasan kebaikan dan akan melihat Allah SWT. Nabi Muhammad SAW bersabda:
إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ قَالَ يَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ فَيَقُولُونَ أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ قَالَ فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ (رواه مسلم)
Artinya: “Apabila penduduk surga telah masuk ke surga, Allah SWT berfirman: ‘Apakah kamu menginginkan sesuatu yang akan Aku tambahkan?’. Mereka berkata: ‘Bukankah Engkau telah memutihkan muka kami dan memasukkan kami ke dalam surga, dan menyelamatkan kami dari neraka?’. Kemudian Allah membuka tabir, dan tidak ada sesuatu yang telah diberikan kepada mereka yang lebih mereka cintai daripada melihat Tuhannya Yang Mahatinggi.” [HR Muslim]
Kedua, kekal di dalam surga dan tidak akan merasakan lelah. Allah berfirman:
لَا يَمَسُّهُمْ فِيْهَا نَصَبٌ وَّمَا هُمْ مِّنْهَا بِمُخْرَجِيْنَ
Artinya: “Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka tidak akan dikeluarkan darinya.” (QS Al-Hijr: 48)
Ketiga, memperoleh segala yang diinginkan. Allah SWT berfirman:
لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ
Artinya: “Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya.” (QS Qaaf: 35)
Ibnu Katsir mengatakan bahwa tambahan di sini maksudnya, Allah akan menampakkan wajah pada mereka setiap hari Jumat (di akhirat nanti).
Kisah teladan Nabi Musa AS
Allah berfirman:
وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِىٓ أَنظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِى وَلَٰكِنِ ٱنظُرْ إِلَى ٱلْجَبَلِ فَإِنِ ٱسْتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوْفَ تَرَىٰنِى ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبْحَٰنَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلْمُؤْمِنِينَ
Artinya: “Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama beriman”.” (QS Al-A’raf: 143)
Kandungan ayat ini sebagaimana disebutkan dalam Al-Ibanah hlm 15, bahwa: Pertama, dalam ayat ini Nabi Musa AS meminta untuk melihat Allah, kalau yang demikian itu tidak diperbolehkan, apalagi sesuatu yang mustahil, maka tidak mungkin dilakukan oleh seorang Nabi. Namun dalam ayat ini tidak ada yang menunjukkan larangan meminta melihat Allah, karena kalau itu sesutau yang tidak boleh niscaya Allah akan melarang Nabi Musa untuk melakukannya.
Kedua, tasbihnya Nabi Musa setelah sadar dari pingsannya, bukan menunjukkan penyucian dari kekurangan Allah, justru menunjukkan kekurangan dan kelemahan Nabi Musa yang tidak mampu melihat Allah di dunia, dan tidak semua yang boleh dilihat berarti tidak baik atau kurang.
Ketiga, Nabi Musa mengatakan: “Saya bertobat.” Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya Juz VII/27 mengatakan: “Sudah disepakati oleh semua umat bahwa perkataan ini bukan disebabkan karena Nabi Musa melakukan maksiat.
Keempat, kaum Nabi Musa diazab ketika mereka meminta melihat Allah, karena permintaan mereka sebuah tantangan kepada Nabinya dan itu dilakukannya dengan penuh kesombongan dan keingkaran dan menganggap semua itu suatu yang mustahil.
Kategori manusia dalam melihat Allah
Syeikh Ibnu Atha’illah Al-Sakandary RA mengelompokkan tiga golongan manusia dalam melihat Allah. Pertama, golongan umum. Golongan umum (kebanyakan), yaitu mereka bisa melihat alam, tetapi tidak bisa melihat Allah, baik saat mereka dalam alam (dunia), sebelum maupun setelah mereka meninggalkan dunia. Hati mereka sangat membutuhkan cahaya, karena telah tertutup oleh alam.
Kedua golongan khusus. Golongan khusus yaitu mereka yang telah sampai maqam baqa’ (hakikat) yang sudah bisa melihat Allah dengan bashirahnya di atas alam. Mereka tetap berada di alam, akan tetapi hatinya tidak melihat apa-apa, selain Allah.
Ketiga golongan khususnya khusus. Golongan ini yaitu mereka hanya melihat Allah dan sudah tidak melihat perantaranya tanpa permulaan dan akhiran, serta tidak berada di tempat tertentu.
Kesimpulan
Orang awam tidak bisa melihat Allah, karena hatinya tertutup oleh syahwat duniawi, hatinya berada dalam kegelapan tidak ada cahaya yang menyinari. Hal tersebut terjadi ketika mereka hidup di alam dunia, sebelum maupun setelah mereka meninggalkannya.
Bagi golongan khusus, mereka bisa melihat Allah dengan bashirah-nya, namun mereka masih berada di tengah antara perantara dengan Allah.
Sedangkan golongan khususnya khusus, mereka hanya melihat Allah tanpa disertai perantara. Seperti halnya Nabi Muhammad SAW saat bertemu Allah di Sidratul Muntaha tanpa perantara Malaikat Jibril. Sebab Malaikat Jibril tidak diizinkan Allah menyertai Nabi Muhammad SAW hingga Sidratul Muntaha.
Bagi mereka yang sudah mencapai maqam golongan ketiga ini, hati mereka hanya melihat Allah, karena alam (makhluk) sudah tertutup, tidak bisa masuk ke dalam hatinya. Sebaliknya golongan umum tidak bisa melihat Allah, karena hatinya dipenuhi syahwat duniawi, sehingga hatinya gelap, tidak ada cahaya yang meneranginya.
اَللَّهُمَّ اِنِّيْ أَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِيْ غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ وَلاَ فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ
“Ya Allah, Aku mohon kepada-Mu kenikmatan memandang wajah-Mu, rindu bertemu dengan-Mu tanpa penderitaan yang membahayakan dan fitnah yang menyesatkan. (HR Ahmad 4/364 dan Imam An-Nasai 3/54-55. Dinyatakan oleh Al-Albani sahih dalam sahih An-Nasa’i 1/281) []




















