Ventimiglia, Gontornews — Anak-anak pengungsi dan migran rentan lainnya telah disiksa secara fisik dan verbal oleh penjaga perbatasan Prancis, organisasi hak asasi manusia internasional Oxfam mengatakan pada hari Jumat (15/60.
Mengutip pernyataan saksi, Oxfam menuduh polisi Prancis berulang kali mengambil makanan, air, dan selimut dari para pengungsi di bawah umur yang melintasi perbatasan Prancis dari kota Ventimiglia, Italia, tempat 16.500 pengungsi tinggal saat ini.
“Polisi Prancis tidak menjunjung standar internasional,” kata Chiara Romagno dari Oxfam dalam sebuah pernyataan.
“Mereka mengejek anak-anak dan menganiaya mereka. Sol sepatu sejumlah anak dipotong sebelum dikirim kembali ke Italia,” tambahnya sebagaimana dikutip Aljazeera.
Laporan itu mengatakan anak-anak mengeluh tentang “disiksa secara fisik dan verbal, dan ditahan semalam di sel-sel tanpa makanan, air atau selimut dan tanpa akses ke wali resmi,” semua bertentangan dengan hukum Prancis dan Uni Eropa.
“Dalam satu kasus, seorang perempuan Eritrea yang sangat muda dipaksa berjalan kembali melintasi perbatasan di sepanjang jalan tanpa trotoar membawa bayinya yang berumur 40 hari,” kata laporan itu.
Menurut hukum Eropa, anak-anak tanpa pendamping yang meminta suaka tidak dapat dikirim kembali ke tempat asalnya.
Sebagian besar pengungsi melarikan diri dari penganiayaan dan perang di negara-negara seperti Sudan, Eritrea, Suriah dan Afghanistan. [Rusdiono Mukri]
























