New Haven, Gontornews — Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Yale University menunjukkan bahwa mengurangi konsumsi glukosa dapat mengurangi dampak negatif dari penyakit malaria. Temuan ini memegang peranan penting dalam mencegah atau mengobati penyakit malaria.
Sebagaimana dilansir Scitech Daily, penyakit malaria merupakan satu dari sekian penyakit mematikan yang telah menewaskan kurang lebih satu juta manusia di dunia tiap tahunnya.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Andre Wang dkk dari Yale University itu, para peneliti menggunakan tikus sebagai objek penelitian dengan memanipulasi perilaku makannya. Berdasarkan temuan tersebut, mereka menyimpulkan bahwa mengurangi asupan makanan yang mengandung glukosa, setelah positif terinfeksi malaria, dapat meningkatkan kemampuan tikus untuk mengurangi dampak infeksi.
Untuk memblokir penyerapan glukosa dalam sel, para peneliti memperlakukan tikus yang terinfeksi dengan inhibitor glukosa yang diberi nama 2DG. Inhibitor ini mampu mempertahankan hidup tikus dalam beberapa hari.
Selain memblokir penyerapan glukosa, inhibitor 2DG ini juga mampu mengurangi pembekuan dan stroke kecil di otak penyebab kematian. Meski tikus percobaan tersebut mengalami anemia, setidaknya mereka mampu hidup lebih lama untuk menghilangkan parasit-parasit yang terkandung dengan antibiotik yang telah disiapkan.
Secara teknis, pemblokiran glukosa dengan inhibitor 2DG dapat mengurangi penggumpalan darah pada otak yang disebabkan oleh malaria.
Melalui penelitian yang diterbitkan oleh jurnal daring PNAS tersebut, para peneliti berharap dapat mencegah dan mengobati dampak negatifΒ yang disebabkan oleh malaria dan bukan tidak mungkin untuk menyembuhkan manusia dari infeksi malaria yang terbukti ganas membunuh jutaan manusia tiap tahunnya. [Mohamad Deny Irawan]





















