Washington, Gontornews — Majelis Umum PBB, Jumat (18/6/2021), melakukan pemungutan suara untuk menyerukan penghentikan penjualan senjata ke Myanmar. PBB menilai penjualan senjata ke Myanmar untuk menghentikan tindakan berdarah militer Myanmar ke para demonstran anti-kudeta. Dari 199 negara, hanya Belarus yang mengeluarkan suara sebagai oposisi dan 36 negara abstain.
Resolusi tersebut berisi tentang pengutukan terhadap kekuasaan oleh junta militer serta mendesak militer untuk membebaskan tahanan politik. Tatmadaw, sebutan untuk militer Myanmar, menangkap sejumlah tokoh yang mereka nilai sebagai aktor penggerak demonstrasi. Mereka ditangkap selama demonstrasi antimiliter Myanmar pasca penggulingan paksa pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, 1 Februari silam
Presiden Majelis Umum PBB, Volkan Bozkir, meminta negara anggota PBB untuk mendukung resolusi tersebut. “Ketika menyangkut urusan Myanmar, kita harus bertindak sebagai negara yang bersatu,” kata Bozkir sebagaimana dilansir Anadolu.
“Saya percaya bahwa Anda sebagai penjaga Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa akan bergabung dengan saya dalam seruan perdamaian ini,” imbuhnya.
Sejauh ini, 870 orang demonstran anti-kudeta tewas sementara 4.983 lainnya ditahan oleh pasukan militer Myanmar sejak penggulingan 1 Februari silam. [Mohamad Deny Irawan]
























